Hujan Pantai di Negeri Ombak Bagus

Hujan Pantai di Negeri Ombak Bagus

The Mentawais, kolektif Surf Rock Bogor kembali melepas karya kedua. Foto : dok.The Mentawais

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Diantara temaram senja pada ufuk Bogor bagian utara, saya tengah dibuai guyuran nada yang terasa konsisten. Saat itu referensi pendengaran sedang mengarah pada kolektif musik kreatif asal negeri matador bernama El Gran Miercoles. Guyuran surf steady yang mereka jalankan sulit ditolak antara suasana pantai dan rocksteady yang benar-benar membuai, dan itu mengingatkan saya pada kolektif terbitan Umar Bawahab dan kolega di The Mentawais. Surf Music yang mengikat diantara keduanya begitu kentara dan lekat. Saya tak tahu apakah mereka saling mengenal apa tidak, tapi rasa-rasanya mereka pasti paham dengan Dick Dale dan The Ventures.

The Mentawais menjadi satu pengecualian yang mengubah pandangan saya tentang instrumental surf. Tentang khasanah musik era 1960, sesaat sebelum gelombang Inggris menerpa dengan tokoh utama The Beatles. Ekplorasi mereka dengan terus memainkan nada-nada mayoritas minor, menggunakan efek reverb khususnya pada bagian penggunaan tremolo arm, melekatkan mereka dengan wujud pantai dalam bermusik.

Tumbuh dalam kota yang jauh dari terpaan pantai, tak membuat The Mentawais mereka kehilangan ruh musik yang mereka jalani. Bahkan, meski satu tahun belakangan mereka bak lenyap tak terlihat, tiba-tiba muncul dengan bekal album kedua bertajuk “Ombak Bagus”. Album terusan setelah 2017 dengan rilisan EP berjudul “Survin Java”.

Dalam penilaian awam saya, rasa-rasanya “Ombak Bagus” akan menjadi representasi percaya diri Andre Varian (drum), Bena Waketversa (bass), Muhammad Arifyandi (gitar), dan Umar Bawahab (gitar) sendiri tentunya.

Dengan amunisi sebanyak 12 lagu, “Ombak Bagus” menjadi album penuh meraka. Bukti bahwa instrumental surf pemecah ombak dengan tempo yang lebih cepat dengan nuansa khas tradisional surf instrumental era 60-an awal. Siap menghujam pendengaran dengan balutan reverb tebal pada gitar, jalur permainan bass yang terjaga dan hentakan drum yang konstan dan up beat.

Sebagai catatan, album “Ombak Bagus” dirilis dalam format cakram padat terbatas sebanyak 200 keping saja. Edisi khas bawah tanah yang terasa mewah untuk nomor-nomor “First Ride”, “One Man One Wave”, “Stay On The Nose”, “Bat Tail”, “Simeulue”, “Ombak Bagus”, “Berjumpa di Cimaja”, “Bonzer Stomp”, “Batu Karas”, “Space Interface”, “The Muzza Swell” dan “Lepas Senja”.

Saya mencoba menyimak “Simeulue” yang secara perlahan seperti menempatkan saya diantara nada-nada keluaran The Challengers. Single perkenalan yang dirilis sejak 19 Januari 2019 via kanal Youtube itu menjadi representasi memori, bahwa Indonesia segera memulai babak baru, meneruskan kemunculan penggiat dan penikmat surf music.

The Mentawais tak akan sendirian, jika sebelumnya ada The Southern Beach Terror setelahnya ada The Panturas, Young Savages dan barisan pengususng musik pantai yang tak terdeteksi lainnya.

Jika boleh menempatkan sebuah pendapat, saya memilih menamai agresivitas berkarya mereka sebagai “Hujan Pantai di Negeri Ombak Bagus”.

Boleh kan !?….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *