Menyambut Gemuruh Eksistensi Payung Teduh Melalui Proses Bertajuk “Nanti”

Menyambut Gemuruh Eksistensi Payung Teduh Melalui Proses Bertajuk “Nanti”

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Jakarta – Matahari tertutup hujan bukan berarti tak bersinar. Selama hari masih belum malam maka sang raja siang akan kembali bertahta menundukkan awan dan hujan. Analogi tersebut rasanya cukup mewakili kondisi unit asal depok yang telah merajai musik folk Indonesia hampir satu dekade ini. Siapa lagi kalau bukan Payung Teduh, pembuka kunci folk yang sebelumnya terkurung di ruang antah berantah. Setelah Is memutuskan mundur beberapa waktu lalu, banyak pihak yang meragukan eksistensi band yang kini menyisakan tiga orang personil. Tapi tiba-tiba mereka menyeruak keluar bersama Disney lewat “Sebuah Lagu”, satu serangan balik yang cukup telak dan sanggup menyingkirkan awan hitam di atas mereka.

Waktu adalah perias rupa yang berjalan berdampingan dengan takdir. Tidak ada yang bisa memutarbalikkan waktu, setiap perjalanan sudah tertulis untuk terjadi. Begitu pula apa yang terjadi dengan Comi dan koleganya di Payung Teduh. Payung yang diperkirakan akan tertutup seiring badai yang datang menerpa ternyata tetap kokoh memayungi tiga sekawan untuk terus berkarya. Kekuatan mereka tidak mengendur sedikitpun, setelah hampir satu tahun sebelumnya berkolaborasi bersama Teater Pagupon dengan merilis album “Mendengar Suara” , Payung Teduh kembali menunjukkan produktifitasnya dengan merilis single berjudul “Nanti” .

Lagu “Nanti” diciptakan oleh sang drummer Alejandro Saksakame yang bercerita tentang proses bagaimana mencapai sesuatu tidaklah dapat dicapai dengan cara instan dan harus menerima keadaan jika memang belum waktunya kita mencapai hal tersebut. Sebuah pesan dengan makna amat dalam yang dibalut dengan lirik sederhana yang dapat dinyanyikan berbagai kalangan dari berbagai usia. Untuk musiknya sendiri Payung Teduh masih konsisten menggunakan musik khas yang mereka gunakan sejak pertama kali mereka terbentuk. “Nanti” bagai ulat yang baru saja memecah kepompong Payung Teduh kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang terbang menyambut kebebasan. Tentu saja, sebelum menghirup udara segar sang ulat mengalami proses yang cukup melelahkan dan menyita waktu.

Simak! : Payung Teduh Diantara Kemajuan Teknologi dan Nyanyian Dari Desa

Berbeda dengan dua rilisan sebelumnya yang merupakan karya hasil kolaborasi, “Nanti” adalah lagu yang diciptakan, diproduseri dan diproduksi langsung oleh Payung Teduh sendiri. Kabarnya single “Nanti” sudah dapat dinikmati di berbagai platform musik digital seperti iTunes, Spotify, Joox, Deezer, Apple Music, dan masih banyak lagi. Lebih terasa nikmat mendengarkan lagu mereka saat turun hujan sembari menenggelamkan diri dalam lamunan.

Artwork “Nanti” Payung Teduh.

Band yang beranggotakan Alejandro Saksakame (Drum), Ivan Penwyn (Guitar, Guitalele, Vokal), dan Aziz Comi (Contra Bass) ini menggaet beberapa rekan seperti Panji Putranda (Piano) dan Tufiq Alkatiri (Terompet) yang biasa membantu mereka saat penampilan live untuk turut mengisi instrument dalam lagu ini.

Ulat, kepompong, dan kupu-kupu menjadi manifestasi, rangkuman proses yang umum terjadi dalam hidup. Satu entitas berbeda bentuk. Ini mewakili Payung Teduh yang mendapuk Ivan untuk bernyanyi dalam lagu “Nanti”. Mereka berubah dari sisi yang tidak kasat mata namun tetap menjadi satu kesatuan yang kuat, tetap puitis, dan menjunjung tinggi keindahan.

Indah seperti proses yang mereka alami dan coba ajarkan pada penikmat musiknya.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *