Pesan Peringatan Post Grunge Distorsi Akustik

Pesan Peringatan Post Grunge Distorsi Akustik

Kolaborasi Distorsi Akustik dan Ressa Lawang Sewu dalam “Peringatan Arina”. Foto : Akhmad Ikhsan

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Semarang – Ramai riak pemilihan pemimpin negeri masih berasa pekak, ada yang merasa perlu namun ada juga yang merasa terganggu. Tiga bulan terakhir memang berasa cukup menyita emosi. Keramaiannya nyaris menenggelamkan suara-suara sosial nyata, perebutan antara energi dan sumberdaya. Tapi sudahlah, biarkan itu menggelindiung sesuai nasibnya. Saya memilih sedikit menjauh dari hiruk-pikuk, lantas merasa perlu membuka pandora post grunge bernama panggung Distorsi Akustik, kolektif yang tumbuh di Semarang, Jawa Tengah.

Nama Distorsi Akustik mulai mengganggu layaknya rangkuman pertanyaan yang harus dijawab. Mengajak menelisik dan mengenal lebih karya-karya band yang lahir pada 2009 itu. Sekumpulan distorsi yang bersinergi dan melaraskan sisi akustiknya dalam ruang resonansi. Tak ubahnya dunia nyata yang menjadi tempat mereka berpijak. Musik yang menjadi lahan tandus kekecewaan, kegelisahan yang bisa jadi berbalut amarah, penat dan peluh sebagai kelas pekerja.

Meski demikian Viko Yudha Prasetya (vokal & synth), Hersan Dipta Putra (gitar), Bahar Syafi’I (gitar), Taufik Adi (bass) juga Muhammad Fajar Pandu (keyboard) dan Ragil Pamungkas (drum), memilih setia kepada post grunge yang dibalut nuansa indie pop. Memberi kesempatan alunan bernada ambient untuk naik kepermukaan. Musik yang tenang dan santai dengan melodi yang diulang-ulang.

Awal Maret lalu, bertepatan dengan hari perempuan sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 8 Maret, mereka merilis video music berjudul “Peringatkan Arina”. Sebuah respon dari Distorsi Akustik untuk menolak segala bentuk kekerasan pada perempuan. Keberpihakan yang patut kita hargai.

Ada yang menarik dari proses Distorsi Akustik mencipta “Peringatan Arina”. Ada nama Ressa Lawang Sewu yang tersemat menjadi kawan duet dalam single ini. Ressa dikenal sebagai penyanyi dan penampil dangdut kenamaan asal Semarang yang kiprah awalnya banyak terdeteksi bersama Orkes Melayu (OM) Pantura. Pemilik nama lengkap Elisabeth Resa Novitasari itu menyumbangkan suara dengan pembawaan karakter yang berbeda dengan latar belakangnya sebagai salah satu ikon dangdut.

Barangkali kolaborasi ini menjadi pesan pereda perbedaan yang kerap dijadikan ujung pangkal pertikaian. Apalagi Distorsi Akustik dan Ressa kali ini berkolaborasi membawa pesan untuk perempuan.

Proses penggarapan video musik yang memakan waktu selama 2 hari, dilokasi
Hutan Wisata Penggaron Ungaran dan TPS Jatibarang Semarang. Melibatkan videografer Fajar Kajabu (Nonadeca Film), Akhmad Ikhsan (Sangaga Photography) dan seorang make up artis Elisa Mendusart. Bahkan unit post rock Lilin Semasa Hujan dan tim kreatif dari Semarang Look At Me turut sibuk menyempurnakan penggarapan video musik ini.

Selain Ressa ada nama lain seperti Ameilisa Sidca Devi seorang solois asal Pekalongan dan grup techno ambient The Goblox dari Jakarta. Proses rekam instrumen dan vocal dikerjakan di Nada Studio, diramu oleh Bang Imz.

“Peringatan Arina” menjadi penanda karya lanjutan Distorsi Akustik setelah pada 2016, mereka merilis mini album bertajuk Pu7i Utomo. Album yang mempopulerkan single “Mesin Pemahat Waktu”, dedikasi untuk mengenang Puji Utomo, gitaris mereka yang berpulang terlebih dahulu.

Video musik “Peringatan Arina” kini telah rilis di kanal Youtube milik Ressa Lawang Sewu dan kanal Distorsi Akustik…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *