Konklusi Spesifik The Broto dalam “Vereenigde Oostindische Chaos”

Konklusi Spesifik The Broto dalam “Vereenigde Oostindische Chaos”

 

The Broto, rock n roll Jakarta dalam penantian album penuh 2020. Foto : dok.The Broto

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Jakarta –Distorsi terdengar mendominasi, memenuhi ruang dengar yang sejatinya memerlukan kesegaran. Lalu lalang kesibukan yang tak henti-hentinya singgah seperti memaksa langkah untuk memahami, bahwa setiap jengkal rupiah yang diburu senantiasa berkawan dengan peluh . Raungan tenor kasar membahana dari pemutar musik digital, tampilan visual hanya menunjukkan sampul single yang memberi tanda bahwa saya sedang Bersama rock n roll liar bernama The Broto.

Kartoadisoebroto, yang biasa disingkat The Broto, mengabarkan bahwa mereka memiliki single anyar bertajuk “Vereenigde Oostindische Chaos” yang mereka rilis secara digital pada 17 Agustus 2019 silam. Rilisan hiburan setelah gagal merekam dan produksi album penuh tahun ini. Single anyar selepas “Doom Rock n’ Roll” di awal 2019. “Vereenigde Oostindische Chaos” disiapkan sebagai menu utama menatap album penuh tahun depan.

The Broto merupakan kesegaran kekinian di kancah musik keras independen Indonesia. Merasuk sejak dibentuk pada 2015 oleh beberapa mahasiswa Universitas Indonesia, tumbuh dengan dinamikan pergantian personil sana-sini. Puncaknya per Agustus 2019 mereka mengumumkan bakal vakum secara band karena tuntutan pendidikan: sang vocalist harus melanjutkan studi di Amsterdam, Belanda dan sang rhytm guitarist harus kembali ke kampusnya di Chelyabinsk, Russia.

Single “Vereenigde Oostindische Chaos” disajikan secara ugal-ugalan, tidak murni bersih layaknya stoner rock, tidak secepat thrash metal. Namun, unsur doom yang sludgy tetap disugukan sebagai breakdown disekujur lagu. Sebuah single pembuktian bangkitnya musik keras nusantara yang penuh perjuangan nan fluktuatif. Menjaring pendengar muda rock/metal/punk yang belakangan hanya menampilkan itu-itu saja. Lantas mencari ruang untuk kebebasan generasi mereka sendiri.

Modal motivasi yang cukup bagi pemilik mini album “Self Titled” yang dirilis tahun 2018 itu. Kolektif besutan Boby Yurismono (gitar), Fathur Ichwan Satya (drum), Rianto Bagus (bass), Syabika “Abi” Muhammad (vokal) dan Erdino Mahardian (gitar) memilih menguatkan tali silaturahmi antar pegiat musik keras di ruang lingkup mereka dengan cara mengartefakan karya bersama dalam bentuk kaset kompilasi dari delapan band yang tersebar antara Jakarta – Bandung. Bahkan keuntungan dari penjualan kaset pita edisi terbatas yang hanya tersedia sejumlah 40 keping tersebut kemudian didonasikan melalui Sahabat Veteran dalam rangka amal dan bukti nyata musik sebagai pembawa perubahan.

Dirilis atas nama Lifemocker Records, The Broto juga berusaha menguatkan yang telah dirilis beberapa hari silam sebagai sebuah karya repetisi jeritan dari sejarah kelam dibawah kongsi dagang VOC/ Vereenigde Oostindische Compagnie. Menggali makna positif akan satu konklusi spesifik. Bangsa Indonesia dengan ragam suku, ras, golongan dan agama mampu menyatukan perbedaan dalam kesamaan nasib buruk dan bangkit bersama untuk melawan musuh bersama (penjajah). Pilihan lagu yang konteks pada jaman dimana ribut beda pilihan dan golongan menjadi maklum.

Beberapa bagian “Vereenigde Oostindische Chaos” terselip sampling suara sirine dan lagu “Indonesia Raya” yang dinyanyikan oleh Han Grijzenhout, seorang veteran perang Belanda yang mengaku meminta maaf karena telah menjajah bumi Nusantara, yang penyesalannya dirangkum oleh Marjolein van Pagee (terjemahan oleh Ady Setyawan, 2013).

“Vereenigde Oostindische Chaos” tersedia secara digital di Spotify, iTunes, Deezer, Saavn, Amazon, Tidal, Pandora, Napster, iHeartRadio, ClaroMusica, MediaNet, Apple Music, Bandcamp dan 150 media lainnya…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *