Bantingan Gitar dan Tanda Kelahiran Jabogar

Bantingan Gitar dan Tanda Kelahiran Jabogar

Artwork JABOGAR

Artikel : Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bogor  – Euforia reinkarnasi band-band lawas Bogor merasuki saya di penghujung tahun 2019. Salah satu yang begitu menyedot perhatian adalah kabar tentang mantan pentolan The Jakasembung yang membentuk kolektif baru bernama Jabogar. Sepanjang bulan Desember yang sangat basah, Bepe Putra Hutabarat atau lebih akrab dipanggil Bepe rajin mengunggah segala sesuatu yang berkorelasi dengan proyek anyarnya. Nama Jabogar sendiri mengingatkan pada serial fantasi era 90an.

Berdasarkan bisikan-bisikan yang dibawa angin, Jabogar memilih Hardrock sebagai arena pelampiasan ide bermusik yang membuncah. Meski buat saya Rock and Roll nya masih kuat dengan secuil rasa Van Hallen bergumul dengan gaya The Flowers, dua band rock (and roll) yang besar di era 80-90an. Hal ini diamini sekaligus diluruskan oleh Bepe kalau racikan musik ‘Bucin’ lebih terinspirasi AC/DC. Tapi ke depannya mereka berniat lebih mengeksplor musik Jabogar hingga bertemu sesuatu yang akan menjadi ciri.

Tidak perlu waktu lama untuk mereka dalam menghasilkan karya. Tanpa banyak drama lahirlah ‘Bucin’, single pertama yang sepertinya menyesuaikan dengan jaman. Langkah cerdas terkait upaya menarik perhatian generasi Z. Lebih dalam lagi ‘Bucin’ bercerita tentang pernyataan cinta seorang lelaki tanpa harus menye-menye atau cengeng.

Jabogar diisi oleh Putra aka Bepe pada vokal, Heru Maulana pencabik gitar, Reka membelai bass, dan Tan Chebok sebagai penabuh drum. Manusia-manusia yang saya yakin ajaib karena dipilih oleh Bepe. Nama Jabogar sendiri merupakan akronim ‘Jagoan Bogor Garink’, merujuk pada kelakuan Bepe di panggung yang jahil dan senang bercanda tapi ‘garink’ alias tidak lucu. Itulah Bepe, meski mengklaim dirinya kini lebih kalem tapi ke-ngehe-an itu belum pudar.

Liarnya Jabogar sebagai kolektif penghibur mendapat ujian yang pas saat panggung Bogor Clothing Fest memanggil mereka. Dengan gencarnya pergerakan promo yang dilakukan internal Jabogar, memantik harapan penikmat musik kota hujan guna mendapatkan sesuatu yang segar. Dan angan itu dijawab dengan penuh gaya oleh Heru dan kolega. Terlepas dari pendapat Buluk (Superglad & Kausa) yang mengatakan tidak adanya perbedaan antara bagian-bagian lagu ‘Bucin’, aksi panggung para mantan berandalan ini sukses menancapkan panji Jabogar di kepala penikmat dan pemerhati musik. Puncaknya adalah ketika Bepe membanting gitar yang dimainkannya saat itu. Sebuah aksi klasik yang menjelma menjadi pernyataan sikap dan tanda lahirnya grup musik baru bernama Jabogar.

Soal meramu musik rasanya tiap individu Jabogar sudah fasih dan tahu apa yang harus dilakukan. Namun ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Jabogar terutama Bepe yaitu meninggalkan image sebagai The Jakasembung yang kadung melekat pada dirinya.

Langit di kaki gunung salak mulai menggelap. Bukan diselimuti jubah kelam angkasa malam melainkan hujan bersiap membasahi hari terakhir di tahun 2019. Namun, di balik redupnya sang mentari ada senyum merekah menyambut era baru dan menyeruaknya jagoan-jagoan ganteng Jabogar.

….

One thought on “Bantingan Gitar dan Tanda Kelahiran Jabogar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *