BAGUS dan Dialog Panggung Musik Lintas Warna

BAGUS dan Dialog Panggung Musik Lintas Warna

Artikel dan Ilustrasi : Graditio

HujanMusik!, Bogor – Sejak menerima pemberitahuan dalam bentuk poster di medsos, saya sudah berniat untuk menghadiri acara musik bertajuk “BAGUS Ke-1” alias Berbagi Panggung Musik Ke Satu. Jauh-jauh hari saya sudah menandai jadwal acara dan mencari informasi di manakah letak Safe ‘N Sound yang bakal menjadi venue acara. Sampai akhirnya saya dapat memastikan datang ke Jalan Raya Karadenan No. 39, arah Cibinong, Bogor. Sabtu (30/9) lalu.

Beruntung, sampai lokasi sudah ada Rinjani Reza dan beberapa individu yang bisa saya kenali sebagai personil band-band Bogor. Masih sepi… mungkin hujan yang menjadi penciri Bogor sesungguhnya menjadi satu alasan tertundanya orang-orang datang ke acara ini. Untuk mengisi kekosongan, saya sempatkan meninjau lapak Eternal Store untuk membungkus beberapa koleksi guna menunjang penampilan. Pilihan jatuh kepada pin The Doors dan Blackflag. Bonusnya adalah perbincangan penting tak penting seputar pemutaran film gerakan 30 September yang kebetulan bertanggal  sama dengan “BAGUS Ke-1”digelar.

Sebagaimana disinggung Rinjani Reza dalam artikel sebelumnya, acara BAGUS memiliki misi memanggungkan berbagai ganre dalam satu venue. Kalau boleh menuduh ini seperti hendak membuktikan bahwa Bogor, termasuk kami, bukanlah generasi yang mengkotak-kotakkan ganre. Kami tidak pernah membedakan mana yang bergerak di jalur major maupun indie. Yang kami inginkan hanyalah berkarya bersama dalam satu panggung dan mampu menghadirkan suguhan musik yang BAGUS.

Dari sisi konten, acara “BAGUS Ke-1” sendiri diisi oleh aksi dari kelompok seperti Bright, Decomposing Normality, Gaung (Bandung), Gunblasting (Bandung), Meryceleste, Neal dan Warlok (Purwokerto).

Oke…hujan kian menjadi-jadi dan venue mulai menghangat. Saya sempatkan berinteraksi dengan vokalis Decomposing Normality, gitaris Neal, dan lead guitar yang juga bertindak sebagai frontmen dari Gaung. Saya mencatat mereka mengapresiasi trigger yang dibuat oleh sekumpulan anak muda yang menamakan dirinya Lionglatte Colective, organizer mandiri lintas disiplin, genre, dan latar belakang, yang berbasis di Bogor.

Bahkan Rama (Gaung) mengaku bahwa ini trigger yang bagus untuk pergerakan musik di Bogor. Saya sendiri tak menampik itu, mereka terlihat mulai mensosialisasikan perihal kemajemukan dari ruang berseni. Ruang yang tak mesti diberi sekat-sekat pemisah antar genre. Dialog dengan Rama mengingatkan masa-masa saya berguru gambar dengannya di Villa Merah Bandung tahunan silam.

Udara dingin bercampur basah di luar sana benar-benar menjebak kami untuk tak ke mana-mana. Saya mensyukuri terjebak dalam acara musik. Hari itu kita semua sepakat Bogor kembali menjadi dirinya sendiri, di mana hujan mengguyur hampir seluruh titik wilayah Bogor, dan begitu pula kami di HujanMusik!, diguyur padatnya event yang harus kami hadiri.

Dari atas panggung “BAGUS Ke-1”, ada satu band yg benar-benar membuat saya harus mengernyitkan dahi. Musik mereka terdengar jelimet tapi berhasil membuat saya menikmati dan begitu enjoy mengikuti ritme mereka…ah Gaung memang sialan, musiknya bisa asyik begini. Nuansa musik progresif yang mereka bawakan sangat kental dengan kata experimental, layaknya saya menikmati karya-karya Pink Floyd. Unsur kecanggihan dari sebuah alat benar-benar mereka explore tanpa henti. Saya terpaku menyaksikan bagaimana lincahnya kaki seorang Ramaputratantra mencolek knob-knob effect, ditambah dengan gebukan pemain drumnya… progresif. Nyaris seperti melihat sosok Neil Pearth [RUSH] pada drummer Rendy Pandita. Bulan ini saya banyak menyaksikan aksi drummer semacam Rendy di beberapa kesempatan, dan itu menyita pandangan saya.

Mari kita bertepuk tangan untuk kita sendiri, saya akui keberanian Lionglatte Collective menggelar “BAGUS Ke-1” di saat The Sigit, Seringai dan Rocket Rockers memiliki jadwal tampil di hari yang sama di Bogor.

Hampir mayoritas dari seluruh band yang tampil dan hadir bersepakat dan setuju bahwa acara bertajuk berbagi satu panggung ini harus ada kelanjutannya. Baiklah, saya amiin-kan kalau begitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *