Meretas Domestikasi Hip Hop Fade2Black

Meretas Domestikasi Hip Hop Fade2Black

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor –  Musik hip hop atau hip-hop atau rap pada dasarnya adalah cara berbicara yang disuarakan melalui rima dan musik latar yang ritmis. Setidaknya begitu menurut laman Wiki. Teknik ini kemudian berkembang sebagai bagian dari budaya hip-hop. Biasanya, rap diiringi oleh DJ atau oleh sebuah band. Rap dapat juga ditelusuri kembali ke akar Afrika, di mana berabad-abad sebelum musik hip-hop ada, Afrika Barat telah memberikan cerita berirama yang bernama griots, lebih dari drum dan instrumentasi jarang. Koneksi tersebut telah diakui oleh seniman masa kini, dan dengan sendirinya hip-hop mengalami domestikasi dan menyesuaikan dengan budaya di wilayah yang diinvasinya.

Pakar linguistik Indonesia, Benny H. Hoed, pernah mengatakan bahwa biasanya bahasa sumber merupakan produk dari kebudayaan atau peradaban yang dianggap lebih tinggi atau lebih maju. Penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran dan sesuai dengan kebudayaan dan dapat dipahami seakurat mungkin oleh masyarakat. Proses usaha ini lah yang dinamakan “domestikasi”. Dan secara tidak langsung hip-hop menjadi semacam bahasa sumber di dunia musik.

Di Indonesia, hip-hop berkembang cukup pesat, dimulai oleh Iwa K dengan debut album “Kuingin Kembali” pada tahun 1993, kemudian muncul banyak musisi mengikuti jalan Iwa K tersebut. Album kompilasi Pesta Rap 1 yang rilis pada tahun 1995 pun melambungkan nama-nama seperti Black Kumuh, Boyz Got No Brain, dan Blake.

Bogor juga punya grup hip hop besar yang namanya tersohor di delapan penjuru angin blantika musik Indonesia. Beberapa hari lalu, HujanMusik! akhirnya bisa nongkrong bareng mereka, yah.. walau cuma ada Tito dan Coki, tapi sangat menyenangkan mengingat Fade2Black menjadi salah satu target besar kami, ditambah Tito itu orang sangat hobi bicara dan bercanda, pas untuk ukuran seorang rapper.

Ditemui di WORDZ, markas besar Fade2Black, Tito aka Titz Gomez membuka obrolan dengan menawarkan kopi atau minuman lain, yang diiyakan oleh saya, Brok, dan Graditio.

Fade2Black berdiri pada tahun 1999 dan merupakan gabungan dua band berbeda aliran. Sebelum mendirikan Fade2Black, Tito dan Ari aktif mengusung hip metal dan rap core bersama band mereka, dengan Rage Againts The Machine dan Dog Eat Dog menjadi referensi. Sementara Eza tergabung dalam band metal ala Slipknot bersama Dito, ex-gitaris Cause, yang juga personil Efek Rumah Kaca. Formasi full band inilah yang menjadi cikal bakal Fade2Black.

“Waktu itu, Eza main drum, Anan keyboard, Erwin gitar, Dito main bass, gue sama ari nge-rap. Tapi karena terasa kurang rame, diajaklah Coki sama Adit,” jelas Tito. Karena kesulitan mengatur waktu dan terasa ribet, akhirnya Erwin dan Dito mengundurkan diri dan Eza ikut ngerap.

Tahun 2002, Fade2Black merilis album indie bermaterikan 10 lagu. “Jualannya hand to hand atau di jalan gitu,” kenang Tito.

Saat kuliah di Universitas Indonesia, Tito satu fakultas dengan Bondan Prakoso yang saat itu sudah tidak aktif di Funky Kopral. Mereka sering berbagi panggung dalam proyek musikalisasi puisi, dan dalam perjalanannya sering berdikusi tentang musik.

Tahun baru 2004, Tito dan Anan berinisiatif menggelar “Streetsound” di parkiran Gramedia Jl. Pajajaran. Tidak disangka gig tersebut sukses dan banyak klan-klan B-Boy yang unjuk kebisaan malam itu.

“Ternyata, Streetsound sampe ke telinga Bondan lewat Angga (vokalis Fungky Kopral). Pas gue pulang Battle Rap di Bandung, Bondan kontak gue. To, mau bikin project nggak sama gue? Lo nge-rap gue bikin musik. Gitu katanya,” papar Tito sang Sarjana Sastra Belanda.

“Visi gue adalah bawa Fade2Black ke atas. Gue share sama Bondan dan dia setuju, lahirlah Bondan Fade2Black,” lanjutnya.

Sayang, waktu Bondan mewacanakan perpaduan menarik itu, Coki dan Adit tidak bisa terlibat karena kesibukan dan kondisi kesehatan. Formasi Bondan Fade2Black pun terbentuk dengan Bondan pada Bass, Tito, Ari, dan Eza Emcee (nge-rap, red). Tidak lama kemudian lahirlah “Bunga” sebagai karya pertama mereka.

Domestikasi dalam konteks musik bisa dipadankan dengan upaya penerjemah (musisi) menerjemahkan ide dari sebuah materi lagu sehingga bisa diterima dan dimengerti oleh pendengarnya. Sudah tentu sang musisi harus memiliki kemampuan yang mumpuni guna mencapai tujuan tersebut. Dan rasanya, Fade2Black sudah melakukan itu dengan bukti Platinum Award melalui album “For All”.

Jangan berpikir cerita tentang Fade2Black berakhir di sini. Masih akan ada lagi karena perjalanan mereka begitu panjang. Dan semoga, nama mereka pun akan terus terpatri dalam ingatan hingga seratus tahun dari sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *