Stand Clear, Keep it Clear, Keep Bogor Straight Edge

Stand Clear, Keep it Clear, Keep Bogor Straight Edge

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Pada suatu ketika, dalam tulisan terakhir di hujanmusik.id, saya menyitir satu statement penting Aristoteles yang menyatakan bahwa musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Catatan indah yang tepat untuk memberikan motivasi penikmat musik, pelaku dan simpatisannya. Tapi dalam kehidupan nyata, sitiran Aristoteles tidaklah serta merta tumbuh dan berkembang baik. Setidaknya itu yang saya alami sendiri.

Sebagai sebuah kultur, musik memang terus berubah demi berperan secara mandiri, melengkapi peradaban manusia hingga kini. Penikmat dan pelakunya pun dari masa ke masa kerap berjibaku dengan stereotip budaya yang sarat tambatan negatif. Apalagi kalau bukan soal hedonisme, label konsumsi zat aditif, minuman keras, pergaulan bebas dan stereotip sekelas lainnya. Padahal sematan di atas kalau mau diukur dengan benar, tak melulu di seputaran mereka yang aktif dengan musik. Meminjam istilah baku yang disarankan, sebut saja itu ‘oknum’.

Tak sedikit mereka yang bertahan di dunia musik karena alasan idealis, hobi dan atas nama konsistensi. Alih-alih menjawab kritikan, namanya juga musisi, banyak diantaranya cukup menjawabnya dengan karya.

Yah…stereotip memang menggelikan, tapi itulah kenyataan. Ditambah ‘di luaran’ banyak yang enggan membaca, mencari tahu dan mendalami barang sejenak. Tapi dengan mudahnya memberikan stampel soal apa yang kita dengarkan.

Satu waktu saat menyimak single “Courage” secara streaming, rilisan terbaru dari kelompok Stand Clear, seorang kolega melontarkan gurauannya. “Kau itu aneh, minum enggak, merokok juga enggak… tapi playlist mu bahaya gitu.”

Untuk sesaat saya tak perhatikan gurauannya, namanya juga bergurau. Tapi selang beberapa hari barulah menyadari, kawan saya satu itulah yang justru perlu dibantu dengan referensi. Apalagi latar belakangnya sebagai aktifis lingkungan ibukota, saya merasa berkepentingan menyadarkan bahwa tak ada hubungan keanehan antara yang didengarkan dengan gaya hidup yang dijalankan.

Dari musikeras.com saya ketahui bahwa Stand Clear adalah band hardcore yang sudah menggeliat di Bogor sejak 2012.  Sejak berdiri, kelompok ini nyata-nyata memilih tema seputar straight edge sebagai panduan karyanya. Mereka baru saja melepas EP bertajuk sama dengan single yang beredar, “Keep It Clear, Keep It Alive”, Juli 2017 lalu.

Kenyataan inilah yang kemudian saya teruskan informasinya kepada kawan tadi. Musik keras tak harus dengan membakar rokok dan menenggak minuman label keras. Pranala wikipedia soal ini cukup membantu menjelaskan.

Straight edge adalah sebuah gaya hidup, filosofi dan pergerakan anak muda yang tidak menggunakan narkoba, penggunaan minuman beralkohol, merokok dan hubungan sex bebas (casual sex). Dalam riwayat kelahirannya awal tahun 80-an, straight edge tumbuh dalam sub kultur hardcore/punk dan menjadi motivasi hidup untuk tidak merusak diri sendiri dengan mengonsumsi zat-zat/ hal-hal yang dianggap berbahaya untuk diri sendiri dan penyikapannya kembali kepada kontrol individu. Gaya hidup straight edge mencoba untuk memberikan alternatif baru di skena hardcore/punk yang sangat identik dengan kebiasaan mabuk dan kerusuhan yang muncul kala itu.

Penggalan catatan dari wikipedia itu rasanya cukup membuat saya puas memberikan pemahaman soal itu. Sah sudah melengkapi playlist hardcore di komputer kerja kantor.

Pekerjaan rumah berikutnya tinggal menyampaikan kepadanya, bahwa saya tak tahu-menahu dan tak ada hubungan dengan komunitas maupun peminat straight edge, sebagaimana kolega saya Didi Saiful Mahdi. Saya sekedar berhenti merokok sejak akhir 2007 dan punya masalah mengkonsumsi daging. Itu saja.

Kembali kepada Stand Clear, secara pribadi saya tak mengenal satu-persatu punggawanya, kebiasaan streaming lah yang membawa saya bertemu dengan rilisan mereka. Tulisan ini pun dibuat bukan dengan wawancara, hanya merujuk beberapa catatan media daring yang pernah mengulas mereka.

Pendeknya, saya musti angkat topi dengan kelompok ini. Mereka mau dan mampu menggunakan nama Bogor sebagai sematan sebutan mereka, STAND CLEAR BOGOR STRAIGHT EDGE.

Dokumentasi karya mereka sudah muncul dalam bentuk album bertajuk “Starting Point” yang rilis 2014 dalam format CD dan kaset. Selanjutnya Fadly Maulana (vokal), Ihsan ‘Ichan’ Maulidin (gitar), Rizal Firmansyah (gitar), Muhdiyan (bass) dan Arif ‘Peloy’ Wijaya (drum), menambah koleksi dokumentasi dalam bentuk EP tahun 2017 ini.

Ada satu hal yang menarik perkara interaksi saya dengan satu personilnya. Suatu ketika dalam kunjungan singkat ke Eternal Store di lokasi sebelumnya, Jalan Dadali, saya saksikan Ichan yang sibuk melayani permintaan pengunjung berseragam putih-biru, mereka menanyakan merch bertuliskan ‘canabis’.

“Canabis lu tau artinya ga? Repot urusannya. Yang lain aja. Banyak yang keren, kok,” terangnya.

Menarik, di saat yang lain tak peduli perkara edukasi, cara Ichan menangani pengunjung tokonya bisa jadi inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *