“Naratas”, Tutur Musik Kontemporer Sunda oleh Paras Bhuwana

“Naratas”, Tutur Musik Kontemporer Sunda oleh Paras Bhuwana

Paras Bhuwana rilis album konteporer berjudul “Naratas”. Foto : Paras Bhuwana

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor – Pada sebuah tepian, rasa nyaman hinggap menyelimuti raga dengan tiba-tiba. Seperti bentang alam yang menarik untuk disibak disela-sela perjalanan bersepeda. Saya tengah sendirian dan menikmati hembusannya. Mengagumi karya sang pencipta dalam bentuk alam raya, ditemani riungan nada-nada refleksi yang saya temukan bersama intro album “Naratas”. Album besutan kolektif seni budaya lokal Bogor bernama milik Paras Bhuwana.

Sejak disodorkan rentang nada perkumpulan budaya yang berdiam di Kampung Balandongan, Desa Ciherangpondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor itu, saya sengaja mencari waktu dan suasana yang tepat untuk menyimaknya. Seperti saat menemukan dataran bukit jalur Gunung Geulis dan menikmati pemandangan bentang Ciliwung berikut sempadannya.

Paras Bhuwana resmi merilis album perdananya yang berjudul “Naratas” pada tanggal 15 Februari 2020. Sebuah konsep album etnik yang kental nuansa sunda, berbalut pop kontemporer. Sebuah konsep dari dari sebutan ‘Naratas’ yang memiliki arti memelopori atau merintis. Sebuah konsep yang memiliki tujuan tercapainya nétés, nitis, nutus, dan notos. Jika secara filosofis dijabarkan, maka akan mencapai simpulan bahwa Paras Bhuwana sedang merintis suatu hal yang kelak dapat diwariskan atau “nétéskeun” kepada generasi mendatang. Selain mewariskan juga “menitiskan” kepada insan berbudaya agar tujuan “nutus” dapat disampaikan dengan sempurna sesuai target yang dituju atau “notos”.

Sebuah filosofi yang bermula dari niat baik, simbol kedekatan emosional para pengusung Paras Bhuwana yang menjadikan musik sebagai salah satu muara penggalian nilai-nilai budaya. Langkah preservasi budaya yang mulai tergerus, bahkan sebagiannya sudah hilang. Musik Paras Bhuwana bersanding apik dengan kegiatan riil yang mereka jalankan, baik itu penggalian sejarah, sosialisasi bahasa, aksara, busana dan etika melalui program SAMPURASUN (SAresehan Medar Pependeman URAng SUNda) yang diadakan secara tentatif, termasuk kegiatan sosial lainnya.

“Naratas” memuat 9 lagu andalan, yang dua di antaranya merupakan Hymne dan Mars perkumpulan Paras Bhuwana. Bergerak secara kontemporer dengan rangkaian musik etnik yang dibalut dengan nuansa modern, album ini lebih menonjolkan pesona klasik Sunda, sebagaimana termuat dalam lagu “Kawih Panggeuing” dan “Bulan Muntang”. Konsep musik yang dibuat untuk memudahkan penyerapan kalangan muda. Seperti halnya ungkapan Sunda, ya “Ngindung ka waktu mibapa ka jaman” yang dalam hal ini dapat dimaknai sebagai membalut tradisi dan budaya dengan pemikiran kekinian.

Dalam rilis yang diterima HujanMusik!, disebutkan bahwa melalui musik, Paras Bhuwana memilih men-sosialisasi-kan lirik-lirik lagu dengan khazanah lokal. Khazanah-khazanah yang dapat ditemukan dalam beberapa lirik, seperti dalam lagu “Éndén” yang memuat kata bagoy yang menjadi ciri khas tuturan orang Sukabumi. Ada juga frasa kagila keding dalam lagu berjudul “Balangsak”, yang merupakan ciri khas tuturan orang Kuningan, Jawa Barat. Untuk Bogor, secara gamblang sebutan Kecamatan dan Desa Megamendung diabadikan sebagai judul lagu “Megamendung”. Selain itu, dalam lagu “Kawih Panggeuing” terdapat kosakata bahasa Sunda Bogor yang sudah jarang dipakai dikarenakan mungkin orang Bogor mulai “gengsi” menggunakan dialek Bogor, karena dianggap “kasar”.

Tak hanya khazanah lokal, pesan luhur yang digali kelompok ini juga digubah menjadi lirik “Hymne”. Adalah Aa Eris Kidang Pasoendan yang berperan menempatkan lirik “Ngaharaja Ngahiji” yang artinya “Ngaji” agar mengenal Raja anu Hiji. Lagu-lagu lainnya ditulis oleh Sudrajat Majaita atau S. Rama Dimadja, yaitu “Mégamendung”, “Papastén”, “Éndén”, “Balangsak”, “Kawih Panggeuing”, “Bulan Muntang” dan “Mars Paras Bhuwana”.

Terdapat juga hal unik lainnya, yaitu pada lagu yang tidak diketahui penciptanya namun telah ada sejak zaman karuhun Sunda berjudul “Cingciripit”. Dimainkan dengan komposisi musik yang memadukan beberapa genre.

Komposisi musik dalam album “Naratas” digarap oleh Yusmansyah (Ayushman) sebagai composer dan arranger. Melalui tangan dinginnya-lah warna musik Sunda Bogor terdengar begitu berbeda.

Ada pula Christian sebagai engineer sekaligus berperan sebagai pengisi bass, lalu ada Suhendar Majaita memainkan suling, Ali Bahar memainkan violin dan arumba, Heru sebagai drummer merangkap pemain angklung, Angga Suwela (Mang Awa) sebagai pemain kendang, Dienal sebagai pemain kacapi, Jerry sebagai pemain gitar dan Alvi Maul sebagai pemain saxophone.

Untuk intrumen saron 1 dan karinding oleh Dian N, saron 2 dan gongti oleh Dawani, tamborin/bar chimes/simbal oleh Fattah. Sementara Vokal diisi oleh Yusmansyah, Ulfah Fauziah, Sudrajat Majaita, dan S. Hardiyanti sebagai backing vokalnya.

Proses produksi album dilakukan di Paras Bhuwana Studio, sementara untuk mixing dan mastering dilakukan di Hi_Land Production Cipayung.

Album ini juga memiliki video musik untuk lagu “Megamendung” yang bisa disimak di akun youtube Paras Bhuwana. Sedangkan rekaman fisik dalam bentuk CD peminat disarankan mengunjungi website Paras Bhuwana pada link berikut

….

One thought on ““Naratas”, Tutur Musik Kontemporer Sunda oleh Paras Bhuwana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *