Analogi Langit Kota ala Badass Monkey

Analogi Langit Kota ala Badass Monkey

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Sejak Anggitane menggulirkan gagasan untuk membentuk HujanMusik! bulan Juli tahun lalu, setiap individu yang terlibat menerima dan paham bahwa meski awalnya HujanMusik! bergerak merangkum gemuruh-gemericik pergerakan musik di Bogor tapi satu hari nanti kami akan menerima materi dari luar kota kelahiran sendiri. Sekarang, dugaan setengah terawangan tersebut terbukti dengan masuknya beberapa materi dari luar Bogor, bahkan luar pulau Jawa. Membuat pengurus HujanMusik! tersanjung sekaligus ketar ketir dengan adanya tangung jawab yang secara otomatis bertambah berat. Tapi saya sih senang tenang saja selama kami menjalankan semuanya dengan pikiran bahagia, tidak merasa terbebani oleh apapun. Apalagi mendapat bonus bertambahnya kenalan dari seberang.

Jauh dari kota hujan, tepatnya di Palu, Sulawesi Tengah sana, sebuah unit rock alternatif bernama Badass Monkey tengah dilanda suka cita dengan dirilisnya album perdana mereka bertajuk “Trouble Maker” tanggal 8 November 2017 lalu. Sebagai pembuka, Badass Monkey menawarkan single “City Sky” pada pendengarnya.

Dikutip dari rilis yang dikeluarkan Senggama Records, sebuah label independen tempat Badass Monkey bernaung, “City Sky” bercerita tentang kota Palu, kota tempat band ini lahir. Lagu ini memberikan gambaran tentang kota yang langitnya selalu nyentrik dan membiru di siang hari, menyuguhkan panorama teluk, laut dan pegunungan disekelilingnya. Ah menggoda…

Sesaat setelah menyimak “City Sky”, saya seakan mendengarkan Red Hot Chilli Paper dan Pas Band yang dibalut oleh keremangan sound Pearl Jam juga Faith No More secara bersamaan. Tentu tidak adil jika membandingkan satu band dengan yang lainnya karena karakter dan usaha yang mereka lakukan tentu berbeda. Ada yang bilang “City Sky” adalah sebuah karya yang biasa saja, mungkin begitu untuk mereka yang pro, tapi di telinga saya yang awam komposisi musik mereka berkesan misterius, rock yang ringan tetapi tidak murahan sehingga menumbuhkan motivasi untuk mendengarkannya berkali-kali.

Penggarapan album “Trouble Maker” sendiri membutuhkan waktu setahun penuh. Hal ini disebabkan kesibukan Badass Monkey yang aktif mengisi panggung-panggung lokal. Dari berbagai gig hingga deretan panggung akbar di Palu mereka terus memantapkan eksistensinya. Pengalaman tersebut menjadikan mereka lebih produktif, menciptakan karya demi karya yang akhirnya membuahkan album “Trouble Maker”.

Band yang diperkuat oleh Otank (gitar vokal), Ian (gitar), Fatur (bas) dan Andi (drum) ini berharap sepuluh nomor lagu yang dikemas dalam album “Trouble Maker” menjadi angin segar bagi kancah musik independen lokal maupun nasional secara luas.

“City Sky” yang renyah merupakan gambaran dari album debut Badass Monkey, sebuah tendangan penalti yang kemungkinan suksesnya 99 persen, bergantung pada kekuatan mental dan peningkatan skill mereka di masa depan. Buat saya, mendengarkan satu lagu itu seolah disuguhi album In (no) Sensation milik Pas Band secara penuh. Perbandingan yang menyebalkan bukan?! Tapi tidak apa-apa karena saya suka karya-karya Pas dan saya hormat pada mereka, seperti saya menghargai Badass Monkey yang telah mengeluarkan energi demi menambah keseruan rimba hijau musik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *