Kopi dan Mantra Bogor Biru

Kopi dan Mantra Bogor Biru

Artikel : Sekar Puspitasari

HujanMusik!, Bogor – Bagi saya, Bogor, kopi dan musik, adalah penyihir. Bogor medianya, kopi tongkat sihirnya dan musik adalah mantranya, yang bisa mengubah diri menjadi apapun atau siapapun yang sanggup terpikirkan. Kopi dan musik menyimpan daya magis luar biasa yang akan selalu disatukan oleh rapalan mantra-mantra dalam balutan semangat dan inspirasi yang tidak pernah kosong. Semacam kolaborasi di mana uap kopi yang mengepul dan nada-nada yang ikut terhembus di udara menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya terasa lebih dahsyat saat menghabiskan hari di kota hujan, Bogor. Dan saya bisa menikmatinya tanpa lelah di tempat-tempat atau suasana itu, seolah ketiganya mampu menyimpan jejak yang sengaja ditinggalkan untuk menulis kenangan. Dan ini adalah cerita tentang melewati hari bersama Bogor, kopi, dan musik, yang sering saya sesap bersamaan dalam waktu-waktu tertentu.

Dimulai saat matahari terbit, saat itu selalu ada fragmen melankolis khas pagi yang bisa membuat saya bersenandung sambil menyalakan pemutar musik, meninggikan volume suaranya, sambil bernyanyi lagu “Don’t Let Your Feet Touch The Ground” milik Ash Koley dengan penuh semangat, kemudian menyeduh air sambil menyiapkan sesajen kopi. Musik yang riang ditemani secangkir kopi mocca latte yang ringan, satu paket dengan udara Bogor di pagi hari yang sejuk dan wangi embun di daun-daun dapat membantu saya mengubah nada A minor menjadi C atau G ke F ke C lagi, hingga cukup untuk menyimpan tabung daya.

Semesta selalu memiliki sistematika tersendiri dalam mengubah hal–hal sederhana menjadi sebuah musik istimewa yang bisa menghadirkan sepasukan kupu–kupu yang siap menggesekkan sayapnya di perut dan membuat saya jatuh cinta dalam segenap penerimaan. Seperti ketika derap hujan di atas genting memainkan perannya sebagai pemusik handal yang meramu keseluruhan rasa dalam elemen terbaik untuk mencipta inspirasi.

Ah…kota ini memang tidak pernah kehabisan stok hujan, bahkan di saat matahari bersinar terik. Semerbak petrichor (aroma hujan saat turun dan menyentuh tanah kering, -red) dan hujan yang berjuntai adalah tempat kubangan mimpi yang tidak pernah surut. Setiap wangi cafein yang terhadir di denting cangkir kopi hot Americano dan lagu “Dialog Hujan” oleh Senar Senja adalah partikel penentu dalam mewujudkan sensasi gempa bumi pribadi ketika saya menggigil oleh rindu.

Kemudian, senja mulai memamerkan pesonanya. Dengan genit tersenyum dalam warna kemerahan di pipinya yang merona. Ada secangkir kopi frappucino dan setangkup buku yang siap saya lahap di bangku taman. Yaa… karena Bogor seolah hendak menjadi firdaus untuk saya dengan merebaknya berbagai taman. Sementara itu lagu “Bogor Biru” milik SORE mengalun di langit yang merefleksikan dua sisi dari sebuah pertemuan dan perpisahan di sore itu. Seolah membuat ruangan berjendela yang memaksa saya mengumpulkan kepingan memori tentang apapun yang hinggap di dinding ingatan. Meski sendirian, saya merasa ramai oleh hiruk pikuk pintu kenangan yang bermunculan satu persatu.

Menuju malam, biasanya saya mengunjungi kedai kopi di bilangan Sancang yang selalu menjadi andalan guna melepas penat setelah seharian bergelut dengan masalah kehidupan. Mencuri pandang pada perempuan dan lelaki yang berbicara seru di pojokan sambil sesekali memerhatikan jalanan berlansekap kemacetan kendaraan adalah kegiatan yang saya suka. Aroma getir kopi Vietnam bercampur pembicaraan sentimentil menjadi aroma paling khas di malam hari. Sedangkan waktu memburu dalam kecepatan dan lagu Float bertajuk “Pulang” seolah menyuruh saya untuk segera menyandarkan ransel mimpi ke tempatnya dan bergerak menuju ke rumah sambil menenteng senyuman dengan ringan.

Menikmati hari di Bogor memang penuh dengan keajaiban, apalagi ditemani kopi dan hujan sebagai pasangan ideal, dan musik adalah pelengkap ajaib yang tiada dua. Seperti sebuah penggalan kata dari Profesor Albus Dumbledor dari cerita “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” bahwa “tidak ada hal yang paling magis dari musik”. Dan mungkin memang benar bahwa Bogor, kopi, dan musik, adalah penyihir yang bisa berubah bentuk menjadi cerita melankolis atau getir. Dan keduanya seperti sebuah pelukan yang menemani saya dalam melakukan perjalanan rasa hingga semua sensori bekerja, sembari melompati waktu yang tidak beraturan. Karena bukankah cerita yang paling pahit pun selalu layak untuk dibagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *