“Menit Terakhir” dalam 10 Tahun Roxx Romantixx

“Menit Terakhir” dalam 10 Tahun Roxx Romantixx

Roxx Romantixx, rilis ulang karya merayakan 10 tahun berkarya. Foto : dok.Roxx Romantixx

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Cilacap – Pendaran cahaya memoles mata, membuka percakapan visual antara talent dan manusia dibelakang kamera. Tutur lirih dialog tunggal mengawali percakapan musik Roxx Romantixx dengan seniman pelukis wajah, Albertus Papiek. Lantas meluncurlah koneksi kemasan lagu yang utuh, berikut suara Azka Rocket Rockers yang berkolaborasi untuk rilis ulang single “Menit Terakhir”.

Konsep musik kolaborasi itu menandai kembalinya unit pop punk Cilacap, Roxx Romantixx dari masa hiatus beberapa tahun terakhir. Aji Wicaksono (gitar dan vokal), Anggih “Aank” Putra (gitar), Yanuadi Unggun (bas), dan Pramuda Dwi Jatmiko (dram) didera kevakuman karena masalah domisili diantara keempatnya.

Sebenarnya, “Menit Terakhir” sudah beredar di kanal udara pada 2016 lalu. Meski demikian ada pembeda dengan versi kolaborasi yang baru rilis.

“Kami rekam ulang materinya dan kali ini berkolaborasi dengan Aska, gitaris dan vokalis Rocket Rockers. Dalam lagu itu, Aska memiliki porsi untuk mengisi vokal pada sebagian lagu, mengingat posisinya di Rocket Rockers adalah sebagai gitaris dan vokalis,” ujar Yanu pada Hujanmusik!.

“Menit Terakhir” direkam Azka dan Roxx Romantixx di studio rumahan milik Roxx Romantixx di Cilacap. Karya kolaborasi yang juga menandai 10 tahun Roxx Romantixx berkarya.

“Menit Terakhir” dipilih bukan tanpa alasan, suatu waktu drummer Pramuda Dwi Jatmiko sempat bertemu dengan Aska dan memperdengarkan ‘Menit Terakhir’. Aska langsung suka, minta dokumen mentahnya, dan pengin ikut nyanyi di lagu itu.

“Makanya kami rekam ulang. Ya, jadi satu motivasi dan kebanggaan tersendiri,” jelas Aji.

Tidak hanya sebatas membungkus versi audionya, “Menit Terakhir” juga dirilis dalam bentuk video. Roxx Romantixx bekerja sama dengan Albertus Papiek (56), pelukis media kain sutra yang berdomisili di Yogyakarta.

“Kami pilih jadi model untuk video ini karena ada kecintaan yang tumbuh dari dalam diri beliau. Beliau bilang bahwa rasa terhadap seni (lukis) akan tetap ada di hatinya dan hal itu membuatnya untuk terus melukis sampai menit terakhir dalam hidupnya,” beber Pram.

“Menit Terakhir” memang bersirat tema-tema cinta, tetapi dalam lingkup yang universal. Cerita perihal seseorang yang ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan, walaupun hanya dalam waktu sesaat.

10 tahun hanyalah penanda, konsistensi-lah yang akan menjadi penentu publik menilai karya-karya kedepannya.

Jadi, teruslah berkarya…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *