Menarik Memori, Meresapi Music for Sale

Menarik Memori, Meresapi Music for Sale

Artikel Rizza Hujan

[HujanMusik!], Bogor  – Ada masa di mana beberapa genre musik merajai tren di Bogor. Punk, ska, grunge, meledak di awal 2000an, emo dan metal di antara tahun 2005-2006, ada juga reggae yang selalu menjadi highlight di banyak panggung musik pada medio 2010-2014.

Di tengah gencarnya gempuran musik berdistorsi dan ritme cepat atau irama mengajak dansa, ada satu band yang dengan gagah berani memainkan musik pelan. Mereka begitu santai melantunkan nada-nada ringan dan lirik bertemakan cinta. Anomali.

Radit, Topan, Dion, Leo, dan Mario seolah tidak terganggu oleh hingar bingar dunia underground. Mereka terus melaju sampai beberapa lagunya terpilih menjadi soundtrack sebuah film.

Saya mendengar lagu “So Right” sekitar enam tahun lalu ketika menyibukkan diri di sebuah majalah gaya hidup. Kawan saya, Aditia ‘Conan’ Nugraha melontarkan sarkasme tentang musik yang sering saya mainkan dengan volume kencang.

“Coba atuh tong nu berdistorsi wae lagu teh, supaya cerdas,” begitu kira-kira. Saya dan Music for Sale pun resmi berkenalan dengan perantara Conan dan youtube.

Video klip “So Right” pun membunuh playlist saya. Pertama kali mendengar harmoni musik dan karakter suara vokalisnya, saya pikir mereka berasal dari luar. Yaa.. saya tidak buta-buta amat dengan musik pop atau pop rock. Copeland dan Glen Hansard pernah mewarnai hari-hari saya di masa sebelumnya. Jadi, sedikit bisa membedakan mana musik lokal atau yang berasal dari luar, mana yang bagus mana yang biasa saja, minimal buat saya sendiri. Tapi saya tertipu kala itu, “So Right” seolah ingin menegaskan bahwa saya tidak tahu apa-apa, awam!.

Saya tidak mengenal punggawa Music for Sale secara personal, tapi dari artikel yang saya baca dan celotehan Conan, saya tahu mereka orang-orang idealis asal Bogor dengan pengaruh musik berbeda. Spektrum yang luas dari gaya musik beragam membuat racikan unit yang terbentuk tahun 2006 ini begitu mudah untuk dinikmati, entah untuk pendengar atau bandnya sendiri. Cerebrum bagian kanan saya menyerah dengan belaian harmoni indah itu. “So Right” lagu cinta, tapi bukan jenis cheesy dengan lirik menye-menye. Menurut saya musik mereka sangat berkelas dan menjual. Pas dengan nama Music for Sale.

Komposisi materi Music for Sale terpengaruh dari beragam jenis musik, mulai dari jazz, rock, blues, dan pop. Mendengarkan mereka sedikit mengingatkan pada Five for Fighting atau Dave Matthews Band. Musik mereka begitu kaya dan bisa masuk ke telinga mana saja. Sangat jarang band seperti ini.

“So Right”, “Far From You”, dan “I Don’t Know” terpilih menjadi pengisi soundtrack film “Hari Untuk Amanda” garapan Angga Dwimas Sasongko. Bersamaan dengan rilisnya film ini pada tahun 2010, Music for Sale merilis album “Daydream”. Album ini berisi sebelas track yang  menjadi awal kiprah mereka. Sayangnya, setelah itu, Music for Sale seakan menghilang ditelan jaman.

Entah mereka sekedar vakum atau sudah membubarkan diri. Tapi, harapan tetap hidupnya Music for Sale yang menjual akan selalu ada dalam diri saya.

One thought on “Menarik Memori, Meresapi Music for Sale

  1. Halo dari MFS, kami sedang menggarap
    Album kedua kami yang who knows when selesai nya 🙂

    Thanks buat supportnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *