“Panmau”, Jalan Hozhayate Menuju Album Pertama

“Panmau”, Jalan Hozhayate Menuju Album Pertama

Hozhayate, kolektif SonicPop-Rock Pangkalpinang. Mereka meluncurkan karya perdana bertajuk “Panmau”. Foto : dok.Hozhayate

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Pangkalpinang  – Tumpukan sampah memenuhi pandangan mata, menggenapi kegundahan nyata tentang bagian nusantara yang koyak. Sejenis sampah sisa produksi manusia yang tak mau membersamainya, namun kuat kuasa mencipta tanpa pertimbangan masa depan generasi setelahnya. Kontras dengan warna-warni empat pria yang tampak hidup dengan mainan SonicPop-Rock mereka.

Kumpulan orang diantara buangan itu menamakan dirinya Hozhayate, pengusung SonicPop-Rock tangguh asal Pangkalpinang, Bangka. Kota tertera dalam peta yang masuk bagian dari Sumatera. Mereka memunculkan kegelisahan citra buruk yang diwujudkan dalam karya terbarunya dengan tajuk “Panmau”.

Sebuah lagu yang dicipta pada Juli 2019, lantas direkam di Ruang ImaGiner Pangkalpinang medio Agustus 2019. Bertutur seputar pergunjingan citra buruk panti asuhan yang kabar suarnya menjalar sejak dari mulut kemulut hingga media maintream. Kisah yang menjadi momok mengerikan, membayangkan mereka yang terbunuh dengan beberapa orang lainnya diorganisir untuk dijadikan materi. Entah itu fitnah atau fakta, kenyataannya pergunjingan itu kian dipercaya. Dalam hal ini Hozhayate mencoba menceritakannya melalui musik dan video.

Hozhayate sejatinya skenario proyek musik Dendy Revolusi (Hollywood Nobody) yang bermain gitar dan menyandang gelar vokalis, dengan Febidwitama (TRINOTS) pada Drum/vokal. Kolaborasi mereka didukung pemain biola bernama Dhani Rahman yang juga bertanggung jawab urusan sonicsound. Sementara pendukung bass dipercayakan pada Gezti.

“Panmau” adalah jalan pertama Hozhayate menuju album pertama. Mereka memang tengah mempersiapkan album ‘from hoz to hayate’. Enam lagu sedang diproses untuk direkam, diantaranya “Dance”, “Everybody Make Mistakes”,”Remaining Song”, “Mylgia”, “Perkara” dan satu lagu pamungkas.

“Semua proses kreatif kami kerjakan bersama-sama dengan local heroes Pangkalpinang sang aliansi birubindam, serta proses mixing dibantu gitaris Terapi Urine, Joe the asoy,” tulis pihak band.

Harus saya akui, musik Hozhayate memang sukses merangsang penggerak kota amatiran semacam saya untuk turut berbaur dengan karya. Paling tidak pesan kreatif untuk kotanya itu bisa mendorong kolega musik kota tercintanya berkarya lebih banyak dalam musik.

“Bosan nonton reguleran café tiap minggu disini. Kami jarang nonton live musik yang punya karya disini. Ya berarti harus mulai dari kita sendiri” tambahnya.

“Panmau” dan Hozhayate adalah dua sisi mata uang yang saling berkaitan dengan nilai didalamnya. Keduanya mewakili semangat muncul dengan kebanggaan lokalnya masing-masing.

Semoga semakin dimudahkan kedepannya. Konsisten hingga album pertama tiba.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *