Catatan dari Jalan Panggung

Artikel: Husni Mubabrok

HujanMusik!, Bogor – Dua bulan kemarin (Agustus – September), Bogor ramai oleh beragam event baik musik, olahraga, dan pagelaran lainnya. Seolah sudah menjadi tradisi tahunan memang, karena disokong oleh beberapa momen penting. Didahului oleh bulan Juli yang merupakan Hari Jadi Kota Bogor, disusul Agustus sebagai perayaan HUT Kemerdekaan RI, dan dilanjutkan September yang sering disebut sebagai bulan ceria.

Kami, para punggawa HujanMusik! pun lumayan kewalahan dalam membagi waktu serta memilih gigs yang akan kami datangi. Dengan jumlah pasukan yang sangat terbatas, belum lagi rutinitas kerja yang kadang menghilangkan tanggal merah di kalender, cukup membuat pikiran ngos-ngosan juga. Untungnya semangat untuk tetap enjoy dan asik aja masih terjaga dalam hati.

Di antara banyaknya gigs tersebut, saya pribadi tak terlalu banyak terlibat atau sekedar turun gunung untuk menyimak. Ya, jarak dari rumah ke pusat peradaban kota hujan yang lumayan jauh, ditambah aktivitas sebagai tukang cendol di beberapa hajatan pernikahan membuat saya cenderung pasif dan hanya bisa memenuhi kewajiban sebagai tukang koreksi typo di hujanmusik.id, itupun sering kali tidak maksimal, sampai-sampai RekanHujan yang lain harus mengingatkan saya tentang kesalahan yang tak terkoreksi.

Rasa rindu untuk berpartisipasi dalam kegiatan musik tertumpah dalam dua gigs yang kebetulan melibatkan saya sebagai penghias panggung. Saya sebut kebetulan karena untuk dua gigs tersebut, saya dipercaya membantu memainkan si enam senar di dua band milik teman, yaitu Karbit dan Cocktails.

Karbit adalah sebuah band yang sering mengcover lagu-lagu milik Benyamin S. Band ini cukup dikenal pada kisaran tahun 2010an, terutama karena Odoy sang vokalis punya banyak cara aneh dan konyol jika sudah berdiri di atas panggung. Sempat berniat mengeluarkan mini album setelah merampungkan lima lagu ciptaan sendiri, sayang niat itu belum sempat terealisasikan. Di kanal reverbnation Karbit, lagu-lagu itu akhirnya disarangkan.

Setelah cukup lama tak beraksi, 24 September 2017 kemarin Karbit kembali menginjak panggung musik di acara “Pakuan Rain City” yang digelar di depan kampus Pakuan, Ciheuleut. Selain Karbit, gelaran tersebut juga diramaikan oleh beberapa band asal Bogor dengan beragam genre, diantaranya The Rules, Pig Company, Sikil Rasta, The Alfa Stones, dan Oncom Hideung.

Sedangkan bersama Cocktails, kami melipir jauh ke wilayah Parabakti, Leuwiliang, pada 1 Oktober 2017 kemarin, dan mengajak masyarakat setempat berdansa ska dalam acara peringatan sebelas tahun Brooklyn, sebuah komunitas pemuda di Parabakti yang konsisten menggelar acara amal dan hiburan setiap tahun.

Cocktails merupakan sebuah unit Jamaican music dari kota hujan yang namanya sangat popular di Bogor dan sering mewakili Bogor dalam beberapa gigs ska-reggae di beberapa kota di Indonesia. Cocktails juga dikenal memiliki vokalis yang komunikatif, nyeleneh dan punya kekuatan untuk memobilisasi massa.

Dua gigs tersebut merupakan event yang bersifat komunal-regional. Dengan The Power of Akamsi (anak kampung situ) yang kompak dan penuh semangat, acara tersebut tersulap menjadi ruang silaturahmi yang begitu hangat. Kesederhaan dan keakraban pun menjadi jamuan yang lezat nan mewah.

Di “Pakuan Rain City” misalnya, saya berkenalan dengan salah satu band pribumi bernama Pig Company, sebuah unit grindcore yang baru saja merilis album. Band ini punya banyak hal seru, mulai dari personilnya yang hanya berdua (saya tak kuasa membayangkan bagaimana rasanya bernyanyi dengan teknik growl sambil memainkan jari yang meloncat-loncati grip gitar), serta kisah seputar album mereka yang dibiayai dan diproduksi oleh sebuah label dari Thailand. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kami bisa menuntaskan janji untuk berbincang hingga kabar lengkapnya dapat saya sampaikan bagi KawanHujan.

Di gigs itu pun saya dipertemukan kembali dengan beberapa kenalan lama seperti Iyoss (gitaris Pelangi) dan rekan-rekan Kamal Studio. Selain itu ada juga Acoy (Rocker Kasarunk), Buyung dan Sandi (SPRM), serta Coim dan Oncom Hideung. Selepas acara, beberapa di antara kami berkumpul di salah satu warung kopi dekat kampus Pakuan. Sempat tercetus ide dari Odoy untuk kembali membuat “Halal Band Halal”, sebuah acara musik yang sempat kami buat beberapa tahun lalu dengan format mencampurkan personil-personil setiap band secara random untuk kemudian tampil membawakan lagu-lagu karya mereka. Cukup banyak personil band yang ikut andil waktu itu, meski tidak seluruhnya terlibat, seperti dari Rain Blues, Super Stereo, Yaitu, D’ Bamby, Masker, Mirror, Maxis, dan lain-lain. Ya, mudah-mudahan akan ada waktu bagi kami untuk membuatnya lagi.

Sementara di Parabakti, saya dan Cocktails tiba siang hari ketika hujan mengguyur hampir seluruh wilayah Bogor. Sesampainya di sana, kami segera disambut oleh rekan-rekan panitia dari “Brooklyn 11th Anniversary”. Sambil menunggu waktu, kami ditempatkan di salah satu rumah warga dan berkumpul dengan beberapa pemuda di sana. Canda tawa lalu mengalir di sela obrolan-obrolan yang ringan namun mesra. Menyenangkan sekali.

Rupanya acara tersebut berlangsung selama dua hari. Sebelumnya (Sabtu, 30 September 2017), mereka mengadakan acara amal dan berhasil memberi santunan terhadap lebih dari 400 anak yatim. Saya angkat topi bagi teman-teman Brooklyn atas semangatnya dalam ikut serta memajukan wilayah mereka. Lokalitas yang sangat harus dipertahankan.

Yap, dua gigs di atas saya cukupkan sebagai pelipur lara di tengah kerinduan untuk terlibat dalam event musik di Bogor. Memang, dari banyaknya gigs lokal atau komunal berskala kecil dan sederhana, sepertinya tetap banyak pihak yang rindu adanya gigs besar di Bogor.

Benak saya melayang ke beberapa tahun silam ketika hampir setiap pekan, Bogor diramaikan oleh beragam event musik. Saya rindu melihat anak-anak muda berjalan berbondongan dari atau menuju GOR Pajajaran, Taman Topi, dan venue lain, dengan style dan aksesoris khas dari genre musik yang mereka gemari. Atau sekedar melihat mereka nongkrong di salah satu sudut di Bogor yang dijadikan titik kumpul hampir setiap hari. Tempat nongkrong di era milenial yang berpindah ke IG, FB, WA, Line, dan medsos lain, memang memberi banyak keuntungan, tapi tetap menyisakan rasa ‘ada yang kurang’.

Tapi bagaimanapun, inilah Bogor, dan saya tak ingin menjadikan tulisan ini sebagai ajang curhat yang semakin alay. Oktober telah tiba. Dan semoga bulan ini pun akan ramai oleh beragam aktivitas musik. Bukankah banyak yang menyebut Oktober dengan Rocktober? Ya, siapa tahu bulan ini memang akan jadi bulan yang nge-rock sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *