Eksklusifitas dan Kritik Seorang Awam

Eksklusifitas dan Kritik Seorang Awam

Artikel : Sekar Puspitasari

HujanMusik!, Bogor – Selama beberapa waktu, saya menjadi manusia mesin yang melakukan ini-itu tanpa rasa, tidak begitu peduli dengan sekitar, dan selalu tergesa-gesa seolah ingin segera menyelesaikan hari tanpa punya keinginan untuk dinikmati. Seperti selalu ingin sampai langsung di tujuan tanpa mau melewati sebuah proses. Sementara hidup seperti sebuah kereta, karena akan selalu ada perhentian-perhentian dan terminal akhir dari perjalanan yang dilalui. Sedangkan segala hal di kehidupan selalu mengalami perubahan. Dalam semalam, perubahan itu terus terjadi walau memang tidak terasa. Tidur saya tetap nyenyak, kemudian bangun, kemudian pergi kerja, kemudian pulang, kemudian tidur lagi. Saya tidak benar-benar berubah menjadi baru. Bukankah rasanya melelahkan ketika kamu tetap berada di satu sisi di mana kamu menonton perubahan itu tanpa bisa berbuat apa-apa? Begitupun saya.

Diawali di cerita lini masa dalam sosial media, sambil meneguk kopi liong bulan milik suami yang saya ‘musuhi’ karena tidak mengajak bertemu My Secret Identity. Kopi hitam yang tinggal setengah itu menjadi teman kala “Dip In Sweat” milik unit techno pop Monochromatic yang kelam diputar. Karakter vokal Dita membawa saya seolah sedang mendengar suara Bjork yang berpadu manis dalam musik khas Homogenic (HMGNC, -red) dan lirik lagu yang begitu mewakili alam pikiran saya yang sudah lebih dulu melayang ke segala arah seperti rintik gerimis sambil sesekali membaca banyak hal di dalam lini masa.

Malam ini saya sedang dihantui memori dan cepatnya perubahan terjadi. “The Memory Is Cruel” yang dilantunkan Russian Red membuat saya berpikir bahwa siklus perubahan itu bisa dilihat dengan jelas di sana. Persahabatan yang biasanya diisi dengan saling sapa, minum kopi bersama, tertawa, bahagia, saling menepuk pundak ketika sedih, kini hanya bisa kita intip dalam layar monokrom yang dingin. Atau merasa jengah ketika harus bertemu kembali dengan teman-teman pemusik yang seolah membangun sebuah pagar berkawat tinggi yang siap melukai kapan saja. Seolah memberi jarak dan memberi batasan diri sebagai sebuah komunitas yang paling eksklusif dengan orang lain di luar komunitas mereka. Sebut saja itu konsistensi dalam bermusik, saya menyukainya.

Namun apakah konsistensi dalam bermusik bisa juga berpengaruh secara masif dalam lingkaran interelasi? Apakah mereka hanya mau menerima hal- hal yang hanya mereka tahu tanpa benar–benar mau tahu untuk segala hal di luar dari mereka? Pertanyaan–pertanyaan itu mengiringi perubahan perspektif terhadap mereka. Dan akhirnya hal-hal sederhana itu pun harus kehilangan makna, dan saya semakin menyadari bahwa setiap jenjang memiliki dunia sendiri. Dan kadang–kadang kita tetap harus menyamakan pandangan ke segala arah. Karenanya jangan biarkan mata yang menentukan arah, bisa jadi malah ikut tersesat di jalan.

Saya dan musik mempunyai kedekatan yang erat. Segala macam jenis musik, mulai dari lagu klasik sampai keroncong dan dangdut klasik, dari pop sampai hardcore masih mengisi hari saya. Seperti anak kecil yang selalu antusias terhadap hal baru, seperti itulah saya memandang musik, khususnya musik indie. Seperti magnet yang menemukan kedua kutubnya, saya mulai menjelajahi dunia baru meskipun pusat awal saya belajar musik adalah musik klasik. Hal itu terus berkembang, dari bergabung dengan band suami yang membawakan musik sejenis Krezip hingga pertemanan dengan berbagai individu yang berasal dari beragam komunitas musik.

Mengutip perkataan Pidi Baiq bahwa setiap pemusik dan karyanya harus mempunyai eksklusifitas, dan saya setuju. Keeksklusifan sebuah musik itu nyawa, dan lagu yang dibawakan adalah udaranya. Dan jika kita hirup bersamaan tidak hanya akan menghidupi namun seperti merayakan kehidupan dengan berbagi hidup bersamanya. Namun ada hal yang sangat kontradiktif di sini, jika rasa eksklusif dalam bermusik menjadi satu alat di mana para pemusiknya hanya mau berbagi dengan komunitasnya saja? Ataukah ketika seseorang yang dianggap sebagai orang lain dari komunitasnya ditanggapi dengan begitu dingin. Sedangkan kita dikelilingi banyak hal yang menarik. Seperti salah seorang sahabat saya, seorang pemusik yang tergabung dalam satu band metal di Bandung sana, dia pun bermain dalam sebuah grup yang menciptakan lagu–lagu berbahasa sunda dengan alat musik tradisional seperti karinding, calung, kacapi dan lainnya lagi. Atau seorang teman skinhead yang kemudian mencipta lagu–lagu folk. Bukankah keduanya memiliki sisi kontra tersendiri, namun bukannya saling memunggungi mereka malah berjalan beriringan, kebersamaan yang indah.

Bukankah itu lebih menarik ketimbang hanya mau menerima tentang hal yang sudah begitu familiar? Bukankah menciptakan hal baru tanpa harus keluar dari jati diri lebih menarik dibandingkan memagari diri sebagai kaum snobis? Dan mungkin di satu momen mereka tahu hal–hal yang menurut mereka baru namun saya sudah tahu lebih dulu. Akankah saya tertawa melihat mereka menari dalam euforia yang terlambat? Terkadang kita memang perlu sesekali melihat ke atas untuk menikmati langit luas atau menikmati jingganya senja. Dan sesekali kita pun harus menurunkan pandangan agar kita bisa melompati dan menghindar dari lubang dan genangan.

Di satu sisi, saya kagum dengan kebebasan para pemusik itu dalam mencipta nada, kata yang berima, dan tidak pernah takut akan kata suka dan tidak seorang produser. Mereka begitu berani memaparkan jiwa mereka yang sangat bebas dengan jenis musik yang keras dan cepat. Di sekeliling saya banyak pemusik–pemusik hebat dan beberapa diantaranya telah menjadi sahabat paling baik.

Ahh… Saya begitu emosional. Perasaan saya yang tidak karuan, sepadan dengan lagu Monochromatic – “Song For You” dan suara jangkrik yang sudah begitu nyaring di luar rumah membuat saya makin emosional. Entah kenapa lagu ini begitu relevan dengan cerita saya saat ini. Seperti diceramahi, ditampar lalu dimaafkan diri sendiri. Seperti menarik paksa untuk mengunjungi satu tempat di pikiran, bermain–main sebentar disitu, berharap tidak terjebak selamanya disana.

Semua terasa begitu cepat dan kereta waktu melaju melebihi kemampuan saya beradaptasi. Kemudian band bentukan Domo dengan lagunya  “I Rest and Sleep” mengantarkan saya ke gerbang mimpi. Namun kali ini saya siap menikmati perjalanan kereta waktu saya, sepaket dengan persinggahan–persinggahan yang membuat saya lebih sabar dan menyerahkan semuanya kepada waktu. Karena pada akhirnya kita perlu tahu segala hal dalam pandangan berbeda, karena waktu akan menghimpit jika kita jepit. Lihat semua dari segala sisi dan sudut. Karena pandangan–pandangan itu akan menemani dalam berjalan. Karena apa yang kita lakukan sekarang masih tentang perjalanan, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *