Sikat-Sikut X Soundsation : Konser Musik Bagus dari Jalan Pemda

Sikat-Sikut X Soundsation : Konser Musik Bagus dari Jalan Pemda

Crowd Sikat-Sikut X Soundsation 2019 di saat Barasuara tampil di Cibinong City Mall

Artikel & Foto : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Cibinong dengan geliat komunitas musik nampaknya sedang giat-giatnya bergeliat. Keterbatasan venue konser tak lagi menjadi kendala yang harus dikeluhkan berlarut-larut, masing-masing sudah menemukan cara dan metode keluar dari zona mainstream. Selangkah lebih konkrit, mereka lebih percaya bahwa konser tak harus tengah kota. Paling tidak itu yang saya dengar dan sebagian saksikan, aneka rentetan acara per Februari 2019. Dari venue pinggiran Cibinong hingga lahan parkir Mall di jalan Pemda.

Senja dari jalan utama sedikit menghambat usaha menemukan lokasi parkir yang pas. Kerumunan anak muda penghamba kreativitas lebih mendominasi dibanding petunjuk lokasi singgah pengisi acara, pintu masuk penonton, akses tenant dan pintasan untuk media. Wajar, acara sekelas “Sikat-Sikut X Soundsations “Biar Tapi Jadi Bukti”” pada 27 Februari 2019 lalu itu memang menjadi incaran.

Siapa bisa menolak menyaksikan pertunjukan musik kelas konser dengan tata cahaya dan tata suara yang baik dengan cuma-cuma. Cukup menunjukkan bukti indentitas usia minimal 18 tahun crowd sudah bisa menyimak lantunan “Fana Merah Jambu”/Fourtwnty, “Hagia”/ Barasuara, “Peradaban”/ Feast, ”Metanoia”/  Wake up Iris dan “Lepas Kendali”/ Superiots, langsung dari sumbernya.

Setiba di venue Cibinong City Mall saya dan rekan Graditio masih bisa mendengar raungan sound yang melambat. Sembari menunggu waktu pertunjukan penuh saya memanfaatkan momentum mengenali situasi selain panggung atraksi. Konsep Sikat-Sikut X Soundsation boleh jadi merunut konsep pertunjukan sebelum-sebelumnya di kota lain. Saya memilih menepi ke arena market place, berjumpa beberapa kolega dari Eternal Store, Robot High Club Project dan Sikat-Sikut sendiri. Juga rekan media yang berada disekitar arena challenge yang tak henti-hentinya dipenuhi antrian.

Panggilan panggung mulai menyeruak saat beberapa kawanriots, sebutan pendukung Superiots, merangsak kedepan panggung. Benar saja, di belakang panggung saya mendapati Bonet, Epang, Bime dan Doyo tengah bersiap menerkam set panggung yang tersedia. “Lepas Kendali” menjadi genderang pembuka mereka menyapa semesta Cibinong, dilanjutkan gelontoran karya yang sebagian besar dihafal massa.

Meneruskan keringat yang dibangun Superiots, giliran Barasuara tampil dengan sejuta rasa penantian. Iga Masardi dan TJ Kusuma belum genap memegang gitar sementara Gerald Situmorang bahkan belum bersama bass-nya, masih melambaikan tangan kepada kerumunan. Hanya Marco Steffiano yang paling siap dibelakang set drum sementara Asteriska dan Puti Chitara menebar senyum yang disambut riuh penonton. Maka berturut-turut meluncurlah “Samara” dan “Hagia” sebelum “Api & Lentera” menuntaskan pertunjukan mereka.

Stoner rock ala .Feast mengambil alih kendali pertunjukan. Atraksi penuh koalisi musisi yang berlatar belakang kumpulan anak FISIP UI itu kian membakar semangat massa. Baskara Putra, Adnan S.P, Dicky Renanda, F. Fikriawan dan Adrianus Aristo Haryo benar-benar memanfaatkan suasana malam di Cibinong.

Beruntung ada Fourtwnty yang sedikit meredakan nafas dan detak jantung. Ari Lesmana, Nuwi dan musisi pendukung lainnya sukses menempatkan “Fana Merah Jambu” sebagai repertoar penyiram dahaga. Termasuk kolaborasi magis Ari-Nuwi bersama Bie Paksi dan Vania Marisca, kolektif musik asal Malang, Wake Up Iris . Mau bilang apa juga, faktanya mereka keren dan memberikan optimisme kemajuan musik Indonesia.

Begitulah…Cibinong memberi bukti tampilan musisi bagus yang memuaskan. Rentetan acara berbalas yang layak diapresiasi, bak venue yang memanggil-manggil kolega.

Semoga terus berlanjut.

….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *