Letupan Heavy Rock Stinghaze Demi “Intrik”

Letupan Heavy Rock Stinghaze Demi “Intrik”

 

Stinghaze, kolektif enerjik asal Jabodetabek, menyajikan heavy Rock cepat. Foto : dok.Stinghaze

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta  – Gambar bergerak tengah menayangkan cuplikan video aksi massa pertengahan tahun silam. Hitam-putih mendominasi dua kubu, tak jelas mana yang konkrit dan mana yang satir, semu dengan balutan kekalutan yang nyata. Cukup jelas untuk mengarahkan telunjuk bahwa cuplikan video dengan iringan lirik “Intrik” memang sengaja disiapkan kolektif heavy rock Jakarta, Stinghaze, sebagai media suara sosial di sekitar mereka. Sound tebal yang diperdengarkan sejak awal, mengingatkan keriuhan Jimmy Hendrix, Led Zeppelin, Black Sabbath bahkan Deep Purple sekalipun.

Dominasi heavy rock bawaan dari nama-nama tersebut diatas memang diakui cukup mempengaruhi Panji (vokal), Yoga (gitar), Rei (gitar) Fikar (bass), dan juga Risky (additional drum). Bahkan sejak former personil semacam Farhan, Bowo dan Nisfhi bergabung. Semangat heavy rock “Intrik” yang menyalak sebagaimana single pertama “Distorsi” dan single kedua “Genosida” rilis diruang pemutar musik digital.

Hiruk-pikuk Jakarta mempertemukan kolektif Stinghaze pada muaranya per April 2017. Penamaan mereka berasal dari kata ‘Sting’ yaitu Dosting (Dosis Tinggi) dan ‘Haze’ diambil dari lagu Jimmy Hendrix berjudul Purple Haze. Sejak disusun, Stinghaze memang sudah memilih terjangkiti heavy rock 70an, ditingkahi cerita dan pesan tersirat bagi pendengarnya yang mungkin memiliki perasaan sama terhadap isu sosial.

“Intrik” merupakan single ke 3 Stinghaze yang dibuat berdasarkan asumsi semata. Meng-capture prosesi “Pemilihan Presiden 2019” yang mengoyak sendi-sendi pertengkaran atas nama golongan. Panji sebagai penulis lirik sekaligus vokalis, sekedar berimajinasi yang didasarkan pada kerjadian-kejadian pemilihan presiden pada 2014 silam. Perebutan tahta nusantara yang memisahkan warga negara menjadi dua kubu. Para personil Stinghaze sendiri juga merasa dikejutkan dengan kerusuhan dan kekacauan yang terjadi di depan kantor Lembaga pengawas penyelenggaraan PEMILU pada 22-23 Mei lalu. Dari situ, Panji sebagai penulis lirik merasa seperti menyaksikan mimpi yang menjadi kenyataan pada lagu ini.

Momentum perilisan single “Intrik” sejak 30 Juli 2019 memang berjarak dengan kejadian Mei. Namun dengan adanya kejadian itu, Stinghaze sendiri berharap lagu ini menjadi pengingat peristiwa perpecahan yang tak perlu diulang kedepannya.

“Intrik” direkam di Apache Music Studio, Bekasi. Prosesnya terbilang cepat, hanya memakan waktu kurang dari 24 jam, itupun sudah termasuk jeda rehat. Musababnya materi sudah rampung jauh sebelum jadwal rekaman. Proses cepat yang menekan dengan improvisasi untuk penyempurnaan lagu. Mulai dari proses mengambil suara bass oleh personil baru yaitu Fikar, lantas munculnya ide-ide baru untuk lagu berikutnya. Kunjungan kolega hingga senda gurau terjadi hampir setiap proses merekam.

Rencananya hasil rekaman Stinghaze yang sudah-sudah akan dilanjutkan dengan dua materi baru, lantas dibungkus untuk melengkapi mini album yang rencananya rilis tahun ini…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *