Musik dan Kenyataan Hari Ini

Musik dan Kenyataan Hari Ini

HujanMusik!, Bogor – Berapa bulan belakangan ini telinga kita dijejali oleh “nada nada minor” yang secara sporadis mengacak-acak tatanan dalam telinga. Seolah-olah akan mengambil alih hak telinga untuk mendengarkan nada-nada indah dari hidup ini. Telinga juga ingin “merdeka”. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka mengambil alih seluruh ruang pendengaran.Artikel : Graditio

Apakah seburuk itu bumi sekarang? Bahkan telinga ini tidak peduli akan berbentuk apakah bumi ini. Mereka hanya rindu nada-nada indah yang dibalut keselarasan perilaku sang manusia.

Pernahkah kita berpikir atas status telinga dari para tunanetra? Hak mereka untuk melihat telah gugur, lalu telinga mereka juga harus dipaksa untuk menerima suaka dari “nada-nada minor nan sumbang” yang kemudian akan menjejali ruang telinga hingga melodi indah mulai tersingkir.

Lagu “Wounds of Gaza” milik Poison Nova, band beraliran black metal asal Cirebon pun, belum cukup kuat untuk memekakkan telinga. Gebukan drum dengan ritme yang sangat padat, distorsi nada minor yang rapat, vokal dengan teriakan penuh kutukan pun masih kalah dengan kumpulan “hoax” yang membuat gendang telinga pecah karena muak mendengar repetisi omong kosong tanpa bukti.

Layaknya biduan cantik yang mempunyai pesona luar biasa dalam sebuah orkes melayu, berita tentang pembantaian atas suatu etnis, ras, suku, agama tertentu pun menjadi primadona sekarang ini. Menjadi jualan utama dari para pencari rating. “Bergema-bergema nadanya di udara” seperti penggalan lirik dalam lagu “Laguku” yang dinyanyikan oleh Erie Suzan. Seperti tanpa ampun berita itu menjejali ruang gema di telinga, berita-berita tersebut seolah menggema dan berulang ulang. Perang selalu dijadikan senjata. Untuk kaum berkuasa mengeksploitasi si lemah, seperti yang telah dituliskan pada lirik “War Pigs” milik Black Sabath.

“Politicians hide themselves away
They only started the war
Why should they go out to fight?
They leave that role for the poor, yeah

Time will tell on their power minds,
Making war just for fun
Treating people just like pawns in chess,
Wait ’till their judgement day comes, yeah”.

Dan untuk bumi yang bahkan masih ragu akan bentuknya, kejadian seperti ini selalu berulang, berulang, dan berulang layaknya rima dalam sajak. Kita dapat menebak akhirannya walaupun terkadang meleset.

Bukankah untuk mendapatkan sebuah perdamaian hanya cinta yang dapat menghantarkan kita? Bahkan untuk bertemu dengan Tuhan sekalipun. Persis seperti kata Kula Shaker dalam “Only Love” “And if you’re searching for the Mighty One. Only love will take you there”.

Kita harus membayangkan hidup seperti yang diceritakan John Lennon pada syairnya di lagu “Imagine”. Mungkin saya tidak akan menulis segamblang itu, karena akan terlihat sangat liberal. Tapi alangkah baiknya sebelum kita berpikir atas status siapa kita, mari kita mulai dari status yang paling mendasar, status kemanusiaan kita. Mungkin itu yang jauh tertinggal dari pemikiran kita sekarang. Kita boleh menggunakan hak kita, tapi ingat hak kita dibatasi oleh hak orang lain.

“Now Nation” dari Matajiwa yang berirama rancak sangat cocok dan seolah menampar kita melalui hentakan perkusi yang dimainkan oleh Reza Achman dan vokal Anda Perdana yang lantang menyuarakan perdamaian, bahwa kita itu adalah satu. Iya…Kita itu satu, kita ini sesama manusia, kita akan selalu membutuhkan satu sama lain, sampai bumi ini tak berbentuk.

Seharusnya kita sudah mulai bosan untuk membiarkan segala berita sumbang untuk masuk memenuhi telinga kita, bahkan untuk sekedar mengetuk pun jangan dibiarkan. Tutup rapat pintu telinga dari berita liar tanpa arah.

Mari kita ambil alih kembali hak telinga untuk mendengar nada-nada indah dari sekeliling. Kita harus mampu membuat segala sumber berita positif. Ciptakan.. Iya betul, ciptakan. Jika memang dunia ini tak mampu menyediakan. Kita pasti bisa, ya kita pasti bisa. Seperti shouting Fade2Black dalam lagu “Pasti Bisa”.

Mulailah hari dengan segala aura positif… Jangan saling menyakiti, minimal kita berusaha melakukan itu setiap harinya. Saling introspeksi diri, hadapi kenyataan dengan penuh rasa optimis. Masa keemasan mungkin sudah berlalu, tapi bukan hal yang mustahil untuk kita dapat mengulang moment itu kembali. Pesan  The Vines dalam lagu “Winning Days”.

Hiduplah dengan perasaan adil tanpa harus mengadili persepsi, karena memang sesungguhnya kita tidak berhak memutuskan atas segala bentuk penghakiman. Hiduplah dengan saling menghargai, jangan biarkan telinga kita diambil alih oleh kabar simpang siur. Pakai mata zahir, mata hati, dan telinga untuk menyerap nada- nada yang berkeliaran di sekeliling kita, niscaya nada-nada indahlah yang akan memenuhi ruang telinga. Itulah pesan dari Seringai melalui “Mengadili Persepsi” yang digabung dengan “Strawberry Fields” milik The Beatles.

Beberapa lagu dan artis yang saya sebutkan, diharapkan dapat membantu KawanHujan (panggilan untuk pembaca hujanmusik.id) menetralisir keadaan yang membuat jengah KawanHujan akhir akhir ini. Dan semoga curhatan kegelisahan saya ini, sedikitnya bisa memberikan efek positif, setidaknya enak untuk dibaca. Kalau itupun tidak terlaksana, itu bukan salah saya, anda saja yang tidak dapat mengambil nilai positifnya… Hahaha just kidding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *