Beda Kadar Tak Berarti Mati Suri

Beda Kadar Tak Berarti Mati Suri

Artikel dan ilustrasi : Graditio

HujanMusik!, Bogor – “Haaah akhirnya sampai juga..” itu reaksi pertama saya sesampainya di sebuah surga kehangatan yang berlokasi di negara bagian new land (Tanah Baru, -red). Kelegaan yang mendamaikan sesaat setelah di Rumah Kopi Nuland, mengingat apa yang sudah terjadi. Saya mengawali kunjungan dengan proses panjang sejak kaki ini melangkah, menggiring saya untuk mengambil motor peninggalan ayah, dan selekasnya menembus hujan demi diskusi berkelas. Ya… materi seputar “skena underground Bogor” memang menarik minat saya sejak masa remaja.

Malam itu di Rumah Kopi Nuland sudah ada Rizza dan kang rocker (panggilan saya untuk Husni Mubabrok). Dari tempat parkir, saya sudah bisa menebak, mereka ini rupanya satu angkatan dan “pergaulan”. Sejenak ada keraguan dalam pikiran saya, akankah ini menjadi pertemuan yang canggung? Ternyata tidak.

Setelah masuk, saya disambut senyum lebar dari Mr. Chuby. Saya mengenalnya sebagi Adhit, jika pernah dengar nama Defence Mind, beliau-lah vokalisnya. Selintas T-Shirt berwarna kuning terang yang bertuliskan fakeculture yang dikenakan kang Lusdi (ex guitarist Marra) menyita perhatian, sebelum tangan dengan tone sawo matang mengajak berjabat tangan. Tak disangka sangka itulah tangan dari Mr. Handoyo, drummer berisik dari superiots… Wow.

Di tengah perbincangan yang hangat, Peloy, sapaan akrab untuk Arief Wijaya Kusuma, penggiat Kick it Record mendadak muncul. Kick it Record adalah label lokal yang telah berhasil meluncurkan beberapa rilisan karya band Bogor seperti Heaven In, Topi Jerami, The Kuda, Scowled Dislike, Impact, Weft, dan The Mentawais.

Perbincangan terus menghangat, sebenarnya saya lebih banyak menyimak nostalgia skena underground masa itu. Seolah terjebak dengan nostalgia, kami tidak henti-hentinya membicarakan dan membandingkan apa yang terjadi dulu dengan apa yang sedang terjadi sekarang di scene tersebut.

Memang terdengar tidak adil dan sedikit kasar jika selalu membandingkan “dulu dengan sekarang”, tapi gimana lagi. Sejujurnya saya merindukan nuansa masa itu. Ya… rindu di mana Bogor tempat saya lahir, punya atmosfirnya sendiri, punya artisnya sendiri, dan kami bangga akan keberadaan mereka. Nuansa kerinduan yang juga diamini kang Denda (owner Mylo barbershop).

Lalu di sela perbincangan, kami pun team dari hujanmusik.id diajak untuk melihat fakehero recording studio, yang berada tepat di belakang Rumah Kopi Nuland.

Dari sinilah kenyataan terkuak. Ternyata apa yang saya anggap “mati suri” tentang skena musik underground Bogor, harus segera saya ralat. Saya melihat sendiri daftar band yang tengah memproduksi karya di fakehero studio. Tanpa banyak publikasi, rupanya ranah skena ini tetap bergerak.

Bukti salah cap “mati suri” lainnya adalah tetap eksisnya studio rekaman dan label lokal yang masih survive hingga hari ini, detik ini, bahkan sampai kalian membaca tulisan ini. Sebut saja kick it, tromagnon, fakehero atau hujan! Record. Rilisan mereka terus mucul menghidupi atmosfir musik di Bogor. Sampai disini saya terhenyak. Ya, saya bangga dan salut dengan keberadaan mereka.

Beda kadar, mungkin demikian tepatnya.  Kadarnya saja yang berbeda antara dulu dan sekarang. Mereka tidak sedang suri atau hilang, mereka tetap bergerak dengan kadar yang disesuaikan dengan peradaban. Gigs tetap rutin ada dengan berbagai caranya. Tak harus dengan venue besar, ruang studio pun jadi, malah mampu memunculkan kehangatan. Kedekatan audiens dengan band jadi tumbuh dan memangkas jarak. Itu nilai plus yang terjadi, dimana kekompakan sangat terbangun diantara penggiat scene musik Bogor.

Salah satu acara yang sudah berlangsung dengan konsep small venue di dalam studio adalah “Small Show Great Friends”. Dan coba tebak, gelaran ini sudah berapa kali mereka langsungkan? Acara ini telah berlangsung di edisi nya yang ke #10. Itu pula alasan saya harus segera menggugurkan kalimat “mati suri”.

Mereka masih besar sampai hari ini, mereka tampil dengan idola-idola baru mereka di masa kini. Tak hanya itu, mereka juga berhasil membawa konsep baru yang turut mewarnai skena underground dan musik indie Bogor. Kini skena Bogor ramai dengan warna semacam The Kuda, Texpack, dan yang baru saja rilis EP, The Mentawais (baca artikelnya di halaman lain hujanmusik.id).

The Kuda secara mengejutkan muncul di halaman rollingstones.co.id. Selain di Bogor, jejak pertunjukan mereka banyak terpecik di panggung-panggung Ibukota. Texpack dengan nuansa indie rock mereka, selanjutnya dengarkan irama pantai di albumnya The Mentawais, dan mereka semua terlahir di Bogor.

Haaaaah… lega rasanya telah berhasil berbincang dengan para pelakon musik underground dan indie Bogor, mereka berhasil memuaskan rasa penasaran saya terhadap kota kecil yang sangat hangat ini. SEGAN untuk kalian.

Karena kami hidup di masa kekinian, selepas pertemuan pun kami tutup dengan sesi foto bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *