Tokyolite, Bermusik Hingga Panggung ke Jepang

Tokyolite, Bermusik Hingga Panggung ke Jepang

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Gerimis yang menepi pada bulan Mei lalu bak rona alam yang menagih janji bumi mengembalikan uap air kepada langit. Sepintas layaknya fotosintesis biasa, tak ada makna. Padahal untuk unit pop funk asal Bogor bernama Tokyolite, gerimis bulan Mei itu menandai jejak perjalanan musik mereka ke tahapan selanjutnya. Panggung Kansai Music Conference (KMC) di Osaka, Jepang menanti kehadiran mereka sebagai representasi Asia Tenggara di ranah budaya Jepang, 17 September 2016 silam.

Mendapati kabar bulan Mei 2017 itu, Stevan Arianto (vokal, gitar) dan Alexander Bramono (bass), dua personil asli yang tersisa, didukung Bintang Aditya langsung bergerak cepat mempersiapkan diri. Pasalnya KMC berbeda dengan tur Jepang pertama mereka dengan predikat sebagai finalis Asia Versus Grand Prix Jepang. KMC merupakan sebuah festival nonprofit yang mengundang banyak musisi luar Jepang untuk menampilkan musik mereka di hadapan publik musik Jepang. Jadi artis yang diundang tampil tidak disediakan akomodasi dan sejenisnya. Mereka harus membiayai sendiri untuk bisa berangkat dan tampil di KMC.

Peliknya usaha memberangkatkan band ke luar negeri mau tak mau harus dijalani Tokyolite. Beruntung lewat usaha crowdfunding dan bantuan beberapa sponsor mereka berhasil mengamankan dana untuk berangkat ke Jepang. Keberangkatan mereka konon juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah kota Bogor sebagai salah satu misi memperkenalkan kota Bogor lewat budaya pop.

Patut disayangkan jika mereka tak jadi datang, saya membicarakannya sebagai satu dari sekian band berkualitas Indonesia dan berasal dari Bogor yang mendapat tempat di ranah panggung internasional.

Sejak kabar mereka muncul di Jepang pada 2013, Tokyolite memang menjadi buruan untuk saya saksikan penampilan live-nya di Bogor. Kesempatan ini baru saya peroleh pada 2 Februari 2014 di RRI Bogor, pada acara “Indonesia Pro Indie” Live On Air RRI Pro2 106.8 FM. Sayangnya disana saya tak sempat berujar banyak dengan mereka, mengingat statsusnya sebagai sesama penampil bersama Cocktails.

Dari tampilan live-nya memang layak diapresiasi. Kekaguman mereka kepada band indie Jepang, The band Apart tampak terasa jejaknya. Barangkali yang membedakan ragam selera musik ditiap personelnya. Ada nuansa John Mayer, Soundgarden, Incubus hingga warna reggae. Salah satu personilnya bernama Guruh (former drum) saya kenali beberapa kali di panggung Taman Topi bersama band Ska-nya, Amento.

Musik Tokyolite yang terdengar ringan sekena-nya di telinga, aksi panggung yang tak berlebihan namun konsisten mengalir menjadi ciri yang saya kenang saat itu. Sayang, Guruh kemudian memilih menepi dari band yang membawa nama kata “Tokyo” ini. Nama yang terdengar sangat Jepang meski mereka mengaku asal tempel. Nama yang lantas membawa mereka pada acara budaya Jepang, hingga manggung di Jepang. Selanjutnya Bintang Aditya banyak bertindak di set drum Tokyolite dan dalam beberapa kesempatan mereka membawakan nomor dari EP Hello (2013) dan debut album Avenue (2015) dalam formasi Stevan, Alex, Rori dan Bintang.

Kembali pada usaha mereka terbang ke Jepang pada 2016 lalu, setelah sukses menggelar crowdfunding dan sederet upaya fundraising lainnya. Tokyolite akhirnya berhasil tampil pada 10 panggung di 5 kota di Jepang, melebihi ide awal yang hanya tampil di KMC, Osaka. Stevan dan tim menilai sayang jika effort yang sudah sejauh itu hanya dengan satu kali perform. Sebagai band “Do It Yourself” (DIY), dan sedang tidak berada dalam naungan manajemen apapun, usaha sejauh itu perlu dimanfaatkan dengan baik.

Beruntung mereka memiliki sekondan yang mengerti keinginan mereka di Jepang. Tokyolite banyak terbantu dari seseorang yang bernama Marteen yang bertindak sebagai manajer selama di Jepang. Juga ada Kenta Umezawa, gitaris dari band Banana Collection, untuk mengarahkan dan mengatur beberapa tur kecil Tokyolite di Jepang. Hasilnya, dari target semula 4-5 live house gigs, mereka tampil penuh di 10 venue yang tersebar di Osaka, Kobe, Kyoto, Fukui dan Tokyo.

Selain tampil di puncak KMC di Osaka, Tokyolite mendapat kehormatan sebagai band Indonesia pertama yang didokumentasikan pada acara Tokyo Acoustic Session. Ini bukan model acara ecek-ecek, tapi ajang music bergengsi yang telah menampilkan musisi Jepang dan internasional lainnya.

Sepertinya saya perlu memfokuskan diri untuk mengulik lebih jauh catatan perjalanan mereka selama di Jepang dalam artikel terpisah. Anggap saja ini sekedar pembuka kotak pandora dari sebuah band Bogor yang menorehkan proses selama 7 tahun dan keberanian tampil di luar negeri. Saya tulis ‘Keberanian’ bukan sekedar keberhasilan atau kesempatan semata. Kata keberanian menandai ada usaha disana hingga kita bisa saksikan video klip single Harus sebagai satu dokumentasi perjalanan tur mereka.

Selamat Tokyolite.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *