Surat Cinta Untuk Daramuda

Surat Cinta Untuk Daramuda

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Duduk di teras belakang, ditemani kopi dan sisa rasa seduhan bunga telang sore tadi. Walau tidak punya bukti ilmiah, saya yakin bunga berwarna biru itu memberikan efek begitu kuat sampai saya berpikiran untuk berhenti merokok.

Di sebelah, duduk Sekar yang saya paksa untuk mencurahkan kegemarannya bernarasi tentang apa pun, yang pasti harus sejalan dengan visi HujanMusik!. Dari speaker laptop di pangkuannya terdengar lagu-lagu pilihan saat dia membutuhkan dorongan untuk menulis. Kartika Jahja, Frau, Payung Teduh, Tigapagi, hingga Dua Ibu, bergantian mengiringi gemulai jarinya memainkan keyboard laptop.

Sementara saya sedang meramu ajian, guna merayu tiga wanita cantik yang fasih bernyanyi. Meracik sebuah pernyataan tulus demi menggugah mereka agar datang ke Bogor lalu mengobati kerinduan dan rasa penasaran saya terhadap pesona ketiga dara muda tersebut. Semoga alam raya mengeluarkan kesaktiannya sehingga memotivasi mereka ‘berselancar’ ke hujanmusik.id dan membaca surat cinta dari saya.

Teruntuk Sandra, Rara, dan Danilla,

Di Lain Pulau dan Benua

Salam Rindu,

Hei Sandra, kamu tidak rindu pada Bogor? Tempat kamu menghabiskan masa kecil. Kota di mana ibumu memberikan ‘Bahasa Hati’ untuk rekan saya, Anggit. Kenapa tidak dikirimkan ke alamat saya di kaki gunung salak, dekat venue pertama kali kita berjumpa? Sandra…kue ape kesukaanmu titip salam. Katanya, kapan kamu akan bernyanyi lagi untuknya, memetik gitarmu di bawah pohon rindang, memainkan melodi sepenuh rasa. Sandra, ajak Rara dan Danilla berkunjung ke Bogor, biar mereka tahu betapa basah dan macetnya  kota hujan. Basah, macet, tapi atmosfir musiknya sedang menggeliat. Nanti saya ajak minum teh di tempat favorit saya. Asal kamu bernyanyi bersama Daramuda.

Apa kabar, Rara? Perkenalkan, saya Rizza. Kamu tidak kenal saya, tapi saya tahu kamu seperti orang lain yang mengikuti  Banda Neira dan kamu mafhum soal itu. Tugasmu menyanyi di Banda Neira dijalankan dengan baik, dan sekarang ada Daramuda. Ah tidak sabar rasanya menyimak karya kamu dan dara lainnya. Rara…kalau tidak salah Ben tinggal di Bogor, kan? Apa tidak rindu bercengkerama lagi dengan pengagummu di sini? Tidak ingin bernyanyi bersama Sandra dan Danilla di Kebun Raya atau tempat bersejarah lainnya? Rara.. Bogor tidak kalah keren dari Selandia Baru. Pulanglah, Rara….

Dan kamu Danilla, terima kasih atas kejutan “Tidur Bersama”-nya. Di tengah riuhnya Daramuda, tiba-tiba film pendekmu bersama Tigapagi menyemarakkan hidup saya. Perpaduan aneh sebenarnya. Musik jazz yang jadi warnamu membaur akrab dengan not pentatonis khas Sigit, Eko, dan Prima. Aneh, tapi begitu memikat sekaligus mengikat. “Tidur Bersama” saya jadikan intro sebelum kamu, Sandra, dan Rara menyelesaikan proyek bersama. Danilla…ayo kita bikin pesta di sebuah rumah kopi yang kian menjamur di Bogor raya, perayaan lahirnya karya agung dari rahim Daramuda. Tenang saja, walau ukurannya jelas berbeda, kamu pasti bahagia.

Dalam imajinasi saya, Daramuda adalah perpaduan Lhasa de Sela, Norah Jones, dan Marketa Irglova. Folk dan Jazz melebur jadi satu kemudian menghasilkan karya hebat yang akan diingat untuk waktu yang lama.

Hei kalian bertiga, saya begitu bergairah menyambut Daramuda. Penasaran akan jadi seperti apa. Sayang tidak ada Elda, yang bisa jadi penambah rasa. Musik menyatukan kalian sebagai Daramuda, dan semoga musik pula yang akan mempertemukan kita, di kota kecil dekat Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *