Siap Tak Siap, Lemparan Grunge Not Yet Telah Mengemuka dalam Bentuk EP Debut

Siap Tak Siap, Lemparan Grunge Not Yet Telah Mengemuka dalam Bentuk EP Debut

Not Yet., kolektif grunge Bandung yang meluncur dengan EP debut dalam 5 lagu. Foto : dok.Not Yet.

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bandung – Nomor-nomor grunge itu terdengar ramai, dari satu lagu menuju lagu lainnya. Keramaian yang mengingatkan saya pada satu masa dimana rock mencoba berontak dari ranah kewajarannya. Gitar, kantin sekolah, baju flannel dan celana koyak tetiba menghampiri ingatan. Masa-masa membiarkan diri diantara tongkrongan, menepi menghampiri studio musik dengan antrian kolektif yang memainkan musik yang sama. Niirvana, Soundgarden, Alice in Chains, Stone Temple Pilots hingga Pearl Jam adalah keramaian yang terdengar dari luar studio.

Kini, dalam suasana berbeda, saya kembali mendapati keramaian grunge yang dimainkan unit grunge asal bandung, Not Yet. Bedanya kali ini saya menyimak nomor grunge mereka dari ujung meja kerja yang penuh tenggat kerjaan untuk dituntaskan.

Sebagai sebuah kolektif musik yang memilih grunge sebagai jalan hidup band, Not Yet terbilang cukup modal untuk mengarungi kerasnya kancah musik Indonesia. Tak ada modal yang layak dibuktikan selain karya, dan Not Yet mengawali debutnya dengan lima lagu yang mereka rangkum dalam EP perdana.

“Muslihat”, “Lagi”, “320”, “Matahari”, dan “Tergantung Tanah” adalah trek yang mereka rilis baik secara digital maupun fisik. Menyimak kelima nomor tersebut (kecuali “Matahari”) terdengar kasar dan begitu mentah dan liar. Sebuah kombinasi musik “90-an seperti Nirvana, Soundgarden, dan Rage Against the Machine, hingga post grunge yang menggejala setelahnya. Itu pun mereka akui sebagai referensi pengaruh bermusik, tercampur semua dalam Not Yet. Entah mereka sadar atau tidak, musik mereka secara keseluruhan kadang terdengar seperti Seringai yang tumbuh besar di Potlot.

Not Yet lahir dan terbentuk di Kota Bandung dengan motor penggerak yang kebanyakan merupakan perantau tulen. Egie (gitar/vokal), Krisno (bas/vokal utama), dan Variant (drum) sama-sama berasal dari Jawa Timur. Ketiganya dipertemukan oleh nakalnya pergaulan remaja menuju dewasa antar kampus di kota Kembang. Dari banyaknya ragam orang yang mereka temui, pilihan bermusik bersama orang-orang yang nyaman menyapa “Jancok” tampaknya sudah kodrat yang harus mereka jalani.

“Itu sebenarnya inspirasi dari ‘Tergantung Tanah’, kenapa kok di suatu pergaulan, kelompok-kelompok kecilnya isinya itu-itu lagi,” tulis Rian tentang tentang asal mula lagu andalan dalam Not Yet.

Menurutnya, seharusnya semua orang berteman tanpa memedulikan latar belakang itu dan hal-hal kecil lainnya.

Di awal tulisan ini disebutkan bahwa mereka sudah siap menempuh kerasnya persaingan musik. Namun, sempat ada ragu ketika melihat nama yang dipilih dan sampul EP-nya yang menempatkan gambar polos. Padahal jika menyimak latar belakang 2/3 personilnya menempuh Pendidikan seni rupa yang memiliki kesadaran visual lebih baik tentunya.

Entah ini representasi atau analogi, apapun yang terjadi toh tetap akan bergulir juga. Musik mereka akan disimak dengan muatan utama harmoni sound yang ditimbulkan. Siap tidak siap, EP mereka telah bergulir. Bahwa apa pun yang terjadi di mereka memang tidak akan pernah “selesai”.

Not Yet. dilepas melalui berbagai saluran (fisik maupun digital) sejak 31 Januari 2020 lalu.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *