Teriring Harap dan Tuah, Hursa Tutup Tahun dengan Album Perdana

Teriring Harap dan Tuah, Hursa Tutup Tahun dengan Album Perdana

 

Hursa, alternative pop Jakarta yang menutup tahun dengan album perdana. Foto : dok.Hursa

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta  – Kelabu datang seketika, pendar langit yang melipir tak mampu menghapus segenap kesedihan satir. Membelah belantara kering kepedualian yang sudah berbulan-bulan menanti hujan kebaikan. Malam itu, dalam kesendirian, saya tengah merenungkan perihal pertikaian absurd atas nama candu. Merebak tak berkesudahan tanpa pedulikan kenangan bahwa masing-masing telah berkawan sejak masa kecil. Sesuatu yang seharusnya membuat lebih bijak. Bahwa memupuk harapan dan mengamalkan petuah itu lebih penting, sebagai pengingat dan panduan untuk generasi setelah mereka.

Lantas teringatlah gaung alternative pop Jakarta bernama Hursa. Gaung yang melintas bersama penggalan lirik : “menuntun sikap, layangkan asih. Teriring harap dan tuah, semoga bijak melangkah”. Penggalan yang lirik single “Harap dan Tuah” dari album yang berjudul sama.

Melalui “Harap dan Tuah” Hursa seperti tengah menunjukkan tuntunan dan refleksi dalam menjalani hidup dengan positif. Rajutan yang melengkapi pesan-pesan pada dua single sebelum album. Yaitu “Ruai dan “Makna Masa”.

Debut album penutup tahun itu telah rilis sejak 30 Oktober 2019. Serentak ditebar pada seluruh platform musik digital yang ada. “Harap dan Tuah” seperti sebuah kalimat yang paling mewakili curahan yang hendak disampaikan. Mewakili kata ‘harapan’ dan ‘petuah’ yang digambarkan bagi diri sendiri atau orang lain.

Begitulah Hursa, sebuah rumah tempat berkumpulnya kreasi musik Gala Yudhatama(vokal, keyboard), Pandji Akbar Kautsar (gitar), Irvan Camily (synth, synth bass) dan Yoseph Goldy (drum). Nama Hursa yang dipinang dari sebuah buku puisi, penyemangat untuk berpacu lebih cepat. Berangkat dari filosofi mimpi untuk bisa terus berlari ke arah yang lebih baik. Berlari bersama karya segar dan sumbangsih untuk musik tanah air.

Hursa sengaja dilahirkan dengan konsep beda dengan yang sudah-sudah. Mencipta karya yang tak umum namun tetap bersahabat ditelinga. Termasuk memilih formasi tanpa bass dan vokal merangkap bermain keyboard.

Album “Harap dan Tuah” memuat delapan buah lagu yang keseluruhan materi direkam di ALS Studio, Rempoa Jakarta, oleh Wendi Arintyo dan Refo Ramadhan. “Ruai”, “Teduh Bahagia”, “Harap dan Tuah”, “Makna Masa”, “Hantam Belakang, “Bersumarah”, “Adiksi” dan “Memulihkan” ditulis dengan lirik dalam penuh makna. Bergulir dengan birama yang unik penuh ketukan ganjil yang terdengar liris. Ketukan yang saya pahami sebagai kesempurnaan yang genap.

Berbalut komposisi musik dengan seperti ritme yang berubah-ubah, sejak nada dasar menuju bagan verse, hingga bagan chorus-nya yang tak lepas dari perhatian. Termasuk balutan vokal yang diberi efek, menambah mood lagu yang terdengar agresif bersemangat.

Tuntas menyimak karya-karya Hursa, saya pun memilih bersepakat.

Teriring harap dan tuah, semoga bijak melangkah.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *