Bait Lanjutan Hi-land Punk, Mary Ann

Bait Lanjutan Hi-land Punk, Mary Ann

Mary Ann, Hi-land yang kembali disuarakan keras melalui “Regenerasi” sejak Desember 2017 silam. Foto : @tulangsemut

Artikel : Anggitane

Bogor, HujanMusik!-Aliran darah seteru tubuh masih saya rasakan nyata bergemuruh. Jarak Cimahpar – Sempur dengan sepeda masih masuk hitungan sekelebatan, masih ada waktu untuk membran tymphanic menerima kecepatan pesan punkrock dari Hi-land (dataran tinggi Bogor). Hari itu saya sedang menikmati “Regenerasi”, album penuh kedua dari Mary Ann.

Sebagai full album resmi yang meluncur sejak Desember tahun lalu (2017), “Regenerasi” tak ubahnya kerah licin yang susah diregang, setia menampilkan ciri karya Mary Ann menembus rezim apapun. Semangat yang sama dari era 2000an kala remaja dimasanya gandrung dengan musik punk warna California. Bisa Green Day, Rancid, The Offspring atau punk populer ala Blink-182.

Bagi saya Mary Ann tetap beda, kultur California yang lekat memamerkan garis pantai tidak tepat disandingkan dengan Cisarua (Kawasan Puncak, Bogor). Meski band yang kini dihuni Pierre Abdullah (gitar, vokal), John Abdullah (vokal, gitar) dan Naesya Badri (drum) justru terinspirasi band dari California lainnya seperti ‘Lagwagon’, ‘No Use For A Name’ & Pierre Khususnya justru banyak terinspirasi oleh ‘Useless ID’ (band punkrock Haifa, Kota pelabuhan di Israel).

10 track dalam “Regenerasi” bak percikan barang bukti bahwa Mary Ann tak pernah pergi. Suara dari dataran tinggi yang menyimpan semangat musik rock liar, sewaktu-waktu meletup diantara agenda musik keras yang menggelinding dari tahun ke tahun.

“Kami mencoba konsisten dengan punkrock ala Hi-land selama ini, hanya mencoba menyuguhkan kembali kenangan euforia di tahun 2000an”, terang Pierre ‘Íyeng’ Abdullah pada HujanMusik!

Mary Ann memulai perjalanannya menjelang tahun peristiwa reformasi yang dipuja-puja sebagai penumbang rezim, antara 1997-1998. Pierre yang kala itu bermain drum sudah menggulirkan warna punk Mary Ann bersama Joe ‘Weirdoz Squad’ (vokal), Ferdi (gitar) dan Ivan ‘Lazy Troops’ (bass). Pilihan awal meng-cover lagu ala Me First and the Gimme Gimmes berjasa menyatukan visi, meski setelahnya terhenti hingga 1999 mulai muncul nama-nama baru memperkuat band ini. Sebut saja Ari (Konflik), Reynold (Om Gondronk), Tio (Apotic, Pup Di Tol), alm. Chakil (Frog Leg Soup) hingga  Muchsin (The Chosen One) dan Sodik (Calusary)

Dua nama terakhir menjadi personil yang menghantarkan Mary Ann memiliki jejak karya album penuh pertama bertajuk “Hit The Road” yang dirilis Simpleton Melodies Records [2004].

Menggenapi karya kompilasi lain seperti “My Friend My Enemy”(Feedback Records [2003]), “No Fans But Friends (Red Star Records [2006]), “Starsucks” (Awkward Overtone Records [2008]), “Simple Tone From Simpleton”(Simpleton Melodies Records [2007]), “Does This Looks Like Punk Compilation?”(Eazy Records [2009]), “Rawk Against Bambang” (SIlverdenim [2012]), “Fuck a Luck a DingDong”(Degstak Records [2014]).

Kompilasi terbaru yang mereka tergabung di dalamnya adalah “Rock In Rain” yang dirilis Bens & Co Records [2018].

Dua dekade pencapaian Mary Ann tidak bisa dibilang waktu yang pendek, apalagi untuk kelompok yang masih bergerak dalam jalur independen, DIY merilis karya. Panggung senantiasa menjadi rumah karya mereka diperdengarkan dan disambut tepuk meriah atau teriakan pengobar semangat.

Konser Mary Ann kerap memiliki pemandangan normal surfing on the crowds. Semacam sesi wajar menikmati lagu punk rock dengan cara yang benar, meski euforia jelas berbeda dengan masa mereka sebelum-sebelumnya. Toh Mary Ann telah membuktikan, menghujam karya ketika jamak pejuang satu angkatannya merasa cukup.

“Harapan itu masih ada seiring maraknya generasi baru hadir. Band punkrock lokal yang lebih fresh, kami rasakan walau berbeda dalam ciri tapi dalam keyakinan menyuarakan hal yang sama. Kami optimis punkrock akan tetap mempunyai tempat di hati penyuka-nya khususnya di Bogor tercinta ini,” pungkas Pierre.

Petang mulai turun, Taman Kencana menjadi titik perhentian sementara. Berhubung saya bersepeda, hanya berani menyimak “Regenerasi” saat rehat mengatur nafas. Memaksa menutup telinga saat berkendara hanya memuluskan celaka.

Ah, saya jadi ber-ekspektasi ada lanjutan album ketiga Mary Ann, entah kalau anda……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *