Diorama Kemarahan dalam “Resistensi Musik Bejat” Fakecivil

Diorama Kemarahan dalam “Resistensi Musik Bejat” Fakecivil

Fakecivil, unit thrash metal Bekasi rilis album perdananya. Foto : Dewi Bonanza

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bekasi – Lontaran sound keras terdengar menghantam, menyentak penuh kegeraman dengan dominasi amarah berkelindan. Tak ada jeda demi menghela nafas, menghirup kelegaan kapitalistik dan negosiasi politik busuk. Menggerus kenyamanan dan membangkitkan kesadaran adanya kekangan kebebasan, memupuk kekesalan melempar keluhan dalam sebuah resistensi.

Tak ada waktu mengorek jejak latar apalagi moral. Distorsi kemarahan “Mental Negara Jajahan” secara lirik cukup jelas menjabarkan keberpihakan dan ditujukan kemana lemparan keluhan itu.

Demikianlah, Fakecivil dengan segala perlawanan musiknya yang membahana dengan merilis album perdana “Resistensi Musik Bejat”. Memuat delapan lagu simbol perlawanan atas pengekangan kebebasan. Direkam di tengah suhu panas politik. Saat intoleransi menguat, kriminalitas marak, aktivis dikriminalisasi polisi, dan tentara pukuli petani.

“Resistensi Musik Bejat” bak diorama yang merekam sejarah perjalanan satu abad negeri ini di dalam situasi politiknya yang represif. Buah merekam audio di dua studio, yakni EC3 Studio milik Fajar Satriatama, drummer dibalik musik Edane dan Godbless, dan Venom Studio milik Pipinx gitaris dari Straightout.

Serutan gitar Paulus Tandiarto bercampur gelontoran bass Dennis Destryawan dan pukulan drum Elham Arrazag, menjamu vokal Lody Andrian berikut distorsi gitarnya. Seperti mengenang masa remaja dengan topi plakat bertahtakan Anthrax, Megadeth, Slayer dan tentu saja, Metalica. Sebelum akhirnya saya mengenalinya sebagai thrash metal dengan tambahan Pantera, Kreator, Sodom dan lainnya.

Fakecivil tumbuh sebagai kolektif thrash metal yang dipertemukan dari kesamaan mereka yang gemar protes di ruang-ruang kelas SMA. Keempatnya sepakat untuk bermusik dengan subyek protes yang lebih luas, yakni kondisi sosial di sekitar yang semakin semrawut.

Nalar amatir saya sejurus kemudian melibatkan Seringai sebagai salah satu pengaruhnya. Nalar yang nyata-nyata dibantah.

“Konsep kami berbeda dengan Seringai, yang dalam liriknya menulis, ‘Tidak lagi punya keluhan dan hidupnya seolah liburan. Justru sebaliknya, kami memupuk kekesalan dan keluhan dalam Resistensi Musik Bejat,” ujar Dennis.

Pada awal tahun, Fakecivil lebih dulu merilis single Deranged Gunmen dan video Mental Negara Jajahan, sebagai peluru menuju peletupan album Resistensi Musik Bejat pada 1 Februari 2020. Tradisi album musik yang mereka kejar tak semata capaian musik saja, namun kepentingan pesan didalamnya yang perlu ditumbuhkan dan disebar secara luas.

Asal-usul musik Fakecivil melekat dengan konteksnya. Lahir dari kota industri yang sering dianggap pinggiran dalam artian sebenarnya. Fakecivil lahir di Bekasi, kota industri dengan kualitas udara jauh dari ideal di Indonesia. Kota kelas pekerja yang memiliki lebih dari 4.000 pabrik. Namun menorehkan angka 180.000 ribu orang menganggur. Sementara 7.000 lainnya mengais rezeki diseputar penampungan sampah Bantar Gebang.

Jejak Bekasi sebagai kampung halaman Fakecivil sekaligus meralat tulisan gegabah saya yang menyebut mereka adalah kolektif asal Jakarta. Bekasi menjadi ruang pembuka sekaligus motivasi yang menjadi alasan Fakecivil lahir. Muncul dari potret mimpi buruk ketimpangan sosial. Menciptakan beragam motif berandalan berseliweran yang tak segan menikam demi lima ribu rupiah. Lima tahun (2013-2017) angka kriminal di Bekasi mencapai 17.898. Tertinggi se-Jawa Barat.

Nuansa kehidupani sehari-hari yang jelas-jelas merefleksikan detik pertama Lody dan koleganya memegang alat musik. Nada yang keluar cenderung tidak ‘enak’, seperti pertanyaan yang tidak ada jawabannya. “Ini yang kemudian membuat musik Fakecivil jadi kasar, canggung, dan agresif,” tambah Lody.

Proses kreatif “Resistensi Musik Bejat” dibuat di sela-sela pemilihan kepala daerah Jakarta dan pemilihan presiden 2019. Ketika demokrasi menjadi bola panas yang mengoyak sendi keberagaman dan harmonisasi bertetangga. Sebagaimana “Mental Negara Jajahan” tercipta.

Bagi Fakecivil musik mereka berperan sebagai pelantar yang mampu mendisrupsi kesadaran masyarakat di tengah politik yang semakin represif. Di dalam lagu yang berjudul “Polishit”, Fakecivil menceritakan pengalaman buruk berjumpa pungutan liar, berikut masyarakat kecil terus ditindas.

“Kami perlu menyuarakan ini, demi Budi Pego, Munirwan, Sriwogo, dan para petani lain yang dikriminalisasi. Meski di panggung kecil skala 50 orang, teriakan itu akan kami gaungkan sampai penjuru negeri. Maka dari itu ada kata ‘Resistensi’ di dalam Resistensi Musik Bejat,” ujar Lody, sebagaimana rilis dari pihak band yang ditujukan pada HujanMusik!.

Kembali aktif pada tahun 2016, Fakecivil mengemban aliran thrash metal yang banyak dipengaruhi oleh Sepultura, Pantera dan Black Sabbath. Namun dalam aransemen musiknya banyak ditemukan artefak dari berbagai genre musik, mulai dari ketukan nakal ala band progressive rock Renaissance, hingga musik simplistik dan straight-forward punk ala The Clash.

Fakecivil berkolaborasi dengan sederetan musisi di dalam Resistensi Musik Bejat: Biman dari Rajasinga di lagu Terimplasi Oksigen, Rudi Dian eks-Jeruji di Deranged Gunmen, Pipinx dari Straightout di Revolution War, dan Atenx dari Panic Disorder di lagu Jack Out of the Hell.

Rilis pada Februari 2020, Fakecivil hanya mencetak album fisik “Resistensi Musik Bejat” dalam format cakram padat terbatas sebanyak 200 keping dan dijual dengan harga Rp 2.000 di bawah bendera Molotov Records. Sengaja merekal rilis kelewat murah sebgai bentuk sindiran atas minimnya apresiasi album fisik.

Band keras dengan perjuangan keras yang lantas melepas album protes dengan berbagai sisi kemarahan dan sindiran.

Tetaplah bersuara!.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *