Taruk Teriak Lebam di EP Perdana, Sumpal

Taruk Teriak Lebam di EP Perdana, Sumpal

Taruk, unit hardcore-punk Bandung melepas EP perdana. Foto : Adib Rizkiyansyah

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Dini hari tengah menancapkan kekuasaannya saat mendapati nama Taruk menyumpal suara keluaran Tzumi AquaBoost Mini Bluetooth Speaker saya. Pendaran hardcore-punk yang menjadi kekuatan utama trio punggawa asal Bandung itu cukup membangkitkan redam tersebab gas habis sementara air belum tuntas dijerang. Nuansa horor nan mencekam coba dijabarkan Karel (vokal), Bobby Agung Prasetyo (gitar) dan Matin Mahran (drum) melalui Extended Played (EP) perdana mereka, Sumpal.

EP perdana yang sekaligus penebus janji, setelah melepas satu buah single nan panas berjudul “Berapi-api”, 17 November 2018 silam. Pencapaian penting untuk band memilih kiblat percampuran musik berontak punk rock ala Amerika Utara dan Inggris itu. Pengusung sound gitar nan tebal, berat dan cenderung cepat bak terluka karena sayatan Torso, DS-13, atau Dead Kennedys sekalipun.

Buntutnya, rekamam beberapa karya berlanjut meneruskan sukses mengobarkan semangat “Berapi-api”, kini saatnya Taruk membungkam kekejaman lewat EP Sumpal.

Sejak gemuruh hardcore melanda negeri sekitar 1990an, talenta lokal terus bermunculan dari berbagai generasi. Bisa jadi Taruk hanya sebagian kecil atraksi hardcore yang muncul dari tatanan skena Bandung, namun penguasaan kengerian berusaha mereka hadirkan. Termasuk sesi horor bersama sosok spesial yakni Doddy Hamson, vokalis Komunal untuk berkolaborasi pada salah satu lagu berjudul 218. Aroma kengerian semakin terasa dengan kehadiran Master of Reality yang khusus didatangkan dari Hitam Semesta ini.

Sumpal Covers, dikerjakan oleh Gama Dwisetya.

EP Sumpal menawarkan empat nomor yang bercerita tentang fase kehidupan seorang petarung di dunia paralel. Deretan lagu ini bersifat tematik dengan alur yang saling berkaitan.

“Kami yakin bisa melawan rutinitas, bersenang-senang sepuasnya hingga tepar, bahkan menyuluhkan ode penghormatan bagi pahlawan tanpa getir. Kami persembahkan Sumpal untuk kalian yang selalu menganggap enteng,” ujar Vokalis Karel, seperti ditulis dalam siaran persnya kepada HujanMusik!.

Mulai dari trek pertama, di mana sang petarung mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali, lalu membalaskan dendam dan segala urusan yang belum terselesaikan. Sampai pada fase kedua, saat dirinya mengobarkan semangat berapi-api untuk membalikkan keadaan.

Memasuki fase ketiga, sang petarung telah menjadi raja di atas segala kesenangan dan penderitaan. Penuh waktunya dihabiskan untuk berpesta, menggila dan ditutup oleh kegelapan yang sunyi dan cengkraman kesepian. Pada tahap itu, pilihan terbaik adalah “memuja”.

Tiba di tahap terakhir, saat dia merasa tersesat dan butuh pegangan hidup. Satu-satunya jalan paling logis dan tepat adalah memuja kegelapan—berdiri di tengah kobaran api hitam nan pedih. Kisah ini bersifat fiksi dan menjadi sebuah analogi.

“Kami membuat EP ini untuk mewakili orang-orang yang merasa dirinya tertindas oleh rutinitas sehari-hari. Cocok pula bagi para bejat, penjahat dan lain-lain yang mulutnya pantas disumpal sebelum berbicara panjang lebar dengan penuh omong kosong,” tutur Drummer Matin menambahkan.

Mini album ini sudah tersedia diberbagai platform musik digital seperti Bandcamp, Spotify dan lainnya, terhitung Selasa, 19 Februari 2019 lalu.

dikerjakan pada pertengahan 2018 silam di Teargas Lab, Bandung dengan sentuhan—mulai dari rekaman, mixing, hingga mastering—Irsyad Ali. Proses kreatif berlangsung sejak awal tahun kemarin.

Sementara desain sampul adalah buah karya Gama Dwisetya, seorang desainer asal Tangerang. Nama yang sudah tak asing di telinga kita, mengingat dia adalah pemenang kontes poster untuk Thursday Noise Vol. 4 pada tahun 2017 lalu.

Saatnya meledak dan melebam!…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *