Cerita dari d’hook : Hujan Hingga Head Bang di Parade Akustik

Cerita dari d’hook : Hujan Hingga Head Bang di Parade Akustik

Artikel dan Foto : Rizza Ramdhani

HujanMusik!, Bogor – Sejujurnya saat ini saya tidak tahu mau menulis apa. Otak saya seolah beku, kurang nutrisi. Proyeksi yang sudah diramu dari awal berjalannya HujanMusik! pun menguap. Blank.

Tapi kemudian, rekan saya Anggit membagikan tulisan terbarunya di grup HujanMusik!. Dia bernarasi tentang A Curious Voynich, unit post hardcore yang didengarnya baru-baru ini. Ah, Anggit memang pandai memotivasi. Bahkan hanya dengan membagikan tulisan saja, bisa membuat saya buru-buru menambah kecepatan nalar dalam bekerja. Dan mujarab, seketika saya ingat kalau hari ini “d’hook Parakustik” digelar.

Singkat cerita, saya sampai di Kedai d’hook sore hari, dan hei, ada Graditio sedang memainkan mixer di sana. Acara yang seharusnya dimulai jam 15:00 itu molor karena peserta yang akan tampil belum lengkap. Ditambah, Bogor sedang menjadi dirinya sendiri, hujan sangat lebat disertai angin mengguyur venue acara, bahkan seluruh kawasan Bogor.

Hujan mulai reda dua jam kemudian. Ketika sedang menyiapkan alat, tiba-tiba Erick, salah seorang panitia nodong saya untuk jadi pembawa acara (MC) dan saya pun mengiyakan. Siapa tahu di masa depan saya bisa jadi MC di Woodstock, arena di mana Speaker First mengibarkan bendera Indonesia untuk kali pertama.

“D’hook Parakustik” didesain oleh Antawali Production atas permintaan pemilik cafe di bilangan Ciwaringin tersebut. Ajang kompetisi ini bertujuan untuk menemukan home band yang akan bermain reguler di d’hook. Kebanyakan, band yang datang hari itu berasal dari komunitas pelajar di Bogor.

Secara umum, band-band itu tidak berada di level istimewa. Tapi ada satu kelompok yang menamakan dirinya Rising, yang cukup menyita perhatian saya dan pengunjung d’hook lainnya. Mereka memainkan lagu-lagu wajib dengan aransemen unik dan mengkombinasikan berbagai genre musik. Seingat saya sedikitnya ada enam jenis musik dalam satu lagu yang dibawakan.

Rising membedah dan merombak musik tanpa tedeng aling-aling. Misalnya pada lagu “Indonesia Pusaka”. Komposisi racikan Ismail Marzuki yang sejatinya bertempo lambat dan mendayu-dayu, disulap menjadi enerjik dengan balutan musik rock and roll, funk, pop, bossanova, metalcore, bahkan penggalan dari lagu “Spain” milik Al Jarreau diselipkan di antaranya.

Menariknya lagi, meski format parade kemarin adalah akustik, mereka menambahkan sedikit koreo dan gimmick dalam aksinya. Head bang ala Lamb of God sering dilakukan band yang personilnya gabungan dari SMA Negeri 7 dan SMA PGRI 4 Bogor tersebut. Ada juga saat mereka mereplikasi gaya The Tielman Brothers yang atraktif. Sangat terlihat band muda ini dikonsep dengan baik. Untung saja gitarisnya tidak melakukan guitar spin ala Justin Shekoski dari Saosin.

Kekurangan Rising hanya dalam perbendaharaan lagu saja. Dan itu, saya pikir, akan dapat diperbaiki seiring jam terbang yang terus meninggi.

Parade ini menjadi semacam oase di tengah keringnya acara musik yang berbau festival. “Parakustik” sendiri akan berlangsung sampai tanggal 26 Agustus mendatang. Semoga nanti, akan ada lagi band seperti Rising. Atau mungkin lebih dahsyat.

Di sana, saya juga bertemu dengan Tono, personil unit metalcore Life Again, band Bogor yang cukup senior. Ada juga Leni, pemilik label Venmara yang merilis grup vokal Aina. Cerita tentang mereka akan saya bagikan lain waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *