Salute to… : Sebuah Konser Penggugah Nostalgia dan Keharuan Jiwa

Salute to… : Sebuah Konser Penggugah Nostalgia dan Keharuan Jiwa

Konser Salute, konser apresiasi karya untuk Melly Goeslow, Dewiq dan Dewi Lestari. Foto : IG @konsersalute

Artikel : Vinny Martina

HujanMusik!, Tangerang – Siapa yang tidak kenal Erwin Gutawa? Rasanya tidak ada. Puluhan juta penduduk Indonesia pasti tidak asing dengan nama komposer besar tersebut. Beberapa waktu lalu saya melihat pengumuman tentang konser Erwin Gutawa Orchestra yang dibagikan di status teman. Sayapun langsung menghubunginya dan mengatakan ingin sekali menontonnya secara langsung. Awalnya teman saya, katakanlah si Budi tidak menjanjikan tiket pasti didapat mengingat peminatnya yang pasti membludak.

Hingga hari H saya belum juga mendapat kabar dan mulai pasrah layaknya menanti kabar cinta yang menghilang tiba-tiba. Tapi saya selalu yakin dengan ujar-ujar kalau jodoh tidak akan kemana. Pun dengan rejeki. Dan benar saja, akhirnya saya dapatkan tiket konser besar tersebut. Walau sampai ditangan jam setengah enam sore, beberapa jam sebelum konser dimulai, tapi tak jadi soal.

Setelah menembus macet yang penuh debu, akhirnya perjalanan selama dua jam tigapuluh menit berhasil dilewati. Saya sengaja naik ojek daring dari kawasan Menteng, Jakarta pusat menuju Kebon Jeruk.

Indonesia Convention Exchibition (ICE, red-) yang menjadi venue konser merupakan tempat yang cukup luas dan lumayan dingin. Dari luar sudah terdengar samar alunan musik menggema.

Konser yang diproduseri oleh Gita Gutawa ini dipersembahkan untuk mengapresiasi karya pencipta lagu berkualitas seperti Melly Goeslaw, Dewiq, dan Dewi Lestari dengan memainkan beberapa karya mereka yang pernah hits di kancah musik Indonesia tahun 2000-an hingga sekarang, dalam versi orkestra tentunya.

Saya, Budi, dan Oki pun masuk dengan hati riang. Saat itu, konser yang sudah berjalan satu setengah jam tersebut tengah mempertunjukkan lagu karya Dee, panggilan akrab Dewi Lestari berjudul ‘Satu Bintang di Langit Kelam’ yang dibawakan Rendy Pandugo ditemani gitarnya dan seorang musisi yang baru saja sukses menggelar konser tunggal bernama Tulus. Setelah itu mereka pun menyanyikan lagu ‘Dongeng Secangkir Kopi’. Menawan sekali.

Seiring berakhirnya penampilan Rendy dan Tulus, acara dilanjutkan. Sutradara Film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ , Riri Riza naik ke atas panggung. Dia bicara sedikit tentang konser ini lalu memperkenalkan sang Queen of Soundtrack, Melly Goeslaw.

Setelah Riri, giliran pemilik PH ternama berbicara, “Pokoknya setiap membuat film, nama pertama yang keluar di otak untuk membuat soundrack ya Melly Goeslaw”. Begitu kata Manoj Punjabi, bos besar MD Entertainment.

Seluruh penonton mengamini, tepuk tangan bergemuruh. Kamera pun tertuju pada Melly Goeslaw yang duduk di deretan paling depan bersama suaminya, Anto Hoed.

Tak perlu menunggu lama, sebuah alunan lembut intro yang memukau menghinoptis kami semua. Afgan muncul dari kejauhan menyanyikan lagu medley ‘Ada Apa Dengan Cinta’, ‘Ayat-ayat Cinta’ disusul lagu soundtrack yang tak kalah mewah, ‘Habibie dan Ainun’ dengan sempurna. Semua penonton tampak menikmati dengan khusyuk sambil ikut bernyanyi. Saya? Jelas menjadi salah satu penyanyi latar diantara ribuan orang itu.

Erwin Gutawa orkestra tampaknya tidak mau berhenti memanjakan telinga kami, hanya selang beberapa detik, musiknya kembali menggiring kami untuk mundur lebih ke belakang lewat karya vokalis band Potret yang berjudul ‘Jika’, lagu legendaris yang dibawakan secara luar biasa oleh Sandi Sandhoro. Lengkingan head voice yang aduhai nikmatnya bagi seluruh indera penonton seolah menggerakan kami untuk standing applause dengan sepenuh hati. Mewah.

Bukan Erwin Gutawa namanya kalau tidak mampu mempermainkan harmoni hati penonton lewat karyanya. Jeda dua menit cukup untuk kami mengistirahatkan tubuh yang melonjak bahagia. Menit selanjutnya, penonton kembali dimanjakan oleh lagu ‘Tak Tahan Lagi’ yang berhasil diaransemen ulang oleh sang maestro dengan sentuhan Rock dan dibawakan begitu enerjik melalui suara sengau khas Armand Maulana. Seperti biasa, Armand yang seperti tidak pernah kehabisan energi berhasil mengajak kami menyanyi bersama tanpa ragu dan malu.

Musik disebut sebagai salah satu obat segala penyakit rasa dan Erwin Gutawa Orchestra yang berdiri sejak 1993 bak Dokter senior yang mampu menciptakan obat terbaik bagi pasiennya. Terbukti, sentuhan magis tangan-tangan musisi penuh talenta itu mampu membuat saya merinding bahagia melalui lagu ‘Malaikat Juga Tahu’ yang dipersembahkan Tulus untuk Dee. Taklama berselang, Elfonda Mekel menghantam relung hati penonton dengan ‘Aku Mau’ ciptaan Dewiq. Ah mereka seolah mengajak saya naik mesin waktu dan bernostalgia lewat lirik cinta yang ditulis seseorang untuk kekasihnya.

Akhirnya, ICE dibanjiri air mata para penikmat kerinduan yang hadir disana saat Afgan menyanyikan ‘Bunda’. Koor ribuan suara sendu yang tersengal akibat menahan haru menutup salah satu konser terbaik yang pernah saya saksikan.

[Penulis adalah seorang pecinta baca dan pengagum Tuhan, tinggal di Tangerang]….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *