Kisah Megah Album Perdana Monohero

Kisah Megah Album Perdana Monohero

Unit Elektronik Malang merilis album debut bertajuk “Awake”. Foto : Hanif Ardhika

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Malang – Tiupan peluit panjang mengawali perjalanan batin saya bersama kereta Gajayana. Bergerak perlahan, meninggalkan hiruk pikuk Desember bersama segala kerumitannya. Jendela kereta masih menjebak ekor mata, menangkap ujung stasiun Gambir yang semakin mengecil, sebelum akhirnya memusatkan konsentrasi untuk menikmati perjalanan menuju Malang.

Perjalanan itu mengurai pernik-pernik sisi psikedelik yang mendera beberapa saat lalu. Menempatkan gejolak batin yang berontak. Menuntut untuk dipuaskan dengan sekelumit perjalanan. Bisda jadi, berjalan ke Malang untuk seonggok urban buangan semacam saya seperti pelarian. Bisa tepat bisa tidak.

Lantas perasaan menempatkan saya bak monokrom visual yang ditebarkan Monohero. Spektrum warna galau yang berhasrat melengkapi diksi warna unit elektronik Malang yang lincah menempatkan diri sebagai gejolak audiovisual. Tak perlu ada pada semua karya pada album mereka yang bertajuk “Awake”, barangkali cukup untuk “Desember Jangan Menangis”.

Resmi merilis debut albumnya yang bertajuk Awake pada tanggal 2 Februari 2020. Monohero melaju dengan menyertakan 3 single yang telah dilepas sebelumnya, yaitu “Antah Berantah”, “Lonely”, dan “Desember Jangan Menangis”.

Melengkapi 10 track yang terdiri dari 6 lagu berlirik dan 4 komposisi instrumental, Awake menjadi sebuah album yang mempunyai benang merah pada konsep pengembaraan manusia. Saya percaya MF Wafy, Arie “Omen” dan Alfian “Kebeb” Roesman memiliki alasan menyampaikan jika kata “Awake”, yang bisa dibaca sebagai “awake” (bahasa Inggris) yang berarti “terbangun/tersadar”, sekaligus “awak’e” yang dalam bahasa Jawa berarti “Diri kita.”

Mohohero sepertinya sukses menerkam perjalanan gelap saya dengan musikal mereka. Merilis album musik elektronik yang penuh nuansa psychedelic & ambient yang kental. Album yang didominasi suasana gelap dan sendu dengan sedikit ornamen keceriaan di sekelilingnya.

“Aku juga baru sadar setelah selesai rekaman semua. Lhoh, ternyata gelap juga ya overall album ini. Meskipun ada trek-trek seperti ‘Ajna’ & ‘Muladhara’ yang agak mencerahkan suasana,” kata Wafy.

Dari 6 lagu berlirik di album ini, tercatat 5 di antaranya menggunakan bahasa Jawa. Omen mengakui hal ini disebabkan dirinya yang banyak terinspirasi oleh falsafah Jawa. “Semisal kayak lagu ‘Tulak Bala’. Semacam tembang tradisional masyarakat Jawa yang bermakna doa untuk menolak malapetaka.

“Beberapa lirik di dalam Awake seperti sebuah peringatan, terutama teruntuk diri saya sendiri. Kata per katanya didapat dari saduran sebuah kisah megah hingga hancurnya sebuah pikiran dan hati. Khayalan yang seolah-olah nyata, harapan yang seolah-olah tercapai, kemudian melupakan dan seolah-olah terlupakan. Sangat drama memang, bisa juga terlalu mendramatisir,” jelas Arie Omen, vokalis sekaligus penulis lirik unit ini.

Cukup terbaca jika sejak awal, mereka sudah mengurutkan materi-materi yang ada di album ini menjadi sebuah kesatuan. Dari trek pertama berjudul “Tulak Bala”, hingga ke trek terakhir berjudul “Antah Berantah”. Dari fase manusia berdoa, berjalan, bingung dan tersesat, berujung tercerahkan terjadi secara berurutan. Pun halnya sisi visual perjalanan yang dimoderatori Alfian “Beb” Roesman, supervisor visual Monohero.

“Setiap orang punya interpretasi sendiri terhadap album ini. Kadang kami butuh diskusi panjang buat menyatukan konsep musikal dan visual Monohero,” tutur Beb.

Dibantu oleh seorang penulis bernama Imarotul Izzah, dalam realisasi proyek ini Beb memberikan benang merah ceritanya untuk kemudian dikarang menjadi sebuah cerita. Cerita ini lalu diterjemahkan kembali ke dalam ilustrasi buatannya. Karya Beb dan Ima ini bisa didapatkan dalam setiap rilisan CD Awake.

Proses album ini memakan waktu yang cukup lama, yaitu 2 tahun. Sesi rekaman dilakukan di Monohero Studio, home studio milik Wafy dan juga Audionails Studio di kota Malang. Setelah selesai, semua materi tersebut kemudian mengalami proses mixing dan mastering oleh Navis Hamami (Audionails Studio) dan Wafy sendiri.

Monohero termasuk unit elektronik yang sibuk. Faktor live performance menjadi salah satu penyebab tertundanya album ini. Keputusan menunda panggung demi menuntaskan album ini dirilis, menjadi kesepakatan bijak ketiga personel.

Album dan Monohero menjadi pencapaian bak penyembuh dan pengingat berbagai keresahan. Pertemuan Omen, Wafy dan Kebeb yang terus bermusik, membuat lagu, tanpa terasa melahirkan warisan bermakna untuk skena musik Malang dan Nusantara. Perjalanan dengan Monohero adalah perjalanan menemukan diri mereka sendiri.

Rilisan teranyar trio ini sudah bisa dinikmati di berbagai gerai digital seperti Spotify, Apple Music, iTunes, dan banyak lainnya. Album ini juga tersedia dalam rilisan fisik berupa CD yang bisa dipesan dengan sistem pre-order mulai tanggal 4 hingga 14 Februrari 2020. CD ini tersedia dalam dua paket, Standard edition yang dibanderol seharga 75.000 Rupiah, dan Deluxe edition dijual dengan harga 180.000 Rupiah. Barongsai Records, label asal Malang yang pernah merilis Christabel Annora, Crimson Diary, hingga Beeswax akan bertanggung jawab dalam distribusi album ini.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *