Orbis Alius: Season One, Kesetiaan ACV Pada Manuskrip Berisik

Orbis Alius: Season One, Kesetiaan ACV Pada Manuskrip Berisik

A Curious Voynich, post-hardcore Bogor yang muncul dengan warna berbeda. Foto : agungllyn

Artikel : Anggitane

[HujanMusik!], Bogor  – Wilfrid Voynich, seorang penjual buku asal Polandia, barangkali tak pernah memikirkan bahwa namanya akan menjadi rujukan kepusingan para ilmuwan selama lebih dari satu abad. Suatu hari, di tahun 1912, takdir menuntunnya untuk menemukan sebuah manuskrip di Villa Mondragone yang tak jauh dari Roma. Kerumitan buku setebal 250 halaman itu membuatnya dikenal sebagai manuskrip paling rumit, melebihi kode Da Vinci sekalipun.

Di Bogor, berjarak kerumitan 107 tahun, saya mendapati nama Voynich sebagai nama proyek musik post hardcore yang dibangkitkan Dito Buditrianto dan Gustmar Helmy. Nama tersebut pertama merupakan musisi yang pernah bermain gitar untuk Cause dan The Glans, kini lebih disibukkan sebagai session guitarist Efek Rumah Kaca. Sedangkan nama tersebut kedua merupakan tokoh dibalik layar beberapa penyelenggaraan acara musik di Bogor. Pernah berteriak untuk unit keras “Hate To Think” dan “Gravebehold”.

A Curious Voynich (ACV), demikian sebutan resminya. Setelah merilis EP perdana pada 2013 silam, mereka kembali muncul dengan gairah konsep musik berbeda. Tak hanya konsep, alih-alih puas berdua saja, ACV justru mengajak tiga kolega lain untuk berkolaborasi dalam Orbis Alius: Season One terbitan April 2019 ini.

Simak! : Keinginan Hadir di Konser Dream Theater; Kenyataan Menyimak A Curious Voynich

Kabar barunya, putaran distorsi Orbis Alius: Season One melibatkan post-hardcore penuh dengan cubitan gitar indie rock 90an, berikut corak alternative metal nan memburu. Keterlibatan Idoth (eks Last Pain, Heaven In), Rifal (Rasvala), dan Omadith (Life Cicla), menambah beban kuat kualitas musical yang ditimbulkan. Kolektif inipun kian menendang dengan dua nomor komitmen etos hardcore/punk yang mereka sematkan.

Sesi “Ain’t No Words” dan “Hang Your Hole” menjadi pencapaian melankolia lirik ACV seri baru. Ada cerita kehidupan personal manusia, serta pertanyaan mengenai mitos dan fantasi. Gitaris Dito dalam sebuah pengakuannya menyatakan ketertarikan karya imajinasi Tolkien, khususnya The Silmarillion. Lantas ia coba terjemahkan ulang dalam bentuk music yang sejalan dengan karakter ACV. Buku-buku fantasi dan konsep mitologi memang menjadi benang merah dari Orbis Alius dengan rilisan ACV terdahulu.

“Orbis Alius artinya dunia lain atau otherworld, kita ambil judul tersebut karena selain terpengaruh oleh film-film bertema dua dunia yang saling terpaut seperti Stranger Things dan Silent Hill, di rilisan ini juga masing-masing lagu memliki corak yang berlainan secara musikal namun memiliki tema cerita yang saling berkeseninambungan satu sama lain,” ujar Gustmar menjelaskan, seperti dirilis Hujan Rekords.

Agresif, melankolis, dan emosional merupakan gambaran yang pas untuk mendefinisikan musik yang mereka mainkan dengan bauran lirik personal berisi pertanyan dan pernyataan pemikiran. Semangat dari citra manuskrip Voynich yang diselimuti misteri dan mengundang kontroversi yang penuh anonimitas di awal kemunculannya. Pun dengan ACV, mereka berharap para pendengar musiknya dapat lebih fokus terhadap musik yang mereka mainkan.

ACV telah merilis satu buah mini album dalam format kaset pita berjudul “The Encryption Of Secret Messages” pada tahun 2013 lalu. Setelah melewati enam tahun masa pasif, mereka kini muncul dengan warna lebih beragam.

“Mungkin akan terdengar melenceng jauh, tapi kita memang sepakat untuk tidak membatasi output dari musik ACV dan memperluas wilayah musikalnya, tapi semua masih dalam satu koridor dan akar musik yang sama,” ujar Idoth.

Orbis Alius: Season One sendiri merupakan bagian pertama dari dwilogi yang akan mereka telurkan tahun ini berkerjasama dengan label Hujan! Rekords dan dibantu oleh kolektif BengkelTigaDanEmpat serta Bens Co Studio. “Bagi kami Orbis Alius adalah buah dari eksperimentasi dan jamming, lebih sederhana, tidak terlalu kompleks, bernuansa fantasi, tetap agresif, dan punya sensibilitas rock yang melodis,” pungkas Adith.

Orbis Alius: Season One dilepas secara resmi dalam bentuk digital pada tanggal 8 April 2019 via situs resmi Hujan! Rekords serta dalam bentuk CD di gelaran Record Store Day Indonesia di Kuningan City tanggal 12-13 April mendatang. “Bisa jadi arah musikal kita akan lebih bergeser di bagian kedua nanti, mungkin karena latar belakang musik kita yang berbeda-beda, siapa tahu, oleh karena itu kami melepas Orbis Alius ini sebagai langkah awal,” tutup Rifal.

Jika sebagian ilmuwan sejak pertengahan 1920 menganggap manuskrip Voynich berkutat pada muasal dan teori hoax, yang menyebabkan sejarawan mainstream mengurungkan niat untuk terlibat. Orbis Alius: Season One justru dirancang untuk memudahkan pendengaran.

Sampai disini saya sepakat dengan Harlan Boer bahwa Orbis Alius: Season One memiliki dua pendekatan yang beda dalam satu warna…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *