Diantara Musik Bahagia Bersama Vespa

Diantara Musik Bahagia Bersama Vespa

Kaulamuda Randangfara, reggae Bogor Barat yang meramaikan acara Bogor Scooter Cucurak. Foto : @pribadibagus

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Raungan mesin kanan karya otomotif besutan Enrico Piaggio dan rekannya D’Ascabio, seorang insinyur penerbangan, terdengar membahana. Suaranya yang terdengar khas tampak meningkahi hujan menjelang petang. Satu-persatu kendaraan yang memulai sejarahnya dengan diproduksi massal pada April 1946 di Pontedera Italia itu berkerumun memenuhi halaman Gedung Wanita di Kota Bogor, sebuah lokasi yang dikenal dengan kawasan Bogor Permai yang pada masanya ‘pernah’ ramai oleh geliat skena musik kota.

Hari itu, Jumat 26 April 2019 kolektif Forum Komunikasi Vespa Bogor memang sedang punya hajat dalam bentuk pertunjukan musik, aksi donasi, kopi darat komunitas dan klub vespa, lelang spare part dan fun game dalam format acara “Bogor Scooter Cucurak”.

Dari kejauhan MC Laura sibuk mengabsen daftar komunitas yang bakal hadir hingga puncak acara. Sementara saya dan beberapa kolega sudah dibelakang venue acara, sibuk tegur sapa dengan sahabat lama yang baru bersua. Hari itu seragam kami nyaris mirip, baju santai menuju butut, lusuh dan sedikit basah. Sementara alunan musik kuat terdengar menghentak.

Entah apa sebutannya jika saja Enrico Piaggio tak melepas kalimat “sambra una vespa” untuk mendeskripsikan karya ciptaannya. Kalimat dalam Bahasa Italia yang artinya seperti lebah/tawon. Kalimat yang diterjemahkan pemilik unitnya dengan jiwa bebas dengan tautan kekerabatan yang tinggi. Bahkan nuansa itu tetep terjaga hingga 73 tahun sejak Vespa tercipta.

Simak! : Patepangsono#2 : Musik, Vespa dan Jabat Erat Bersaudara

Menjelang malam suasana parkiran Bogor permai kian memadat, saya berikut pemain drum Delly Tambunan, gitaris Suryana ‘Ncunk” Ramadhan dan pemain bass Chandra a.k.a Babon baru menyudahi pertunjukan proyek ska-reggae kami, The Partikelir. Individu dalam baju pribadi dan komunitas tak henti-henti merapat. Tak ada yang tak ceria, semua bergelak tawa dalam nada canda. Begitulah, musik dan mesin tua memang menyatukan pengendara dari Bogor kota dan kabupaten, Depok, Jakarta, Bali, Semarang, Bekasi, Sukabumi hingga pengendara dari Berlin yang singgah ke acara.

Bumbu solidaritas dan kebersamaan bukan kecap bibir semata. Mereka membuktikan dengan santunan anak yatim dan penggalangan donasi untuk kerabat mereka yang tengah berusaha mencari dana untuk operasi medis anaknya.

Panggung musik kian riuh dengan kehadiran musik penyemangat sejak Xadane band, Borneo, Sky Way, The Partikelir dan Saung Rasta. Hingga Republik MKH, Jogjog Reggae, D’Gits dan Babybooska. Sementara CSR, Brother John, Andreas Feat Petani Singkong dan Black N Banana meneruskan langsam hingga notasi puncak. Lantas massa damai semakin dipuaskan dengan Kaulamuda Randangfara, Vespunk dan Oncom Hideung.

Tiga nama terakhir menjadi jaminan keriuhan setiap penyelenggaraan acara Vespa. Tak hanya musik-nya, rata-rata personilnya menjalankan kehidupan sebagai pengendara Vespa dan motor tua. Kaulamuda Randangfara (KMR) adalah unit musik Jamaican sound yang dimotori Adit, Ame, Aziz, Paqot, Henda, Akiv dan Piter, sebagian personilnya adalah aktivis Kaula Muda Vespa Club (KMVC) Bogor Barat.

Sementara Vespunk adalah kolektif pengusung punk asal Jakarta yang lahir dari forum komunikasi persaudaraan penggemar skuter sebuah produk telekomunikasi dan aktif sejak 2012. Wawah (vokal), Ledu (gitar), Matto (gitar), Fahri (drum), dan Farre (bass) memilih menggabungkan nama Vespa dan Punk untuk memberi pesan-pesan positif kepada para pendengar 11 lagu mereka dalam album “United Souls”.

Terakhir adalah nama Oncom Hideung yang legendaris. Pemilik album “Jangan Berhenti Bermimpi” ini selalu ramai dipadati aksi panggungnya. Apalagi jika Coim, Otong, Kobex, Dikdik, juga Emon melantunkan “Motor Tua” dan “Bunder”. Musik balada atau folk mereka memang selalu jadi ciri khas.

Simak! : Oncom Hideung Diantara Manifestasi Rajutan Mimpi

Vespa dan musik ska-reggae memang tak bisa dipisahkan, seperti halnya motor dan rock n roll. Meski bukan syarat utama, warna musik itu tak pernah pisah dengan gelaran acara Vespa di Indonesia. Semacam meneruskan tradisi gaya anak muda London era 1950an dengan ciri Vespa, fashion dan musik Ska, meski tak seluruhnya demikian.

Dari yang saya alami selama bermukim dan berinteraksi dengan komunitas Vespa di Bogor, sebagian besar pengguna kendaraan klasik Vespa rata-rata mendengarkan musik reggae. Bisa jadi, jika merunut pengetahuan dangkal dan minimalis saya, ini semacam kesamaan persepsi antara filosofi seorang skuter mania yang mengembara dengan prinsip hidup yang dijalankan dengan pengaruh Bob Marley dan rasta-nya.

Bisa jadi..

Apapun itu sejak dulu saya selalu bahagia jika hadir di acara anak Vespa…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *