Celotehan Skastra Tentang Sosial Media Melalui Linimasa

Celotehan Skastra Tentang Sosial Media Melalui Linimasa

Skastra, pengusung ska dari Depok baru merilis single “Linimasa”. Foto : dok.Skasatra

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Depok – Mungkin tidak pernah terbersit dalam benak Coxsone Dodd untuk menorehkan namanya dalam sejarah musik dunia ketika memutuskan untuk memproduseri Theophilus Beckford, seorang pianis dari Jamaika guna memproduksi sebuah lagu berjudul “Easy Snapping”. Melalui peranan Dodd yang juga pemilik sebuah studio musik, lagu tersebut akhirnya disebut sebagai awal dari kelahiran sebuah genre musik baru bernama Ska. “Easy Snapping” pun tercatat sebagai lagu ska pertama yang dirilis pada tahun 1956 yang kemudian menjadi hits di Jamaika di tahun 1959. Ska yang identik dengan Rhytm Afterbeat terus berevolusi, dimulai tahun 1960an yang berhasil memunculkan beberapa nama seperti Don Drummond dan Dessmond Dekker yang memainkan 1st Wave ska. Di tahun ini juga lahir band ska legendaris bernama The Skatalites. Selepas itu, di setiap era, ska melahirkan gelombang musik baru dan masih bertahan hingga detik ini. Nama-nama seperti The Special, Reel Big Fish, Less Than Jack, hingga Rancid berhasil menjadi legenda akibat memainkan musik ska.

Jauh dari Jamaika, tepatnya di Depok, sekelompok musisi yang tergabung dalam unit Skastra baru merilis single terbaru berjudul “Linimasa”. Dari nama bandnya saja sudah bisa ditebak jenis musik yang mereka mainkan. Dalam karya barunya, band yang memainkan ska sejak 2015 ini mengajak beberapa musisi yang satu akar dengan mereka seperti Daniel Sukoco, pemain baritone saxophone Sentimental Moods. Selain itu ada juga musisi lepas lain yang diajak berkolaborasi yaitu Muhammad Gilang Ramadhan Magfur (Alto Saxophone) dan Muhammad Fajri (Conga).

Saya sendiri merasa dekat dengan musik ska dengan alasan musiknya bisa menularkan keceriaan kemudian mengajak berdansa. Selain itu saya dekat dengan beberapa band ska asal Bogor seperti Skin Care, Error, dan Balon Gas yang melambung di akhir era sembilan puluhan. Kemudian Anggit, Content Director HujanMusik! dikenal sebagai salah satu personil Cocktails, unit ska yang penggemarnya tersebar sampai pelosok Bogor. Meski serbuan genre musik terus bermunculan tapi ska tetap berada dalam daftar pustaka musik saya.

Simak! : Cocktails, Sepotong Eksistensi dalam Bentuk Kaset

Maka, begitu mendengarkan “Linimasa”, cerebrum otak saya langsung bereaksi dengan menyimpan harmoni yang disuguhkan. Dan menurut saya yang awam, musik mereka akan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Bukan hanya karena beat yang cenderung kalem tapi tetap memberikan stimulus untuk bergoyang, vokal Alduri Asfirna begitu lembut dan menghanyutkan. Dibungkus dengan brass section yang dominan, komposisi musik Skastra sungguh layak didengarkan berulang-ulang.

“Di lagu Linimasa kami mencoba memasukan beberapa instrumen yang belum pernah ada di lagu-lagu sebelumnya. Ya, untuk bikin suasana baru aja, penyegaran sebelum masuk ke album baru kami nanti,” jelas Taufiq Alkatiri, pemain terompet Skastra.

Selain menyajikan eksplorasi di ranah instrumen, “Linimasa” juga mengangkat tema lirik yang cukup jarang terdengar di kancah musik ska dan juga musik indie lokal, yaitu tentang sosial media.

“Biasanya lagu Skastra Cuma seputar cinta-cintaan aja. Tapi di lagu Linimasa kami mencoba explore tema beda, ya soal medsos itu,” ujar Adi Ahdiat, gitaris Skastra dan penulis lirik untuk single baru ini.

Tema sosial media dipilih karena produk tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian banyak orang. “Sekarang ini rasanya kita semua udah kecanduan sosial media ya. Dan lagu Linimasa adalah curhatan pribadi soal fenomena itu,” tambah Adi.

Kabarnya, single “Linimasa” sudah bisa didengarkan di layanan musik digital seperti Spotify, Joox, dan lainnya.
Sebelumnya, Skastra sudah pernah merilis mini album berjudul “Renjana” (2016), album penuh bertajuk” Minor 7” (2017), serta single “Rendez-vous” (2018). Di 2019 ini Skastra juga tengah menggarap album baru yang ditargetkan rampung sebelum akhir tahun. Kita tunggu saja provokasi mereka untuk mengajak kita berdansa.

Ska dan Skastra adalah fenomena, yang mudah-mudahan akan menjadi legenda seperti Coxsone Dodd di Jamaika.

 ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *