Release Party Single Antartick : Sebuah Perayaan Perbedaan Lintas Genre

Release Party Single Antartick : Sebuah Perayaan Perbedaan Lintas Genre

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Beberapa waktu belakangan ini, setengah dari pengurus HujanMusik! menyerah pada dia yang bernama sakit. Migrain hingga hantaman flu berat mengakrabi Brok dan saya. Ini, sedikit menghambat ritme pergerakan kami untuk mengisi konten HujanMusik!. Cuaca pun menjadi tertuduh atas apa yang terjadi. Kasihan memang, manusia yang mengganggu keseimbangan iklim, cuaca yang disalahkan.

Meski begitu, demi kemaslahatan imajinasi liar dan tersalurkannya rasa haus menghadiri sebuah gig, saya memutuskan untuk datang ke pesta pelepasan single unit urban rock Bogor, Antartick, hari Minggu kemarin (03/09/2017). Pesta yang meriah dan intim.

Entah siapa yang memulai tren pesta pelepasan single seperti ini, band dan musisi seolah menjadi seseorang yang melepas masa lajang. Jika dalam sebuah pernikahan raja dan ratunya adalah sepasang kekasih, maka dalam pesta pelepasan sebuah karya, band pemilik yang menjadi tuan rumah sekaligus sorotan utama. Antartick pun mengalami hal itu kemarin.

Pertama kali menginjakkan kaki lagi di sebuah gig setelah ratusan purnama bertapa di kaki Gunung Salak, membuat saya terkejut sekaligus terkagum-kagum. Rasa teralienasi juga sempat menghantui, tapi semua lenyap begitu pasukan Superiots datang dan Helvi menghampiri.

Sepanjang acara berlangsung, saya berpikir, begitu cepat perubahan kultur terjadi. Biasanya, sepanjang keawaman saya hadir di sebuah gig, si empunya hajat mengundang rekan band yang sealiran dengan mereka. Tapi kemarin itu lain. Antartick mengajak unit musik dari beragam genre sebagai pengisi line up. Ah… ternyata saya ketinggalan jaman, masih awam!.

Saya tiba di sana saat sebuah band experimental dangdut dan psychedelic folk bernama Saptarasa bersiap menggoyang panggung di area Triple Six yang menjadi venue. Saptarasa pun berhasil membuat saya tercengang dengan keasyikan komposisi musik mereka. Selain itu, sajian Dewo dan kawan-kawan berhasil menyedot gerombolan Mery Celeste untuk maju ke depan panggung. Setelahnya, Mery Celeste naik panggung dan menggelar pesta indie rock. Setiap band yang tampil disiapkan untuk membawakan tiga lagu, dan semua taat pada aturan tersebut.

Jeans Roek sang pengusung punk and roll kemudian unjuk gigi membawakan hits-hits mereka. Penonton sepertinya sudah hafal diluar kepala lagu-lagu yang dikomandoi oleh Koran ini. Penampilan Jeans Roek malam itu juga merupakan perpisahan dengan sang bassist yang akan bekerja di luar pulau. “Sedih, Dwi lebih memilih bekerja daripada ngeband sama Jeans Roek,” kata Koran.Sungguh, saya terpesona dengan atmosfir yang dihadirkan malam itu. Tidak pernah saya mengalami atau membayangkan, di tengah keriuhan musik ala Efek Rumah Kaca, Ramones, The Vines, Pearl Jam, sampai Lamb of God, akan terdengar “Terlalu Manis”, sebuah karya lawas milik Slank. Ya, band bernama The Bokong membawakan anthem para slankers. Ajaib!.

Setelah The Bokong yang kental dengan nuansa alternatif dan blues, giliran Anang, Joe, dan Helvi beraksi. Sebelum trio Antartick itu naik panggung, ada sebuah narasi dibacakan oleh sang MC. Satu persatu personil Antartick diperkenalkan melalui sebuah kisah. Mereka membawakan beberapa lagu seperti “Get Free” milik The Vines, Teddy Picker, Mobil Butut dan tentu saja single yang dipestakan malam itu masuk set list. Akhirnya, dengan atraktif dan berenergi, “Kebas” pun resmi dilepas ke tengah kejamnya industri. Dorongan rasa bahagia rupanya membuat Antartick tampil penuh percaya diri. “Ini baru awal, tunggu saja kejutan dari kami selanjutnya,” ucap Anang, pentolan Antartick.

Band-band yang tampil dan para pendukung acara saat sesi foto bersama

Setelah Antartick sebagai highlight utama selesai, giliran Rasvala mengguncang malam bersejarah itu. Raungan distorsi khas Seattle menggemuruh, seolah ingin meluluh-lantakan Jalan Ahmad Yani. Lagi-lagi saya dikejutkan dengan komposisi musik band kekinian. Grunge yang biasanya dimainkan dengan chord minimalis, diubah sedemikian rupa oleh band yang akan segera merilis EP itu. Rasvala mengingatkan saya pada Kelelawar Malam yang memadukan grunge dengan metal.

Pesta yang mengusung tema Keren Bareng Lebih Keren itu juga menampilkan Bias Senja, Arks dan Kraken, unit metal yang namanya sedang melambung menutup pesta dengan gahar. Tiga lagu, termasuk single mereka “Lawan” menghangatkan Bogor setelah hujan. Permainan Kraken membawa saya pada memori menyenangkan tentang metal. Hilman sang pemain bass band yang sering tampil pada gelaran besar ini menyita perhatian saya. Dia benar-benar garang saat membelai gitar lima senarnya, full skill, stabil,  dan tidak kenal lelah.

Terlepas dari kekurangan yang akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia, pesta pelepasan single “Kebas” patut diberikan penghargaan sendiri. Perdebatan soal genre seolah menguap kala itu.

Ah.. terima kasih Antartick, sudah mengundang HujanMusik!, sehingga saya kembali disadarkan bahwa waktu terus berputar, jaman tetap melaju dan musik terus berevolusi. Meski saya tetap merindukan suasana dan rekan-rekan pegiat musik yang dulu, namun malam itu saya dipertemukan dengan hal baru. Dan itu cukup untuk membuat saya melupakan flu yang saya bawa ke arena Antartick Debut Single Release Party. Kalian benar, keren bareng itu terasa lebih keren dan tetaplah seperti itu, agar khasanah permusikan di Bogor tetap terjaga dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *