Nyanyian Bumi: Beyond Soundscape

Nyanyian Bumi: Beyond Soundscape

Artikel dan Foto : Dony P. Herwanto

HujanMusik!, Jakarta – Pada 1952, John Cage membuat komposisi dan pertunjukan yang diberi judul 4’33. Selama 4 menit 33 detik, dia hanya duduk diam di depan piano dan tidak melakukan apapun kecuali gerakan-gerakan kecil: menaikkan dan menurunkan lid piano. Hanya suara-suara kecil yang terdengar oleh penonton.

Dalam pertunjukan itu, Cage sedang menggugat dikotomi suara dan kesunyian. Cage berargumen bahwa perbedaan suara dan kesunyian tak pernah ada. Bagi Cage, kesunyian itu absence of sound.

Jauh setelah karya kontroversi John Cage, sekira 65 tahun, Jamal Gentayangan, alumnus pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar pertunjukan betajuk “Nyanyian Bumi”. Ini memang bukan pertunjukan kali pertama Jamal Gentayangan membawakan komposisi “Nyanyian Bumi”. Silam, sekira 6 tahun yang lalu, Jamal dan beberapa seniman yang tergabung dalam sebuah lembaga kesenian bernama Persada Etnika Bogor melakukan road show ke sejumlah kota di Pulau Jawa dan Sumatera.

Namun kali ini, apa yang ditampilkan Jamal di Graha Bhakti Budaya dalam Post Fest 2017 yang diinisiasi IKJ, jauh berubah dari konsep awal. Lompatan sentuhan yang patut didiskusikan bersama. Apa yang pernah ditampilkan 6 tahun silam, dibongkar dan diberi sentuhan bunyi khas Kepulauan Bangka Belitung dan Banyuwangi. Nada-nada suku Osing berkelindan dengan nada-nada khas Kepulauan Bangka Belitung. Hasilnya, kata Sardono W. Kusumo – maestro tari – mampu membangkitkan imajinasi kolektif tentang nusantara.

Jamal yang hingga kini masih percaya tentang konsep “total silence” dalam bermusik, benar-benar perkasa di atas panggung. Pertunjukan “Nyanyian Bumi” dibuka dengan kesunyian yang mendalam. Dua orang penari masuk dari pintu sebelah kanan panggung. Bergerak monoton dari bawah ke atas panggung. Dua penari itu terus bergerak. Jamal dan beberapa pemusik diam di atas panggung yang suram. Begitu sunyi.

Konsep pembukaan yang digarap Jamal, mengingatkan saya akan pertunjukan John Cage yang pernah saya lihat di YouTube. Saya tidak begitu peduli dengan kejutan apa yang akan ditampilkan Jamal dan kawan-kawannya dari Banyuwangi dan Bangka Belitung setelah dua penari itu keluar panggung. Saya tak peduli.

Saya benar-benar fokus, menyimak setiap bunyi yang hadir saat dua penari dari Bangka Belitung itu masuk ke ruang pertunjukan. Saya benar-benar menyimak. Saya mendengar detak jantung saya sendiri. Saya mendengar suara kertas dilipat. Saya mendengar suara kancing tas. Saya mendengar suara kaki yang bergeser dari posisi semula. Saya mendengar suara bising orang-orang di luar gedung pertunjukan.

Soal gerakan yang monoton, itu tak jadi soal. Tapi bagaimana menghadirkan bunyi di kesunyian, itu yang luar biasa bagi saya. Bahkan suara terkecil dan terjauh pun terdengar hingga ke dalam ruang pertunjukan.

Seperti tertulis di website gutterspit.com, Cage bahkan tak menemukan apa yang dia sebut total silence. “Dimanapun, ketiadaan suara adalah hal yang mustahil,” ucapnya ketika berada di dalam ruangan anechoic di Harvard University. Anechoic adalah sebuah ruangan yang dapat membuat seseorang mendengar suara apapun yang dihasilkan dalam ruangan tersebut, bahkan sirkulasi darah dan detak jantungnya sendiri.

Saya mengikuti proses kreatif Jamal Gentayangan sudah sejak lama. Saat dia masih mengajar di SMAN 7 Kota Bogor dan menjadi Dosen di FKIP Unpak Bogor. Saya kerap menginap dan berdiskusi di rumahnya di salah satu perumahan di Ciomas, Bogor. Rumah yang begitu tenang, jauh dari bising kendaraan, memang berkontribusi terhadap karya “Nyanyian Bumi” yang digarap dengan konsep soundscape itu. Meski hanya sekira 10 menit, saya rasa konsep soundscape yang dihadirkan Jamal cukup memiliki daya kejut yang luar biasa.

Bagaimana tidak, di tengah hingar bingarnya genre musik, Jamal Gentayangan mengembalikan esensi suara pada tempat tertinggi. Kesunyian.

Apa yang dilakukan Jamal Gentayangan memang tak sepenuhnya sama percis dengan apa yang dilakukan John Cage dengan karya 4’33 yang kontroversi di jaman itu. Tapi paling tidak, Jamal Gentayangan tengah menantang kepekaan indera pendengaran kita untuk menangkap suara terkecil dan terjauh yang kerap kita abaikan.

Nyanyian Bumi memang bukan murni soundscape. Juga bukan total silence. Tapi ada satu bagian dari pertunjukan itu yang – meskipun porsinya tak banyak – patut dijadikan pijakan diskusi terkait total silence, absence of sound dan soundscape. Dan “Nyanyian Bumi” juga pernah dipentaskan di Kota Bogor. saat itu dipentaskan di Aula Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor di Jalan Padjajaran.

Ketika pertunjukan usai, saya dan beberapa kawan seniman dari Bogor yang kebetulan hadir menyaksikan karya ideologis Jamal, menghampiri dan mengucapkan selamat atas pertunjukan yang luar biasa. Di sela obrolan, saya bertanya kepada Jamal, “Kenapa dibuka dengan konsep soundscape?” Jamal menjawab, “Saya hanya ingin menghargai suara.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *