Reuni yang Terkendali di SPRM Single Release Party

Reuni yang Terkendali di SPRM Single Release Party

Artikel dan Foto : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Ingin rasanya menulis dan memberi judul artikel sekeren yang lain, tapi apa daya, kemampuan saya menorehkan cerita hanya begini adanya. Keterbatasan diksi dan pengetahuan membuat saya dan rekan lain di HujanMusik! dengan ikhlas menerima ketika ada yang mengatakan tampilan dan bahasa blog amatir ini di bawah standar. Tidak apa, karena memang fakta.

“Reuni”. Kata itu terbersit dalam perjalanan pulang setelah menghadiri pesta pelepasan single “Year of A Down” milik unit nu metal Spread Positive Rage Movement, atau lebih dikenal dengan nama SPRM. Reuni yang saya maksud bukan soal band yang sudah membubarkan diri lalu bersatu kembali. Reuni di sini mencakup arti yang luas. Selain menampilkan band-band yang sudah punya jam terbang tinggi dan ada sejak saya masih berstatus pelajar, pesta SPRM kemarin juga menghadirkan kembali atmosfir suatu pagelaran underground yang sebenarnya. Dan dipertemukannya kembali saya dengan beberapa kawan lama menambah nilai plus. Menyenangkan…

Unit hardcore Bogor, Take One Step (TOS), tampil sebagai pembuka malam itu. Syukur saya masih kebagian energi positif yang disebarkan band straight edge ini. Mereka membawakan lagu milik sendiri seperti “Bright Life”, “This Is My Path”, dan “Semangat Muda”. Tak disangka mereka juga mengcover lagu milik Ten Yard Fight, Project X, dan Carry On. Setuju dengan komentar Sandi SPRM tentang TOS, Cadaaaasssss!!

Di mata saya yang buta soal musik hardcore, Take One Step adalah salah satu performer yang hebat. Mereka begitu energik dan akrab dengan kesempurnaan kala tampil. Kabarnya mereka baru saja menyelesaikan proses rekaman album terbaru. Mudah-mudahan HujanMusik! diperkenankan me-review band yang sering manggung di luar negeri ini secepatnya.

Setelah Take One Step, giliran unit metal yang sedang gemar berwara-wiri di panggung lokal maupun nasional. Kraken mengguncang Noble Roof Light dengan membawakan lagu-lagu dari influence mereka, Lamb of God. Terjadi sedikit insiden saat Kraken selesai membawakan lagu kedua. Warga sekitaran venue acara datang mengajukan keluhan, acara pun mengalami jeda sebentar.

Setelah digelar diskusi antara perwakilan warga dan SPRM, akhirnya pesta dilanjutkan. Kraken menutup dengan “Lawan”, single mereka yang belum lama ini rilis. Malam itu, Kraken tampil dengan additional player, menggantikan Hilman dan Fahmi yang absen karena pekerjaan. Walau dengan formasi tidak biasa, Ilham, pemain bass yang biasanya memainkan Jazz, dan Rendi dari Goblin yang juga ex drummer SPRM, menjalankan tugasnya dengan paripurna.

Saya suka dengan cara SPRM dan kru mengemas gig kemarin. Dari mulai promo, gimmick, hingga hari H dipersiapkan dengan cermat dan matang. Jeda antar line-up pun tidak terlalu lama. Satu band selesai tampil, band selanjutnya segera naik panggung, dan tanpa ba bi bu langsung menggebrak.  Selagi Mary Ann bersiap, kerumunan penonton yang tadinya malu-malu mulai mendekat ke panggung.

Band-band yang tampil pada SPRM Single Release Party. Ilustrasi : Graditio

Karya-karya lawas Mary Ann seperti “Ambisi”, “Go Away”, “Sepeda Mini”, “Introspeksi”, dan “Kenanglah Hari Ini”, memacu die hard fans mereka ikut ber-sing along. Penampilan Mary Ann seakan mengobati rasa rindu para rawkers yang hadir malam itu. Bahkan keesokan harinya, Ijey, gitaris Take One Step, memposting video berisikan lagu Mary Ann di media sosial Instagram pribadinya. “Gara-gara semalem, jadi pengen dengerin lagi lagu-lagunya Mary Ann”, begitu isi captionnya. Yah… Iyeng dan kawan-kawan memang ikonik dan dianggap legenda di skena punk melodic Bogor. Kabar gembira dari John sang vokalis, katanya Mary Ann akan segera merilis album baru akhir tahun ini. Rawk!.

Semakin malam, release party “Year of a Down” makin panas. Legenda ska, Not For Child, yang kata Teddy (vokal) jarang latihan, berhasil menambah keceriaan pesta. Teddy, yang akrab dipanggil Tenyom dan kawan-kawan sukses membuat crowd mengikuti irama dansa yang jadi ciri khas mereka. Bahkan, saat “Mufuckmuna” dibawakan, hampir semua penonton, termasuk Rinjani Reza dari Jembatan Merah, ikut bergoyang dan bernyanyi. Walau ada sedikit miss dari drummer, tapi buat saya itu tidak menjadi masalah. Malah jadi bumbu dan cerita tersendiri. Not For Child memang berkarisma, sulit dicari tandingannya.

Satu hal yang mengejutkan saya malam itu adalah datangnya para Kawanriots dari belahan jawa tengah dan timur sana. Tidak terlalu banyak memang, tapi mereka sengaja datang hanya untuk menyaksikan Superiots tampil di pesta pelepasan single “Year of a Down” milik SPRM. Dan saat itu saya, Lusdi, Joy, dan Denda yang duduk satu meja tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan mereka, senyum penuh makna. Berteriak mengikuti Bonet (vokalis Superiots, -red), berlari, melompat, moshing, body slamming, semua mereka lakukan.

Pesta malam itu membuktikan kabar bahwa Superiots mempunyai penggemar yang militan. Bertenaga, ‘merakyat’, kencang, itulah Superiots. “Pesta Kecil-Kecilan”, “Kau Tetap Punk”, “Baturan Edan” hingga “Koruptor” membuat malam itu benar-benar pecah. Entah kenapa kalau mendengarkan atau melihat Superiots bersama Kawanriots saya teringat pada Iwan Fals. Dari genre memang jauh berbeda. Tapi lirik dan kedekatan dengan penggemarnya hampir mendekati musisi senior itu.

Selepas band punk paling kekinian, tibalah waktunya Sandi, Widi Etet, Buyung, Shihab, dan Adeville menggetarkan venue. SPRM naik panggung, ambience gelap pun mendominasi. Dan lagi-lagi, tanpa banyak basa-basi, SPRM menghentak dengan “Liar”. Begitu mendengar mereka, saya langsung teringat KORN dan Coal Chamber, band nu metal yang lahir tahun 90an. Dan ternyata mereka memang membawakan lagu-lagu band nu metal tersebut.  “Loco” milik Coal Chamber, “Refuse/Resist” dari Sepultura, serta “Narcisistic Cannibal” dari KORN, meningkatkan tensi malam sehabis hujan.

Sandi (vokal) memang frontman berpengalaman. Dia tahu cara memperlakukan penonton dengan baik dan benar. Sound gig release party malam itu cukup memuaskan, meski volume vokal memang sengaja diturunkan, tapi semangat semua yang datang malam itu tidak ikut turun berkat kemahiran Sandi berkomunikasi dan menjaga kestabilan ritme. Kemudian, “Wall of Silence” dan “Under Attack”, dua single milik mereka sendiri membakar atap venue yang berada di bilangan Sukasari. Akhirnya,  “Year of a Down” si anak bungsu’, yang liriknya lahir dari tanganSandi dan sengaja dipestakan, malam itu diperkenalkan secara resmi guna menutup SPRM Single Release Party.

Sisi lain yang menarik dari release party kemarin adalah hadirnya beberapa personil band lokal Bogor. Ada yang memang menjadi panitia, sedikitnya ada dua orang vokalis band yang membantu menjalankan gig. Ada juga yang sengaja untuk menonton dan menikmati. Untuk saya pribadi, malam itu adalah reuni dengan perasaan ketika musik-musik indie dan underground menjadi raja di kota Hujan. Sebuah reuni tentu kurang lengkap tanpa kehadiran orang-orang yang pernah dekat di masa lalu. Dan dengan adanya Sandi, Handoyo, Lusdi, Joy, Denda, Acoy, Adit, Syam, Yudi, dan Teddy, SPRM Single Release Party resmi menjadi ajang reuni. Setidaknya untuk saya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *