Sendu Meragu Nan Mendayu di Jembatan Merah

Sendu Meragu Nan Mendayu di Jembatan Merah

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Mendayu bersama petikan gitar, sesekali bunyi harmonika atau ketukan mallet yang memagut papan nada xylophone. Suara jembatan merah seperti beradu antara mendung tipis dengan keriuhan kota yang berjarak 52,5 Km dari Jakarta. Ramah, basah, senyap dan yang pasti sendu.

Paling tidak itu kesan pertama menyimak karya Jembatan Merah yang bertajuk “Senyap”, kelompok duo akustik Bogor yang akhir-akhir ini terlihat tampil bertiga di panggung musik Bogor itu.

Nyaris tak percaya jika karya-karya sepi mereka semula diniatkan dengan referensi punk rock ala Ramones dan Sex Pistol. Menilik profil aktor utama (vokalis-red) yang pada masanya bermain bas untuk unit punk legendaris kota hujan Indoriot, sepertinya wajar keterkejutan mengemuka. Apa mau dikata, kesulitan menemukan personil memaksa mereka menepi, mencari ruang diskusi yang pada akhirnya memilih berjalan dengan konsep akustik. Dari semula membawakan musik blues, lambat laun seiring berjalannya waktu musik Jembatan Merah mengalami metamorfosis bunyi menjadi lebih sederhana.

Entahlah, apa yang ada di benak Rinjani Reza (vokal, Glockenspiel) dan Fahriza Nugraha (Gitar) kala itu. Memilih menepi dengan memuja sepi, sampai-sampai saya terdiam untuk menandai apa maksud penggalan lirik “Senyap”, ‘aku hanya periang dari sepi’. Absurd, namun berani jujur menemukan benang merah musik Jembatan Merah.

“Semula kami tak berniat masuk ke sana, cuma ketika rilis orang-orang lah yang menyebut kami folk. Padahal kita bebas saja kok, mau dibilang duo akustik senang-senang aja,” demikian klarifikasi Rinjani Reza dalam sebuah pertemuan di markas HujanMusik! Agustus lalu.

Semula saya curiga Jembatan Merah lahir ketika Payung Teduh muncul dengan kuasa karya mereka. Fenomena yang melebihi popularitas D’Cinnamons yang lebih dulu lahir dan saya kenal. Faktanya Rinjani Reza ternyata sudah bermain-main dengan ‘kesepian’ sejak meluncurkan beberapa karya lepas yang berkutat dengan sajak, jauh sebelum menemukan bentuk Jembatan Merah.

Baiklah, saya pahami itu menilik pengakuannya soal ketertarikan pada sosok Jim Morisson dan Kurt Cobain. Sepertinya latar belakang itulah yang menjadi motivasinya bersama Fahriza meletakkan karya Jembatan Merah sebagai media utama menyampaikan pesan. Mereka bicara tentang rasa senyap dan keprihatinan atas tindakan kekerasan dan pelecehan sexual (Senyap), interaksi muda-mudi yang berusaha memaknai rock n roll dengan jalannya (Jeni Septa) hingga soal cinta menggebu dalam kereta yang berujung patah hati (Train).

Berbekal kekompakan yang mereka miliki, pada Februari 2017 lalu Jembatan Merah memberanikan diri merilis 3 lagu mereka dalam EP diberi nama “Bogor Hari Lalu”. Dicetak dalam bentuk CD dengan jumlah terbatas dan diedarkan secara mandiri dengan semangat Do It Your Self. Kenapa Bogor hari lalu? Mereka tak hendak meninggalkan semua cerita di Bogor, melainkan hendak berbisik bahwa seberat apapun persoalan yang dihadapi, Bogor harus selalu menjadi rumah dan tempat berkeluh kesah.

“EP ini kami anggap sebagai rilisan awal yang mampu memberi energi cerah untuk ke depannya,” jelas Rinjani Reza.

Dari ketiga lagu yang berada di EP ini terdapat satu lagu yang dipilih sebagai single untuk bebas unduh via soundcloud (https://m.soundcloud.com/jembatan-merah/senyap). Atau bisa pula di dengarkan secara streaming melalui itunes, spotify, amazon mp3, deezer dan lainnya.

Benar saja, minat penikmat musik Bogor memang tak bisa ditebak. Hingga Juli 2017, rilisan fisik Bogor Hari Lalu telah habis dimiliki kolektor yang menyukai karya Jembatan Merah.

Sebuah keteladanan yang bisa ditiru dari unit folk, akustik yang terlahir dari rerumputan basah dan air keruh taman kota. Dengan musik sendu meragu mereka menawarkan bunyi bunyian yang mudah terdengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *