Dangdut Muda Saptarasa yang Tak Mau Reda

Dangdut Muda Saptarasa yang Tak Mau Reda

Artwork single terbaru Saptarasa “Joyfull Laif”. Foto : dok.Saptarasa

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Gemericik air yang terjatuh dari tebing terdengar gemuruh menengahi obrolan sengit seputar musik kota. Lawan bicara saya adalah mantan pengunjung tetap taman hiburan rakyat di jalan Kapten Muslihat. Taman legendaris yang lebih dikenal sebagai taman topi disbanding nama aslinya, Taman Ade Irma Suryani. Taman yang banyak diamini sebagai penyelamat venue acara musik paket lengkap.

Obrolan panjang di tepian Ciliwung, persis di sisi bawah jembatan satu duit itu pada akhirnya bersepakat bahwa venue lengkap tengah kota kedepan bakal terhambat. Hanya satu genre acara bersisa yang terus bertahan hingga sekarang, yaitu dangdut. Genre yang masuk kategori seni populer tradisional Indonesia dengan unsur Melayu itu terus berdendang nyaris tiap akhir pekan. Sayangnya dalam setap gelarannya tak banyak anak muda yang mau meramaikan. Jangankan pelaku, penikmat saja tak berciri bangga menekuninya.

Saya membantahnya sedikit, mencoba menggarami gerutuan kawan yang menolak dituliskan sebagai cameo dalam artikel saya. Bahwa tak semua tuduhan anak muda tak menghormati dangdut, adalah benar adanya. Modal saya adalah perkenalan tulisan awal tentang Saptarasa, unit dangdut eksperimental dalam kota yang rutin naik panggung dan berkarya sebagai generasi muda. Saya merasa perlu menekankan bahwa Quintet asli Bogor ini sukses membawakan nada mendayu tak biasa di kancah musik skena kota.

Simak! : Saptarasa : Eksperimental, Mendayu tapi Bukan Melayu 

Bahkan Saptarasa baru saja merilis single teranyar mereka yang berjudul “Joyfull Laif” secara digital pada 7 April lalu. Single penerus EP perdana mereka, “Anti-sceptist” yang memperkenalkan “Pathetic Fairytale” pada tahun 2017 lalu. Jika sebuah kolektif produktif diukur dari prosentase panggung dan karya asli yang dihasilkan, Saptarasa sudah memenuhi sebagian kriterianya. Pembawa panji-panji dangdut eksperimental yang menemani perkenalan saya dengan unit dangdut ekperimental lainnya semacam Libertaria.

Diluar darah dangdut yang dimiliki sang aktivis utama dari ayahnya, penyanyi Dewo Iskandar dan rekan cukup cerdas mengenalkan cara menikmati dangdut ala anak muda tanpa harus menertawakannya. Single “Joyfull Laif” terdengar lebih ceria dibanding karya-karya yang tercipta saat mereka bermula.

“Tahun-tahun sebelumnya beberapa dari kita lagi mengalami hal-hal berat. Setelah semua sudah lewat, kali ini kita lagi kepingin senang-senang, becanda, nikmatin momen-momen, becanda lagi dan kita mau tuangkan itu di band “, terang Dewo. Sebuah penegasan bahwa Saptarasa telah beranjak meninggalkan sisi gelap nan melankolis.

Kegembiraan sepertinya menjadi kunci dan syarat utama menikmati “Jaoyfull Laif”. Seperti pesan yang ditulis gitaris Erick, bahwa sesuatu yang dilakukan dengan bahagia akan lebih nge-flow. Let the music create itself.

Simak! : Membaca Pathetic Fairytale Karya Saptarasa

“Pengerjaan single ini juga sambil becanda sih. Dangdut tapi ada gospel-nya dikit, terus ada part yang bakal ngingetin pendengar sama sebuah game lawas, backing vokalnya juga udah kaya sesame street, ada backing vokal gendang juga dan bahkan artworknya aja kita pake foto preweddingnya Ayu!” Kata Erick.
“Joyfull Laif” memang sebuah interpretasi nyleneh para punggawa Saptarasa yang konon berasal dari hati enjoy, dan kantong full. Seperti keterangan tambahan pemain Bass Alex yang ditulis untuk HujanMusik!, “Kita juga mau nyentil para grammar nazi lokal dengan penulisan judulnya”.

Begitulah cara mereka bercanda, keybordis Ayu pun Cuma pasrah manakala artwork prewedingnya diumbar kepada khalayak ramai.

Saya pun merasa perlu mempertegas kepada kawan bicara yang saya gambarkan di awal. Bahwa single baru dari Dewo Iskandar (vocal), Alexander Bramono (bass), Erick Tegar Setianto (gitar) dan Ayu Novianti (keyborad) sudah dirilis secara independen. “Joyfull Laif” sudah bisa dinikmati di gerai-gerai musik digital.

Sayangnya usaha saya mencontohkan kinerja Saptarasa belum menggoyahkan penilaiannya bahwa dangdut tetaplah terdengar usang dan dijauhi anak muda. Baginya dangdut lokal tanpa Taman Topi belumlah lenghkap.

Barangkali suatu saat Saptarasa perlu menjejakkan penampilannya di Taman Topi, sebelum taman hiburan tersebut benar-benar sepi dari giat acara musik…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *