Orbis Alius, Puzzle Terakhir Agresif Melankolis A Curious Voynich

Orbis Alius, Puzzle Terakhir Agresif Melankolis A Curious Voynich

A Curious Voynich, kolektif post hardcore agresif melankolis Bogor merilis mini album baru. Foto : dok.ACV

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor  – Pada suatu masa, diantara gulita malam saya tiba di Bogor melalui terminal Baranangsiang. Berangkat dari Kampung Rambutan Jakarta sebagai korban penipu tengik, saya datang dengan kerisauan. Malam mencekam dengan sambutan sekumpulan individu yang sama-sama lelah. Seniman, preman, kru armada dan penumpang keluyuran semacam saya, berbaur dan tenggelam dalam kelelahan masing-masing.

Status sebagai pelarian aktivis kacangan yang menyamar, sedikit banyak membantu mental untuk bangkit. Lalu bersualah saya dengan komunitas parkiran, bernyanyi, bercerita dan dibolehkan bermalam di ujung parkiran. Bahkan dilibatkan dalam aksi panggung jalur Bogor-UKI pulang-pergi. Kenangan diterima di lingkaran pergaulan terminal yang begitu membekas. Pelaku silih berganti, tersebar meneruskan takdir dan peran masing-masing.

Lantas kenangan pun berderak pada ingatan post hardcore lokal bernama A Curious Voynich.

Tak ada hubungannya memang, sebagai penulis kelas lokal nan amatir, usaha saya mengurai kenangan dari benang kusut, membawa ingatan ketika menemukan rilisan digital mereka di bandcamp, sekira 2013 silam.

Pengalaman menimang bebunyian dari kolektif yang baru melepas album terbarunya dengan tajuk “Orbius Alius: Season Two”, seperti mengajak untuk melaut, berlayar mengarungi kemasan musik yang mereka bawakan. A Curious Voynich (ACV) pada akhirnya menjadi band Bogor yang saya kenal kencang mewakili post-hardcore lokal, sesekali merangsak sebagai metallic hardcore, lantas tumbuh berbeda pada tiap-tiap tahapan karyanya.

Mini album terbaru A Curious Voynich yang dirilis pada 25 Desember 2019 lalu itu meluncur dalam format digital. Mini album yang merupakan kelanjutan dari maxi-single “Orbis Alius: Season One” yang dirilis tujuh bulan lalu di gelaran Record Store Day Indonesia 2019. Karya yang kemudian menjadi tonggak bahwa Seri Orbis Alius merupakan sebuah rilisan transisional A Curious Voynich dalam bermusik.

Vokalis Gustmar Helmy bersama Dito Buditrianto (Gitar/Vokal), Indra Julianto (Gitar), Rifal (Bass), dan Adith (Drums), berhasil membawa A Curious Voynich bertahan tetap pada scene hardcore/punk lokal. Sejak debut mini album “The Encryption Of Secret Messages” (2013) kemudian hiatus dan enam tahun berselang merampungkan dwilogi yang mereka bangun.

“Orbis Alius: Season Two” tetap tangguh mewakili warna musik A Curious Voynich sejak awal terbentuk. Jarak tujuh bulan dari Season One menjadi logika dasar mereka, bahwa tak ada kerumitan yang harus mereka lalui, karena semua mengalir runut pada sesi jamming saat mereka berproses.

“Agresivitas di mini album pertama masih kami terapkan seperti di lagu “Evil Come, Eil Go”, tapi dari segi warna dan pemilihan sound akan semakin meluas” tutur Dito.

Gitaris panggung dari Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi itu juga mengatakan bahwa perubahan dan transisi yang terjadi di dalam A Curious Voynich berjalan secara organik dalam jenjang waktu yang tidak begitu lama.

Ada kebaruan dan semangat untuk eksplorasi merupakan formula A Curious Voynich saat ini guna menghasilkan karya yang lebih relevan. Vokalis Gustmar mengakui bahwa memang akan terdengar melenceng, tapi kita memang sudah bersepakat untuk memperluas wilayah musical mereka.

Mini album “Orbis Alius: Season Two” berisi tiga buah lagu dangan mengintegrasikan musik post-hardcore dengan corak gitar bertekstur a la 90s indie rock, agresivitas alternative metal, etos serta semangat hardcore/punk, dan lirik yang banyak bercerita tentang perasaan kehilangan dan pertanyaan terhadap perasaan tersebut kepada diri sendiri.

Produksi mini album ini turut melibatkan Yos Bonar (Vokalis dan Gitaris Life Cicla/Good Enough) sebagai produser. Untuk proses rekaman dilakukan di Amplop Records Bogor pada bulan Agustus-November 2019. A Curious Voynich juga menggandeng Denis Heryanto Arham dari kolektif Gerakan Seni Rupa Bogor dan Nonplussed untuk mengerjakan artwork dari Orbis Alius Season Two. Tidak hanya itu, Rian Pelor (Rimauman Music) dan Pramedya Nataprawira (Agordi Club) juga didapuk untuk menulis liner notes bagi mini album kedua mereka ini.

ACV Artwork

“Usaha yang jelas pasti akan memancing reaksi dari pendengarnya, tapi paling tidak ini bisa menjadi platform eksperimen akan proses musikal selanjutnya dari A Curious Voynich sebagai band,” beber Rian Pelor.

Menurutnya ini akan menjadi misteri tersendiri. Suka atau tidak itu hanya masalah selera, tapi itu menjadi alasan yang cukup untuk penasaran bagaimana album penuh yang akan dirilis A Curious Voynich tahun depan.

“Ceruk eksplorasi terhadap karya musik memang sulit untuk ditemukan pangkalnya. Salah satu pembuktiannya dapat ditemukan di karya lanjutan milik A Curious Voynich, Orbis Alius: Season Two,” urai Pramedya Nataprawira

Baginya keberadaan album pendek berisikan tiga nomor bertajuk “Evil Come, Evil Go”, “Lonelyless”, dan “Highway” ini membangkitkan atmosfer post-hardcore, indie rock, hingga metalcore dalam perkembangannya di periode 90an.

Mendengarkan titipan koleksi lagu dalam Orbis Alius: Season Two, saya harus bersepakat dengan klaim bahwa kedua mini album terakhir mereka bak potongan puzzle yang menjadi transisi menuju perilisan album perdana mereka pada tahun 2020. Dua buah bagian bagian utuh dari dwilogi Orbis Alius yang berkesatuan. Ya, saya rasa A Curious Voynich tengah mengambil aba-aba untuk kembali siapkan diri, menyelami dua sisi berbeda dari A Curious Voynich melalui Orbis Alius, perjalanan transisional menuju dunia yang agresif dan melankolis.

Orbis Alius Season Two dirilis secara digital oleh Hujan! Rekords bertepatan dengan perayaan natal (25/12) dan bisa didengarkan atau diunduh melalui platform streaming musik seperti Spotify, Deezer, Joox, Apple Music, iTunes, dan Tidal.

….

2 thoughts on “Orbis Alius, Puzzle Terakhir Agresif Melankolis A Curious Voynich

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *