Narasi dan Tantangan Rock 70an Black Horses dalam Dua Karya

Narasi dan Tantangan Rock 70an Black Horses dalam Dua Karya

 

Artikel : Anggitane

 

[HujanMusik!], Jakarta  – Getaran rock menjalar memenuhi ruang dengar, menyalak dan menghardik siapa saja yang mengusik. Tak peduli masa, getaran itu seperti tak habis-habisnya berputar meski pertunjukan musik EDM, Lo-fi, Hip-hop dan sejenisnya sedang ramai-ramainya. Ketika talenta-talenta baru dengan modal samples, fitur quantize, dan laptop bermunculan, rock classic seperti menyeleksi peminatnya. Musik yang dimainkan dan direkam dengan instrumen asli, aksi panggung soulfull yang membakar dan jujur tanpa sequencer, mentahbiskan persona rock n roll tanpa terlihat kampungan cum dipaksakan. Aksi panggung membara yang coba dipertontonkan kolektif pengusung rock classic 70an, Black Horse.

Setidaknya ada upaya konkrit membangkitkan kembali esensi musik rock, dan Black Horses pun merilis single debut bertajuk “Martyr” yang kental nuansa rock 70an, sound murni nan gahar tanpa samples, lirik yang jujur dari keresahan yang dialami tiap individu, dan skill tiap personil yang mengagumkan.

Black Horses dengan amunisi Rafi (vokal), Kevin (gitar), Lucky (bass), dan Jul (drum) mengklaim sudah bermain musik dan menciptakan lagu sejak tahun 2015 awal. Atas nama kecintaan pada musik, mereka dipertemukan dengan visi misi yang sama.

Penamaan Black Horses dipilih dengan inspirasi kisah Four Horsemen of Apocalypse yang menganalogikan tiap personilnya. Dari jamming ke jamming lantas terciptalah lagu dengan bonus panggung sana-sini. Hingga akhirnya single debut “Martyr” dirilis label Splectrum Records. Single “Martyr” direkam di garasi Black Horses yang berlokasi di daerah Kemang untuk menyuguhkan sound raw yang jujur. Single “Martyr” mixing langsung oleh Kevin sang gitaris dan proses mastering dikerjakan oleh Pandji Dharma di Palm House Studio. Untuk mengejar sound yang lebih vintage, single “Martyr” juga menggunakan Tape Machine Studer A827 pada tahap mastering.

“Martyr” yang sengaja dibiarkan multipretasi ini sebenarnya menceritakan tentang idealisme tiap manusia yang harus tetap dipegang teguh tanpa memperdulikan bisikan “setan” yang tidak sejalan. Apapun itu idealisme maupun kepercayaannya, suara tiap instrument yang dimainkan dan direkam langsung oleh tiap personil dan tidak di quantize. Proses yang memberikan rasa jujur di telinga pendengarnya. Vokal kasar Rafi cenderung tinggi, berpacu meningkahi isian gitar Kevin yang menyayat dengan didominasi slide. Petikan bass Papi yang warm nan punchy, menambah tebal dentuman drum Jul yang menggema. Paduan yang bisa menjadi salah satu jalan mendengarkan kembali era dimana musik rock 70an yang sesungguhnya bertebaran. Penulisan lirik dalam bahasa Inggris sengaja dilakukan agar semangatnya bisa dinikmati oleh seluruh dunia.

Tak cukup satu single, kurun waktu tak lama setelahnya Black Horses melempar single kedua “Mr. Glass”. Pembuktian lantang dari Black Horses, tentang narasi musik rock terdengar. Pada single kedua Black Horses masih mempertahankan proses produksi yang seanalog mungkin tanpa menggunakan fitur-fitur yang menghilangkan esensi musik itu sendiri, seperti metode Glyn Johns saat rekaman drum, teknik mixing yang vintage, dan proses mastering secara analog yang masih mengandalkan Pandji Dharma di Palmhouse Studio.

“Mr. Glass” menceritakan tentang midlife crisis yang hampir setiap insan pernah atau akan mengalaminya. Tentang sulitnya menentukan pilihan hidup, dan problematika yang dihadapi saat menjalaninya. “Mr. Glass” diaransemen dengan cukup progresif, Lick blues rock yang catchy, bassline yang variatif namun tetap menjaga ritmik lagu, ditutup alunan drum yang tidak biasa dengan teriakan musikal yang kuat.

Single Mr.Glass sengaja dirilis tanpa aba-aba sebelumnya untuk menghindari spoiler bagi para pendengar dalam upaya melantangkan bagaimana musik rock harusnya terdengar.

Single “Martyr” dan “Mr. Glass” sudah dapat didengarkan secara streaming di Spotify, iTunes, Amazon, Tidal, Pandora dan lain sebagainya. Jika Single debut “Martyr” hanyalah teaser dalam kebangkitan rock era 70an, maka “Mr.Glass” merupakan single terakhir dari Black Horses sebelum akhirnya melepas album penuh akhir tahun.

Kita tunggu tantangan rock-nya….

One thought on “Narasi dan Tantangan Rock 70an Black Horses dalam Dua Karya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *