Tentang Sandra Fay, Alam, dan Hasrat Manusia

Tentang Sandra Fay, Alam, dan Hasrat Manusia

Artikel dan Foto Rizza Ramdhani

HujanMusik!, Bogor – Satu hari, saya tergoda untuk membaca berita bertajuk “Eco Music Camp 2016 Siap Digelar”. Setelah link terbuka saya malah terkejut, rupanya Eco Music Camp (EMC) merupakan hajatan musik berkelas yang digaungkan panitianya sebagai event kolaborasi seniman lokal dan internasional. Lebih shock lagi, ternyata venue pagelaran besar itu berada dekat rumah. Sebagai ‘anak kampung sini’, sudah pasti saya merasa kecolongan.

Setelah kasak-kusuk sana-sini akhirnya saya berhasil mendapatkan kontak panitia penyelenggara. Basa-basi sedikit dan voila….saya berhasil mendapat izin meliput.

Setiba di sana, saya tak sendiri, ada juga rekan Anggit yang memiliki keterkejutan yang sama. Lalu  bertemulah kami  di Bumi Perkemahan Sukamantri, venue EMC pada hari kedua acara terselenggara. Sengaja kami memilih hari kedua, karena kami mengincar beberapa musisi yang tampil di waktu itu.

Saya sendiri memiliki kekaguman dan berhasrat bisa ketemu Sandrayati Fay, sementara Anggit yang saya tahu selera musiknya itu-itu saja, rupanya memiliki ketertarikan maha sangat pada penampilan duet Reza Achman dan Anda dalam Matajiwa.

Target tercapai begitu bisa mewawancara sekaligus foto bareng Sandrayati Fay, itu sudah cukup membuat saya puas. Tapi…begitu memaparkan pandangan menyeluruh saya merasa ada yang disayangkan dari acara ini.

Dalam imaji saya, EMC akan jadi semacam Berghaus Mountain Festival yang padat dengan kegiatan alam, live music, hingga diskusi berkelas. Atau setidaknya mendekati Jazz Gunung yang menawarkan atmosfer menantang sekaligus menyenangkan.

Pada kenyataanya, EMC terasa kurang greget, padahal konsep yang ditawarkan sangat menarik. Sesuai dengan namanya, EMC merupakan kombinasi dari pagelaran musik berbagai genre, workshop, olah jiwa, dan tentu petualangan alam bebas. Tapi seperti ada yang hilang di antara semua itu.

Kami berdua sepakat bahwa event tersebut tidak dipersiapkan dengan cukup baik. Padahal dari sisi pengisi acara terdapat musisi, aktivis lingkungan, pegiat yoga dan seniman dari berbagai negara. Belum lagi maestro panggung sengaja didatangkan dari Brazil. Sayangnya, dalam rundown kami tak menemukan satu pun penampil lokal (Bogor) hadir di sana.

Franky Raden, orang yang paling bertanggung jawab atas Eco Music Camp mengatakan bahwa EMC didasari oleh semangat menjaga keseimbangan alam dan mempromosikannya melalui pertunjukan seni. Dan kali itu EMC memang dipersiapkan secara maraton dengan waktu yang sangat singkat sehingga wajar bila masih banyak kekurangan.

Apapun itu, Eco Music Camp yang selalu mengusung misi besar berkaitan dengan alam dan seni, dalam setiap helarannya terasa hambar. Cara memandang sebuah masalah harus dilakukan secara holistik, dan semua kegiatan EMC terkesan ilusif karena tidak ada sesuatu yang mengikat antara penyelenggara, seniman, penikmat, dan alam.

Pun, setelah kegiatan selesai, tidak ada efek signifikan yang terasa selain kebahagiaan semu bertemu Sandrayati Fay yang malam itu sukses menuntaskan penampilannya dengan apik.Akhirnya terbersit sebuah tanya, apa persamaan antara Sandra, alam, dan hasrat manusia?

Semuanya indah, menggoda, dan sayangnya itu ilusi. Setidaknya menurut saya begitu….

Ini bukan penghakiman, hanya sebuah review, refleksi atau apalah dari sebuah rutin yang digelar setiap tahun. 2017? Saya tak tahu bagaimana cerita EMC 2017 di Subang. Semoga terkaan saya salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *